Tradisi Penyalinan dan Pembacaan Naskah Sastra Melayu Betawi

Bahasa Melayu mempunyai sistem ejaan dengan huruf Arab. Sekitar abad ke-19, muncullah  sastra tulis dengan huruf Arab. Naskah  karya sastra ditulis tangan dengan huruf Arab berbahasa Melayu. Karya sastra seperti ini disebut sebagai sastra naskah. Penulisan karya sastra dengan huruf Arab terus berlanjut sampai dikenalnya mesin cetak huruf Latin yang membuat huruf Arab mengalami kemunduran.

Sastra Betawi lahir bersamaan dengan sastra Melayu  umum atau sastra Melayu klasik. Yang dimaksud sastra Melayu Betawi adalah karya sastra berbahasa Melayu dengan menggunakan huruf Arab yang ditulis di wilayah Betawi oleh orang Betawi.

Karena dulu belum ada mesin cetak, pemilikan naskah berlangsung dari tangan ke tangan. Penulis mengambil contoh pada Syair Damar Wulan. Penyalin pertama syair tersebut bernama Djakaria yang tinggal di Kampung Belandongan. Untuk itu, pemilik pertama syair tersebut adalah Djakaria. Kemudian, syair itu berganti kepemilikan. Pemilik selanjutnya adalah Abdul Hadi dari Kampung Kebon Baru. Abdul Hadi menyalin naskah tersebut pada tanggal 2 Mei 1868, sesuai yang tertulis di dalam naskah syair tersebut. Terakhir, kepemilikan syair itu jatuh pada Rahimun dari Kebon Jeruk. Jadi, naskah dapat dimiliki oleh beberapa orang yang menyalinnya.

Hadirnya karya sastra Melayu Betawi yang ditulis tangan dengan huruf Arab ini menambah kekayaan seni bagi masyarakat Betawi. Untuk itu, masyarakat pun berusaha dengan berbagai cara agar kekayaan seni Betawi tetap melekat di masyarakat. Cara yang dilakukan masyarakat dalam menjaga kelestarian sastra Betawi diwujudkan dalam tradisi penyalinan dan pembacaan karya sastra Betawi.

 

Tempat Penyalinan: Sumber Pelestarian dan Sumber Penghasilan

Keberlangsungan naskah sastra Melayu Betawi tak luput dari kontribusi tempat-tempat penyalinan yang tersebar di Jakarta. Tempat penyalinan di Jakarta ada yang bersifat resmi dan bersifat komersil. Tempat penyalinan juga menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. Masyarakat yang memiliki tempat penyalinan yang bersifat komersil, atau lebih dikenal dengan taman bacaan, menggantungkan penghasilannya dari penyewaan naskah.

Bagi orang Jakarta, siapa yang tak kenal Museum Fatahillah? Museum yang terletak di bilangan Kota tersebut dulu adalah tempat penyalinan naskah yang bernama badan Algemeene Secretarie. Paruh pertama abad ke-19, ketika masa pemerintahan Gubernur van der Capellen di Batavia, dilakukan usaha penyalinan naskah dengan mendirikan badan Algemeene Secretarie. Badan tersebut dibuat untuk menyalin naskah yang ditujukan kepada pejabat pemerintahan Hindia Belanda. Naskah-naskah tersebut disalin untuk kepentingan pembelajaran bahasa Melayu bagi kaum pemerintahan Hindia Belanda. Dengan kata lain, Algemeene Secretarie adalah tempat penyalinan naskah yang bersifat resmi karena menyangkut kepentingan pemerintahan dan pembelajaran.

Kini, di Museum Fatahillah, tempat badan Algemeene Secretarie, tidak lagi kita temukan bermacam-macam naskah hasil penyalinan. Yang tertinggal hanyalah lemari besar tempat menyimpan naskah. Naskah-naskah yang disalin di Algemeene Secretarie kini telah dipindahkan ke Perpustakaan Nasional. Tidak semua naskah di Algemeene Secretarie terdokumentasi di Perpustakaan Nasional. Sebagian naskah ada yang dibawa oleh Belanda yang beberapa terdokumentasikan di Perpustakaan Leiden, Belanda.

Selain tempat penyalinan yang bersifat resmi, ada pula tempat penyalinan yang bersifat komersil. Di Jakarta, banyak terdapat tempat penyalinan yang ditujukan untuk menyewakan naskahnya ke masyarakat. Tempat penyalinan dan penyewaan naskah tersebut biasa disebut sebagai taman bacaan. Di Jakarta, taman bacaan banyak tersebar, antara lain di Kerukut, Pecenongan, Kampung Jawa, Kampung Pluit, Sawah Besar, dan Tanah Abang. Naskah-naskah yang ada di taman bacaan tersebut disewakan dengan harga 10—15 sen per malam dan juga dijual dengan harga kurang lebih 5 gulden. Jadi, para pemilik taman bacaan tersebut hidup dengan mengandalkan penghasilan melalui taman bacaan tersebut.

Para pemilik taman bacaan tersebut biasanya perempuan, terlebih lagi seorang janda. Mereka yang sudah tidak bersuami mengandalkan penghasilan melalui penyewaan naskah. Contoh perempuan-perempuan yang memiliki taman bacaan antara lain Mak Kecil dari Kampung Tambora, Mak Pungut dari Kampung Pluit, dan Nyonya Sawang dari Kerukut.

Seiring dengan berjalannya waktu, tradisi penyalinan naskah pun lama kelamaan mengalami kemunduran setelah adanya mesin cetak huruf latin.

 

Keluarga Fadli sebagai Pemilik Perpustakaan Rakyat

Keluarga Fadli dikenal melalui sumbangsihnya dalam dunia penyalinan naskah. Keluarga Fadli memiliki taman bacaan (tempat penyalinan dan penyewaan naskah) yang dikenal dengan nama Perpustakaan Rakyat atau Perpustakaan Fadli. Perpustakaan tersebut berada di daerah Pecenongan, tepatnya di Kampung Langgar Tinggi.

Anggota keluarga Fadli yang memiliki keterampilan dalam penyalinan naskah adalah Safirin bin Usman bin Fadli beserta putra-putranya, yaitu  Ahmad Insab, Ahmed Mu’arrab, dan Ahmad Beramka. Selain itu, juga terdapat saudara dari Sapirin yang juga terampil dalam menyalin naskah, yaitu Sapian bin Usman bin Fadli. Anak Sapian yang bernama Muhammad Bakir pun mewarisi keterampilan ayahnya dalam penyalinan naskah. Muhammad Bakir dan ketiga saudaranya aktif dalam proses menerjemahkan, menyadur, dan menyalin. Mereka memiliki 76 judul naskah yang juga terdapat di Leiden dan Leningrad. Muammad Bakir sendiri tinggal di Pecenongan, Kampung Langgar Tinggi. Ia aktif dalam kegiatan penyalinan pada kurun waktu 1884 hingga 1906. Naskah-naskah yang dimiliki keluarga Fadli antara lain Hikayat Garebag Jagat, Hikayat Panji Semirang, dan Syair Cerita Wayang.

Berdasarkan napak tilas yang dilakukan oleh penulis ketika mengunjungi bekas Perpustakaan Fadli di Langgar Tinggi, terlihat kini perpustakaan tersebut tinggal berupa bangunan  tua. Tak ada lagi naskah-naskah di sana. Naskah-naskah tersebut tersebar di berbagai tempat, mulai dari Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Leiden, dan sebagainya. Tempat itu kini menjadi musala bagi para pedagang.

 

Tradisi Karya Sastra dengan Tradisi Pembacaan Karya Sastra Melayu Betawi

Seperti yang dijelaskan sebelumnya,  di Jakarta banyak terdapat taman bacaan yang menyewakan naskah. Sebenarnya, naskah yang disewa itu pada umumnya tidak untuk dibaca sendiri, melainkan dibaca oleh seseorang di hadapan masyarakat banyak. Inilah tradisi pembacaan karya sastra Betawi. Ada satu orang yang membaca, yang lain mendengarkan. Sebenarnya, tradisi pembacaan cerita ini tidak hanya berkembang di Jakarta. Di Jawa, tradisi seperti ini disebut “macapat”. Kemudian, wilayah Lombok menyebutnya dengan “mabasan”. Biasanya, karya sastra yang terkenal untuk dibacakan adalah Hikayat Amir Hamzah.

Selain karena memang telah  menjadi tradisi, pembacaan naskah sebenarnya dilakukan juga karena tidak semua orang dapat membaca huruf Arab. Di sisi lain, mereka yang tidak dapat membaca huruf Arab tetap membutuhkan hiburan. Untuk itu dilakukanlah pembacaan karya sastra Melayu Betawi.

Melekatnya tradisi pembacaan karya sastra Melayu Betawi di masyarakat tercermin dari penggalan  novel Nyai Dasima versi G. Francis (1896). Diceritakan bahwa ketika Samiun hendak membunuh Nyai Dasima, ia merayunya dengan mengajak Nyai pergi menonton cerita Amir Hamzah. Hikayat Amir Hamzah memang terkenal dalam pembacaan karya sastra Melayu Betawi.

Seiring dengan perkembangannya, tradisi pembacaan karya sastra Betawi ini kemudian kita kenal dengan nama “sahibul hikayat”. “Sahibul hikayat” merupakan seni pertunjukan pembacaan cerita sastra Betawi yang hingga saat ini masih dilangsungkan dalam masyarakat Betawi. Seorang dalang “sahibul hikayat” yang terkenal adalah H. Sofyan Zaid.

Selain tradisi penyalinan naskah, tradisi pembacaan karya sastra Betawi yang di masyarakat Betawi disebut “sahibul hikayat” ini memberikan kontribusi bagi kelangsungan sastra Betawi di masyarakat. Sastra Betawi begitu melekat di dalam diri masyarakat.

 

*tulisan ini dibuat berdasarkan hasil dari napak tilas penulis (wisata sejarah) ke tempat-tempat yang berkaitan dengan tradisi penyalinan naskah sastra Melayu Betawi dan juga dibantu oleh rujukan dari buku Bunga Rampai Sastra Betawi yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta tahun 2002.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s