Kerja Sampingan

Suara riuh mesin kendaraan bermotor, sahut-sahutan klakson, beserta asap ngebul bus memang telah menjadi sahabat ibukota. Lebuh kota ini bahkan sudah dinodai polusi bahkan sejak pukul enam pagi. Jam segini udara sudah tak lagi perawan. Oh sungguh menderita kotaku. Namun, di antara keadaan itu toh masih banyak yang bahagia. Buktinya, mobil-mobil semakin merambahi jalanan ibukota. Apa itu namanya tidak bahagia kalau punya mobil dan jadi orang kaya? Tidak seperti aku yang pagi-pagi sudah harus mengejar-ngejar bus kota.

Bus kota ini menuju ke arah Kuningan, tempat aku harus menukarkan lelah dengan uang semata. Bus kota inilah yang mengantarkan aku menuju sebuah mall untuk bekerja. Aku adalah pasukan berkemeja biru yang kerap membawa pel dan sapu.

Pekerjaan ini sungguh menyebalkan. Bagaimana tidak, bayangkan betapa melelahkannya ketika seorang cleaning service harus mengepel lantai berkali-kali yang selalu dilewati orang-orang. Aku harus menjaga agar keramik lantai itu selalu mengilap dan orang-orang bisa melihat bayangan diri mereka layaknya ketika mereka sedang bercermin. Mengepel akan semakin menyebalkan jika orang-orang dengan seenaknya berlalu lalang di lantai yang sedang aku pel. Lebih parahnya lagi, mereka yang berlalu lalang tidak mengucapkan “permisi” atau setidaknya mengucapkan “maaf ya, Mas” ketika aku sedang mengepel.

Tidakkah kalian bisa memahami kenapa aku sebal begini? Itu karena seolah aku tak dihargai sepantasnya. Kerja mengepel setiap saat, tapi yang didapat cuma ceplakan jejak manusia-manusia angkuh tanpa permisi. Soal gaji, ah jauh dari mencukupi.

Pagi hari ini, di dalam bus kota, aku tak dapat menahan peluhku yang terus menerus bercucuran dari pori-pori. Keringat begitu beringas keluar ketika panas mulai merangsangnya, lalu mengalir menekuri sekujur tubuh. Padahal, pagi tadi sebelum berangkat aku sudah mandi. Akan tetapi, tetap saja bus kota paling juara menghadirkan sauna gratis pagi hari.  Bau parfum yang tadi kupakai sekarang telah menjelma semerbak menjadi bau aneh campuran parfum, keringat sendiri, keringat orang lain, ya bau khas bus pokoknya.

Bagian punggung kemeja coklatku basah oleh keringat. Oiya, setiap pagi ketika berangkat ke kantor, aku selalu berpenampilan rapi dengan memakai kemeja. Sesampainya di kantor barulah aku mengganti kemejaku dengan seragam cleaning service-ku.Ya tak ada salahnya seorang cleaning service rapi sedikit. Lagipula aku malu mempertontonkan seragam biruku. Toh tak cuma aku yang begini. Beberapa orang biasanya juga menutupi seragam kerjanya dengan jaket. Contohnya para kasir minimarket, SPG. Ya mereka menutupi identitas pekerjaannya karena memang tak ada yag dibanggakan, sama seperti aku.

Beralih kembali ke bus kota. Anda yang sering bepergian naik bus kota sudah sepatutnya berhati-hati karena banyak kawanan pencopet ulung yang melancarkan aksi-aksinya di bus kota. Anda tidak boleh lengah dengan barang bawaan anda yang berharga. Jika dompet atau handphone Anda raib atau lebih tepatnya pindah tangan, hal itu bukan sepenuhnya kesalahan pencopet. Hal itu juga merupakan kesalahan Anda yang telah lengah menjaga barang bawaan Anda.

Aku tahu betul ciri-ciri dan gelagat para pencopet yang ada di bus kota ini karena sudah lima tahun aku berangkat kerja dengan menaiki bus kota ini. Lima tahun pula aku menjadi cleaning service dan tidak pernah naik pangkat. Memangnya mau naik pangkat menjadi apa? Master cleaning service?

Biasanya, para pencopet itu terdiri dari tiga atau empat orang. Ada juga yang cuma berdua. Tapi kalau sendiri saja jarang. Semuanya adalah laki-laki, biasanya. Para pencopet itu biasanya berpakaian rapi bahkan ada yang mengenakan kemeja serapi dan sebagus kemejaku.

Di dalam bus kota itu, aku melihat ada pencopet yang berdiri kira-kira satu meter dari tempatku berdiri di bagian belakang bus. Pencopet itu merogoh kantong celana seorang siswa SMA yang berdiri tepat di sampingnya. Menyembul dari kantongnya sebuah ponsel anyar. Ponsel itu berhasil direbut tangan pencopet itu. Betapa mahirnya ia, sampai-sampai siswa itu tidak menyadari kalau ada yang merogoh kantong celananya.

Bisa saja aku meneriaki pencopet itu, “copet!”. Namun, jika hal itu aku lakukan nanti aku yang terancam berurusan dengan pencopet itu. Maka dari itu, aku lebih baik diam dan pura-pura tidak tahu. Lebih baik menyelamatkan barang-barang milik sendiri daripada mengurusi orang lain yang kena copet. Jakarta memang ibukota yang individualis. Urusi saja urusanmu sendiri. Tak usah mengurusi urusan orang lain jika memang tidak berdampak apa-apa bagimu.

Selain pencopet yang berdiri di samping siswa SMA itu, masih ada pencopet yang berdiri di bagian pintu bus depan. Saya tahu betul bahwa copet kedua itu juga sedang menerkam mangsanya dengan sembunyi-sembunyi.

Ketika aku sedang asik memperhatikan gerak-gerik para pencopet itu, tiba-tiba ada seorang wanita muda yang umurnya kira-kira 20-an mungkin. Ia memakai blazer dan rok selutut. Lalu, tas kulit berwarna hitam menggantung di tangan kanannya. Aku jadi membayang seandainya saja ada copet yang berdiri di sampingnya. Kemudian copet itu menyilet tas kulitnya dan mengambil barang-barang berharga di dalam tasnya. Ah, yang ada di sampingnya kan aku.

“Mas, numpang tanya, Slipi masih jauh ya dari sini?” Tanyanya.

“Oh iya masih jauh, Mbak. Nanti tanya sama kernetnya aja, Mbak.” Jawabku.

“Makasih ya, Mas.”

“Ongkos, ongkos…”, kernet di bus kota itu menagih ongkos penumpangnya. Setelah melewatiku, kernet itu menuju ke arah copet yang berada di samping siswa SMA itu. Copet itu segera menyingkir, menuju ke bagian pintu depan bus kota. Copet yang satunya lagi menuju pintu belakang bus kota dan bersiap untuk turun. Di saat yang bersamaan aku juga harus turun dari bus kota. Aku menuju pintu belakang bus kota. Aku turun dari bus kota itu, meskipun aku belum seharusnya turun karena belum sampai kantorku. Lalu mengapa aku turun?

“Agus! Boim! ”, sahutku memanggil dua orang pencopet itu.

“Hey, dapat apa lu?” Tanya Boim kepadaku

“Gua dapat dompet dan handphone perempuan itu. Tadi gua silet tasnya.”

“Wah gua lagi beruntung! Gua dapat handphone mahal milik anak SMA itu. Padahal baru kemarin dapat handphone bagus dijual dapat sejuta” Sambung Agus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s