Protes Sebuah Nol

Ketika yang disebut orang-orang sebagai kekosongan akhirnya berbicara…

Aku tak pernah menamai diriku dengan sebutan “nol”. Aku pun tak pernah mengganti namaku dengan sebutan “kosong”. Orang-oranglah yang menyebutku begitu. Untuk itu, tak salah jika aku menyalahkan mereka karena mereka telah membuatku merasa tak berarti. Sudah terlalu lama aku terombang-ambing mengikuti kemauan orang-orang yang menyebutku begini dan begitu. Namun, dengan menyebut diriku sebagai “kosong” telah mem buat diriku tersakiti karena seolah-olah keberadaanku tak bernilai di dunia ini.

Aku adalah sebuah “0”. Namaku nol karena kesepakatan orang-orang menyebutku begitu. Kesepakatan orang-orang itu telah membuat penyebutanku menjadi benar adanya bahwa diriku bernama nol. Ya, aku menerima namaku itu. Aku pun menjadi bagian dari angka-angka. Namun, telah lama aku mendengar bahwa orang-orang menyebutku dengan nama lain yang sebenarnya itu bukanlah namaku. Mereka menyebutku “kosong”. Aku, sebuah “0”, mengapa disebut-sebut dengan julukan “kosong”.

Aku dengar ketika orang-orang menyebutku ketika membacakan nomor telepon seperti: “Nomor gue 08134506770 (kosong delapan satu tiga empat lima kosong enam tujuh tujuh kosong).” Lalu, menyebutkan ruangan seperti “aku di 4101 (empat satu kosong satu).” Masih banyak contoh kasus lain yang tak mau aku jabarkan karena malah akan membuatku semakin kesal. Hey, namaku “nol” bukan “kosong”.

Tentunya orang-orang tahu bahwa kosong itu tidak bernilai, tidak berguna, dan tidak berpengaruh apa-apa. Bagiku, kosong adalah sesuatu yang tidak berisi. Namun, diriku bukan sesuatu yang tidak berisi dan tidak bernilai seperti apa yang mereka bilang “kosong” itu. Aku adalah “nol” yang sangat bernilai, berisi, dan berarti. Angka 1 tidak akan bernilai sejuta jika tidak diiringi oleh enam buah 0. Akulah yang membuat angka 1 yang hanya sebatang lidi itu menjadi begitu bernilai. Angka 1 akan terhenti sampai angka sembilan jika aku tak rela menyertai diriku di samping angka 1 hingga kami dapat menjadi angka 10 dan menghasilkan deretan angka berikutnya. Jadi, jika tak ada aku sebagai penyambung deret angka maka tidak ada deret angka hingga bertrilyun-trilyun.

Apa lagi yang harus aku lakukan untuk membuktikan bahwa kehadiranku begitu berarti? Sebuah himpunan dalam ilmu matematika pun masih rela memasukkan aku sebagai anggotanya. Maka dari itu, ada yang dinamakan himpunan nol yang berwujud {0}. Berbeda dengan himpunan kosong yang seperti ini: { }. Dapat dilihat bukan bahwa himpunan kosong tak berisi anggota? Tidak ada “sesuatu” yang mengisi himpunan tersebut. Lain dengan himpunan nol yang memasukkan diriku di dalamnya. Itu membuktikan bahwa diriku adalah berwujud bukan tidak berwujud alias “kosong”.

Rasanya pembuktianku cukup untuk menyadarkan orang-orang agar mereka dapat menyebutku dengan nama yang benar. Penutur bahasa Inggris saja tidak pernah menyebut “0” dengan nama “empty”, melainkan menyebut dengan nama “zero”. Setidaknya mereka masih menganggapku sebagai sesuatu yang berwujud dan memiliki nilai.

Mungkin sebagian dari orang-orang meremehkan perkara ini. Akan tetapi, ini adalah perkara sebuah nama. Coba bayangkan jika misalnya nama kalian Tuti, lalu ada orang yang memanggil kalian dengan nama Sutejo. Memangnya kalian tidak kesal? Intinya, aku hanya ingin orang-orang menyebutku dengan nama yang benar, yaitu “nol”. Bagiku, nama mengandung makna untuk mengidentifikasikan sesuatu. Jika kalian menyebutku dengan “kosong” maka kalian telah salah mengidentifikasikan aku. Tega sekali kalian begitu.

Aku hanya ingin kalian menyebut namaku dengan benar. Aku tidak mau kalian menyebutku dengan sebutan yang salah seperti “kosong”. Aku takut jika kalian sudah terbiasa melakukan yang salah maka kalian akan menganggap yang salah itu menjadi sesuatu yang biasa yang nantinya akan kalian benarkan. Itu saja pesanku. Aku sangat berharap kalian menyebut namaku dengan benar. Terima kasih atas pengertiannya terhadap makna namaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s