Foto Eksis Di Stasiun

Kira-kira satu bulan yang lalu…

Seusai berkutat di subbagian akademik untuk mengurusi proses permohonan ijazahku, aku pun segera meluncur pulang. Kusegerakan langkahku menuju stasiun yang berada di dekat kampus. Sampai di stasiun aku tak perlu lagi beli karcis kereta tujuan Depok–Jakarta Kota karena aku menggunakan kartu abonemen yang jatuhnya lebih murah. Kulanjutkan langkahku menuju peron Jakarta.  Tak lama kemudian, terdengar suara khas om-om yang terdengar dari pengeras suara untuk mengumumkan informasi keberangkatan kereta. “Ding ding ding ding… kereta tujuan Jakarta Kota persiapan berangkat dari stasiun Depok Baru. Para Penumpang harap bersiap-siap dan jaga barang bawaan bawaan anda.” Alhamdulillah aku tak perlu menunggu kereta lama-lama. Tas ransel pink peach-ku yang semula tergantung di bagian belakang tubuhku kini kuputar hingga berada di bagian depan tubuhku. Clear holder bening yang di dalamnya berserakan pas foto dan dokumen-dokumen permohonan ijazah lulus itu kugepit erat-erat, takut kalau isi yang ada di dalamnya jatuh. Habis clear holder itu FYI, minggu lalu aku baru aja lulus sidang skripsi loh. Nilainya A sempurna! Maaf kalau sedikit narsis, tapi kata orang kalau ada berita baik itu memang harus disampaikan. 🙂 Oke, kini aku tinggal sebentar lagi menunggu kereta datang dan siap menembus kereta yang penuh dengan lautan manusia. Ketika kereka mulai memasuki Stasiun UI dan berhenti tempatku kini berdiri, para penumpang pun mulai menunjukkan geraka-gerakan beringas untuk menjejalkan diri ke dalam kereta yang sudah penuh itu. Semua pun berdesakan seolah secara otomatis semua terdorong masuk ke dalam dan tak bisa menarik mundur langkahnya.

***

Rumah: tempatku melepas lelah setelah seharian mondar mandir mengurus surat-surat pascalulus. Mulai dari minta surat permohonan ijazah, laporan bukti skripsi di perpustakaan, hingga cetak pas foto dan fotokopi dokumen ini itu. Di kamar, kurapikan kembali dokumen-dokumen yang tak beraturan berjejalan di clear holderku. Kurapikan pula pas foto yang telah berhamburan keluar dari plastiknya. Foto-foto yang aku cetak itu akan aku gunakan untuk keperluan pembuatan ijazah, melamar kerja, dan juga untuk buku tahunan wisuda. Kuhitunglah foto yang tadi aku cetak. Rasanya ada yang kurang. Perasaan tadi gue cetak foto 4×6 sebanyak 4 buah , trus 6×6 2 buah deh. Tapi kenapa foto 6×6-nya ini tinggal satu? Ucapku dalam hati. Kupikir foto itu keselip entah di mana. Kucari-cari ternyata foto itu tidak ada di mana pun. Takutnya jangan-jangan itu foto jatuh di jalan. Terus foto itu disalahgunakan untuk apa gitu, weleeeh bisa berabe urusannya. Namun, dasarnya aku ini mengidap short term memory dissorder, langsung saja seketika pikiran tentang foto itu aku lupakan. Lagian buat apa juga pas foto culun itu diambil orang.

Hari ini…

Sayang sekali, hari penting ini harus dinodai oleh kesiangan yang menyebabkan keterlambatan. Tadi pagi perasaan aku sudah bangun pukul tujuh TENG untuk mengawali hari yang indah ini. Namun, sayangnya setelah sarapan ternyata rasa kantuk kembali menyergap dan merayu mataku untuk mengatup kembali. Sambil menonton acara televisi yang sama sekali tidak penting, kurebahkan diriku sejenak di kasur. Ya, cuma rebahan sebentar. Sayangnya aku kian tak terjaga dan larut dalam tidur hingga pukul sebelas siang dalam kondisi belum mandi. Alhasil, setelah sekadar mandi bebek kusegerakan diriku berangkat dari kosan menuju stasiun kereta api.

Rasanya mandi bebek tadi cuma buang-buang air, tenaga, dan waktu saja. Buktinya kini badanku kembali lepek karena keringat yang aku keluarkan pasca maraton dari kosan menuju stasiun. Ah apa pula ini aku hendak interview tapi kucel begini. Ya sudahlah mau apa lagi, yang penting bisa sampai di stasiun dengan selamat. Kutengok jam berwarna putih yang bertengger dinding loket karcis dengan angka satu sampai dua belas dan dua jarum jam berwarna hitam sebagai penghuninya. Pukul 11.40 waktu Indonesia bagian Barat. Terbesit rasa raguku untuk bisa datang tepat waktu. Ya semoga saja.

Setelah menggenggam sebuah karcis commuter line tujuan Depok–Jakarta Kota, kulangkahkan kakiku menuju peron 2 arah Jakarta. Sebelumnya aku belum pernah ke daerah Thamrin naik kereta nih ceritanya. Jadi, masih ada setitik keraguan kira-kira nanti aku harus turun di stasiun mana. Sebenarnya udah tahu sih katanya aku turun di Stasiun Sudirman untuk menuju ke Thamrin. Tapi, ya sekadar hanya untuk meyakinkan kembali maka aku putuskan untuk bertanya pada mas-mas yang ada di pintu masuk peron.

“Mas, saya mau tanya, kalo mau ke Thamrin turunnya di stasiun mana ya?”

“Oh, mbak turun di stasiun Sudirman aja…. trus (bla bla bla)” Sementara si mas itu berbicara, aku menatap sesuatu di tembok peron yang langsung membuat mataku terbelalak. Omongan mas-mas penjaga peron pun seketika menjadi sayup-sayup terdengar karena fokusku terjebak pada sebuah foto ukuran 6×6 yang tertempel di tembok pintu masuk peron Jakarta itu. Alamak itu foto gue kenapa bisa nempel di situ?!?! Teriakku dalam hati. Kontan aku langsung tersontak dengan kenyataan itu. Ditambah lagi dengan keterangan tulisan “Orang hilang. Nama: Siti Maemunah alias Onah. Di Rawa Pening” yang tertera di secarik kertas di bagian atas foto itu. Pantes waktu itu pas fotonya kurang satu. Ternyata nangkring di sini, beeeehh kambing guling!!!

Oke, dalam waktu beberapa detik saja aku harus berpikir keras mempertimbangkan kira-kira aku cabut atau tidak itu fotonya. Entar kalo gue cabut fotonya si mas-mas penjaga peron akan tau itu ternyata foto punya gue. Tapi kalo gak gue cabut itu fotonya ya mau sampai kapan foto gue eksis di Stasiun UI??? Kalo sampai semua orang mengenali gue bisa gawat. Lebih parahnya lagi kalo buku tahunan UI udah cetak dan terpajang foto gue yang sama dengan foto yang mejeng di dinding ini wah bisa terkenal sealmamater gue. Oke, akhirnya kuputuskan untuk mencabut foto itu.

“Mas, misi deh bentar” Ketika si mas menyingkir dari tembok tempat foto gue bertengger, langsung saja tangan gue menerabas menuju tembok dan menyambar foto itu secepat kilat.

“Kok dicabut mbak? Itu foto mbak?”

“E….bu.. bukaaan, Mas”

“Ooooh tapi kok mirip mbak”

“(no comment)” Aku pun langsung memalingkan muka.

“Itu foto Mbak bukan? Kalo iya ntar saya kasih tahu siapa yang nempel foto itu di sini.”

“Hah, siapa Mas siapa emang.”

“Tuh kan bener itu foto Mbak. Hehe” Sambil meringis dan menampilkan gigi gingsulnya yang amit-amit. Sial gue kena pancing jebakan betmen.

“Yaudah Mas gak usah ngetawain saya, bilang aja siapa yang nempel!” Nada suaraku mulai meninggi.

“sabar, Mbak sabar. Biasa Mbak anak-anak itu yang pada rese nempelin fotonya di sini terus dikasih keterangan orang hilang, hehe” Si mas menjelaskan sambil tertawa simpul. Anak-anak yang dimaksud si masnya pun tak jelas siapa. Boro-boro kenal. Ah BODO AMAT, yang penting fotonya sudah berhasil ada di genggaman tanganku. Tanpa komen apa pun aku langsung pergi dan mempercepat langkahku untuk segera menjauh dari tempat itu. Pasti setelah gue pergi meninggalkan si mas situ, dia langsung tertawa terbahak-bahak (kalo perlu sampai guling-guling sekalian). Huuuaaa maluuuuu gueee. Tapi coba kalo itu foto gak dicabut, mau ditaro di mana muka gue?!?! Di pantat panci?!?!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s