Tanah Papua, Tanah Tabu

Judul: Tanah Tabu

Penulis: Anindita S. Thayf

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2009

Tebal; 240 halaman

 

Setiap wilayah di tanah air memiliki kekhasan dan identitasnya masing-masing yang terlihat dari budaya, adat, atau tradisi setempat. Semua itu tercipta melalui masyarakatnya yang juga dipengaruhi dengan berbagai aspek lain, salah satunya lingkungan yang menunjang kehidupan mereka. Masyarakat secara sepakat, sadar atau tidak, telah menciptakan identitas tersebut. Identitas itulah yang menjadi ciri khas suatu kumpulan masyarakat di suatu wilayah.

Wilayah Papua memiliki beragam identitas budaya yang menjadi ciri khasnya. Keberagaman tersebut diwujudkan dari berbagai macam suku yang menghuni tanah Papua. Salah satu suku yang mendiami wilayah Papua adalah suku Dani.

Mabel, Mace, dan Leksi adalah keturunan suku Dani yang hidup di tengah-tengah kemajuan tanah Papua. Sayangnya, kemajuan di tanahnya itu bukan untuk dinikmati oleh mereka dan penduduk asli lainnya yang turut menjaga adat dan kesucian tanah itu. Mereka terpaksa melihat tanahnya dieksploitasi oleh kepentingan orang-orang kapitalis yang kerjanya mengeruk emas berton-ton itu.

Mereka hidup bertiga di dalam satu rumah beratap seng yang mereka sewa itu. Mereka juga tinggal bersama Pum dan Kwee yang selalu setia menemani perjalanan hidup mereka. Pum adalah seekor anjing yang sudah tua. Mata sebelah kirinya buta. Kwee adalah seekor babi kecil.

Cerita ini dibangun berdasarkan tokoh Leksi, Pum, dan Kwee yang bercerita bergantian dengan sudut pandang orang pertama. Yang menarik adalah cerita tersebut menggunakan tokoh binatang sebagai “aku”. Pembaca bisa saja tak mengira bahwa si tokoh “aku” adalah binatang karena penuturan tokoh tersebut seolah mirip dengan sudut pandang manusia.

Melalui tokoh Mabel, novel Tanah Tabu mengisahkan liku kehidupan masyarakat Papua di tengah-tengah pembangunan yang terus membuat kaum marginal semakin terpinggirkan. Mabel adalah seorang perempuan setengah baya yang memiliki pemikiran cerdas dan jiwa yang tangguh. Ditemani oleh Mace dan Leksi, Mabel menjalani kehidupannya sebagai kaum marginal di tanah Papua, tanah yang tabu itu. Mace adalah menantu Mabel yang ditinggalkan oleh suaminya, sedangkan Leksi adalah anak perempuan Mace yang polos dan ceria.

Membaca novel Tanah Tabu membuat kita seakan-akan hidup di tengah-tengah masyarakat Papua yang terpinggirkan akibat pembangunan yang memihak. Melalui tokoh Mabel, Mace, Leksi, Pum, dan Kwee, kita dapat belajar bahwa kekuasaan menindas kaum marginal. Ada banyak hal yang dapat dipelajari dari kompleksitas masyarakat Papua yang hidup di era pembangunan yang tak menjunjung keadilan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s