Ampas Pahit Keadilan

Adakah yang mengetahui di belahan dunia bagian mana kita dapat menemukan keadilan? Sesungguhnya, tak pernah ada yang menemukan keadilan sejati di dunia ini. Lalu, buat apa adanya badan hukum yang katanya bertugas mengatur keadilan itu? Rasanya manusia memang tidak dapat mencapai apa yang disebut adil. Untuk itu, meskipun manusia memang tidak dapat mencapai tahap adil, setidaknya manusia berusaha untuk berlaku adil dan menegakkan keadilan.

Mungkin memang keadilan tak memihak orang-orang kecil. Mungkin rakyat kecil hanyalah ampas pahit dari apa yang disebut adil itu di dalam sirkum kenegaraan yang amburadul. Harusnya, proses usaha mencapai keadilan tidak memihak. Namun, pada kenyataannya dikotomi antara si kaya dan si miskin memang ada.

Kali ini, Kholil (51) dan Basar (40) warga Lingkungan Bujel, Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto harus merasakan ampas pahit dari keadilan. Hanya gara-gara mencuri sebuah semangka milik tetangga, mereka terancam hukuman lima tahun penjara. Mereka tak pernah menyangka hanya karena urusan semangka mereka sampai berurusan dengan polisi apalagi dipenjara.

Waktu itu, Kholil dan Basar sedang dalam perjalanan pulang dari rumah saudara mereka. Matahari begitu terik menyengat hingga membuat bulir-bulir keringat sebesar biji jagung terus mengucur dan tenggorokan makin terasa kering. Rasa dahaga ini sudah tak tertahan lagi. Ingin rasanya mereka membeli air mineral. Namun, mereka tidak memiliki uang lebih untuk sekadar membeli air mineral. Akhirnya, mereka pun meneruskan perjalanan yang ditempuh dengan jalan kaki itu.

Sampailah mereka di ladang milik seorang tetangga yang bernama Darwati. Melihat buah semangka yang begitu menyegarkan, mereka tergiur dan berniat mengambilnya barang satu buah saja untuk mengobati rasa dahaga yang dari tadi menyiksa mereka sepanjang perjalanan.

“Bas, coba ambil siji. Dari tadi aku haus tenan. Lumayan buat ilangken haus, Bas.” Perintah Kholil kepada Basar.

Yo wis tak ambil siji

Belum sempat mereka merasakan segarnya semangka itu ketika melewati rongga mulut dan tenggorokan, mereka kepergok oleh keponakan Darwati.

“Maling! Maling!” Kontan keponakan Darwati itu meneriaki mereka maling. Orang seisi rumah Darwati menghampiri ke luar rumah. Beberapa tetangga pun ada yang berhambur ke luar rumah. Dihadapkan kondisi tersebut, Kholil dan Basar panik. Darwati bener-benar naik pitam ketika mengetahui ada orang yang mencuri semangkanya.

Kholil dan Basar dihajar hingga babak belur oleh orang-orang sekitar yang main hakim sendiri. Mereka bukan hakim, tetapi sok menghakimi. Mereka tak tahu apa-apa soal keadilan. Pada kenyataannya saja, seorang hakim betulan pun tak bisa benar-benar berlaku adil, apalagi mereka yang main hakim sendiri. Karena dihajar habis-habisan, gigi Kholil sampai patah dua dan tubuh Basar sempoyongan tak kuat lagi berdiri.

Setelah dihajar habis-habisan, mereka lalu dibawa ke kantor polisi. Di sana mereka dimintai keterangan. Awalnya, pihak kepolisian mengajukan jalan damai kepada kesua belah pihak.. Namun, pihak Darwati tidak mau menempuh jalan damai dan tetap bersikeras untuk memproses kasus ini ke pengadilan.

Hati Darwati sudah benar-benar buta. Hanya karena kasus satu buah semangkanya yang dicuri orang, ia tega menjebloskan dua orang miskin ke penjara. Efek berkelanjutannya adalah itu berarti Darwati sudah mematikan kehidupan dua keluarga miskin. Bayangkan ketika dua kepala keluarga itu dijebloskan di dalam penjara, siapa lagi yang akan bekerja mencari nafkah untuk istri dan anak mereka? Sungguh ironis, hati nurani manusia telah dibutakan oleh tragedi sebuah semangka.

“Sekarang aku ya pasrah. Mau gimana lagi. Lah wong yang punya diajak damai ya ndak mau” Ungkap Basar.

Setelah menjalani proses penyidikan di Mapolsek Mojoroto, keduanya kemudian dilimpahkan ke kejaksaan dan pengadilan untuk disidang. Mereka didakwa melakukan tindak pidana pencurian biasa, dengan melanggar Pasal 362 KUHP dan mendapatkan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Kholil dan Basar beserta keluarga terkejut dengan ancaman hukuman lima tahun penjara yang dilimpahkan pengadilan. Di antara mereka, ada yang matanya berkaca-kaca, ada yang sampai menangis, dan ada yang justru menampakkan muka geram. Istri Kholil dan Basar banjir air mata. Mereka tidak habis pikir bahwa nasib membawa mereka ke dalam keadaan yang begitu menyesakkan ini.

“Aku bingung. Kok orang miskin seperti kita yang hanya karena mencuri sebuah semangka bisa masuk penjara, tapi para koruptor yang nyuri uang negara sampai milyaran hanya dihukum satu dua tahun.” Ujar Basar.

“Mungkin karena kita miskin, makanya kita ndak bisa nyogok polisi dan kejaksaan.” Sahut Kholil.

“Tapi apa adil itu, Lil?”

“Ya ndak lah. Ndak ada manusia yang adil. Yang adil cuma Tuhan.”

Sementara itu, para wartawan berdatangan untuk mendapatkan konfirmasi dari pihak yang bersangkutan. Ketika Jaksa Penuntut Umum (JPU) atas perkara yang menimpa Kholil dan Basar dikonfirmasi, ia mengaku hanya menjalankan tugas yang telah dilimpahkan oleh kepolisian. Ketika pihak kepolisian dikonfirmasi, mereka mengaku hanya menjalankan tugas melayani masyarakat. Ketika Darwati di konfirmasi, ia mengaku bahwa ia hanya ingin menjaga keamanan ladangnya dari tangan-tangan maling dan ingin memberikan pelajaran kepada maling agar kapok. Terakhir, ketika Kholil dan Basar dikonfirmasi, mereka mengaku bahwa mereka mencuri karena keadaan terpaksa. Waktu itu mereka haus sekali dan tak punya uang untuk membeli air. Lantas siapa lagi yang harus dikonfirmasi? Apakah kemiskinan patut dimintai keterangan? Apakah kemiskinan yang menyebabkan semua lingkaran setan ini? Para wartawan bingung. Kita semua pun bingung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s