Siapa Dira?

Pengalaman gaib memang sulit dipercaya. Apalagi, kalau pengalaman itu adalah pengalaman orang lain yang diceritakan pada kita. Namun, bagaimana jika orang yang bercerita tentang pengalaman gaibnya itu benar-benar ketakutan? Masih ingin tidak percaya, atau ikut ketakutan juga karena mendengarkan ceritanya? Percaya atau tidak, yang jelas aku dituntut untuk percaya dan ikut-ikutan parno atas ulah temanku yang menceritakan pengalaman gaibnya kepadaku.

Ini adalah cerita seorang temanku yang bernama Nunik yang mengalami pengalaman gaib. Sebenarnya nama panggilannya Pipit. Nggak nyambung memang. Tapi itu cerita lain. Bagaimana nama Pipit terbentuk adalah cerita lain yang tidak akan kuceritakan di sini. Sebut saja dia Pipit. Suatu malam, beberapa tahun lalu, Pipit mendatangi rumahku. Dia bilang ingin cerita sesuatu. Kulihat raut wajahnya sedang tak bagus: sepet.

“Vi, lo harus dengerin cerita gue dan bantuin gue,” ujar pipit dengan muka penuh dengan kengerian.

“Apaan sih?” sahutku dengan tampang biasa saja seperti tak tertarik dengan apa yang ingin dia bicarakan.

“Begini ceritanya, Vi….”

***

            Bermula ketika Pipit dan tiga orang temannya yang berencana ke Blok M Plaza untuk sekedar hang out bareng pada hari Jumat. Kebetulan hari itu adalah hari terakhir ujian praktek sekolah. Jadi, setelah hari itu mereka dan mungkin anak-anak SMA lainnya terbebas dari segala ujian, baik ujian nasional maupun ujian sekolah dan tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Dari sekolah, mereka naik bus ke jurusan Blok M. Sayangnya, empat remaja labil tersebut harus terpisah ketika hendak menaiki bus. Pipit dan satu orang temannya naik bus duluan, sedangkan dua orang temannya tertinggal. Hal itu terjadi karena flat shoes salah seorang teman Pipit copot ketika ingin naik bus.

Jadi begini, mereka berempat menaiki bus dari pintu belakang. Temannya Pipit yang pertama terlebih dahulu menaiki bus. Lalu, disusul dengan Pipit. Nah, temannya yang giliran ketiga naik bus itu sepatunya copot pas naik dan tertinggal di jalan. Akhirnya, ia turun lagi. Alhasil, teman Pipit yang giliran keempat naik bus juga ikut terhalang untuk naik. Tanpa peduli, bus itu pun segera melaju  kencang. Dua orang teman Pipit yang tertinggal itu pun hanya bisa melongo dan mengucapkan “Yah…”, sambil meratapi bus yang meninggalkan mereka. “Dasar bego,” ucap Pipit dari dalam bus.

Pipit dan salah seorang temannya itu pun otomatis sampai di Blok M Plaza duluan. Mereka berjalan-jalan melewati Pizza Hut. Didukung dengan perut yang sudah keroncongan, rasanya pizza di dalam sana memanggil-manggil mereka. Namun, kedua temannya yang lain belum datang. Ya sudah, dengan terpaksa Pipit dan salah seorang temannya itu menunggu dua orang temannya sampai di Blok M Plaza untuk makan bareng.

Oke sepertinya ribet untuk menyebutkan tiga orang teman Pipit itu tanpa nama. Kalau begitu, untuk lebih mudahnya dan untuk membedakan mereka bertiga maka akan aku beri nama (seenaknya). Habis aku tak tahu siapa nama mereka bertiga aslinya. Teman Pipit yang bersama Pipit sampai duluan di Blok M Plaza bernama Vina. Dua orang temannya yang tertinggal itu bernama Reysa dan Kiki. Sip.

Pipit dan Vina akhirnya berjalan-jalan ke lantai atas sambil menunggu dua bocah itu, Reysa dan Kiki, datang. Mereka berdiri di dekat toko kalung. Di sana mereka bertemu seorang perempuan cantik bak model yang menyapa mereka terlebih dahulu.

“Hai, boleh gabung nggak?”

Hah? Gabung apaan? Kita gak ikut klub fitnes atau apalagi grup senam ibu hamil tuh? Tukas Pipit di dalam hati. (Hee.. jayus ya? Cuma improvegue aja kok..maaf yak..). Pipit awalnya agak heran melihat cewek ini yang menghampiri mereka duluan dan ngajak gabung. Namun, di satu sisi Pipit merasa ya sudahlah tak apa hitung-hitung tambah teman.

Tubuh cewek itu semampai, tinggi, dan langsing bak model. Rambutnya yang hitam dan lurus panjang sepinggang. Kulitnya berwarna sawo matang. Manis sekali rupanya. Ia tidak memakai seragam SMA layaknya Pipit dan Vina. Ia memakai kaos dan rok selutut beserta kalung yang melingkar di lehernya.

“Hai, boleh,” kata Pipit.

“Sendirian aja?” sambut Vina

“Iya. eh, sebenarnya lagi nunggu teman gue sih. Nggak tau nih belum dateng juga. Oh iya, kenalin nama gue Dira,” tukasnya sambil mengulurkan tangannya.

Tangan Pipit segera menyambut, “Pipit.” Pipit merasakan sesuatu yang janggal, tetapi sekilas itu hilang dan ia tak dapat mendeskripsikannya apa.

Pipit dan Vina pun berjalan-jalan bersama Dira. Pertama, mereka mampir ke Mc’D untuk membeli es krim, lumayan untuk mengganjal perut. Antrean untuk pembelian es krim, minuman, dan makanan yang tidak di makan di tempat berada terpisah dari antrean yang lain. Kebetulan saat itu antreannya sedang sepi. hanya mereka bertiga yang mengantre.

“Mbak pesan ice cream cone ya,” pinta Vina.

“Dua?” tanya pelayan itu.

“Ya tigalah. Ini buat teman teman saya yang satu lagi juga,” jawab Vina

“Oh…” sahut pelayan itu.

Setelah membeli es krim, mereka berjalan-jalan dan melihat-lihat dari toko satu ke toko lainnya. Ingat, hanya melihat-lihat, tidak membeli. Begitulah biasanya anak sekolah yang nggak punya duit kalau ke mall, kerjaannya melihat-lihat baju dan mejeng doang, tidak beli. Inilah salah satu yang dibenci oleh penjaga toko. Dira suka sekali melihat aneka macam kalung. Sepertinya ia penggemar kalung.

Pipit dan Vina merasa cepat sekali mereka akrab dengan Dira seolah-olah sebelumnya mereka sudah saling kenal. Mereka memang nyambung mengobrol dengan Dira. Ketika ditanya mengenai sekolahnya, ternyata Dira anak SMA 123 kelas XII. Pipit dan Vina saat itu juga kelas XII.

Setelah beberapa menit jalan bareng Dira. Dira pun izin pamit.

“Eh, kayaknya teman gue udah sampe deh. Nih dia udah SMS katanya dia di lantai dasar.”

“Oke deh.”

“Eh, tapi tunggu dulu. gue minta nomer HP kalian dong.”

“Boleh. Nomor lo berapa, Dir? Biar Gue miskol,” ucap Pipit.

Dira pun menyebutkan nomornya dan Pipit segera miskol. Lalu, terdengar operator berbicara nomor yang ada tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan.

            “Oke sip. Nomor lo udah masuk kok,” ucap Dira.

“Hah?? Bukannya…” lanjut Pipit, tetapi omongannya sudah dipotong Dira.

“Nih, nomor lo 085645616xxx kan?”

“E…iya. Kirain gue nggak masuk. Abis tadi pas gue miskol HP lo…”

“Eh udah dulu yah. Gue buru-buru, gak enak sama teman gue udah nunggu nih. Duluan yah. Makasih loh udah nemenin gue jalan-jalan.”

“Sama-sama, Dira. Makasih juga yah.”

Mereka pun berpisah. Reysa dan Kiki tak lama kemudian sampai di Blok M plaza.

“Pit, Vin, sori yah jadi nunggu lama gara-gara gue,” ucap Reysa yang tadi sepatunya copot dengan raut wajah penuh penyesalan.

“Ih, lagian ada-ada aja sih lo makanya sepatu butut lo itu cepet diganti biar gak copot lagi!”

Cerita di Blok M Plaza itu cukup sampai di situ. Mana horornya? Yah, memang belum ada horornya. Horornya baru akan ada ketika Pipit dan Vina sampai di rumah. Sabar ya.

***

Ketika Pipit dan Vina sampai di rumah, keduanya bak habis dihipnotis. Pipit tersentak atas apa yang terjadi di Blok M plaza tadi. Pipit baru sadar apa yang ia alami dengan Dira. Wajahnya langsung pucat ketakutan karena itu.

Ya, ia ingat ketika ia bersalaman dengan Dira, ia menyadari bahwa tangan Dira bukan seperti tangan manusia normal! Telapak tangan dan jari-jarinya sangat panjang hingga menggapai hampir ke siku Pipit ketika bersalaman. Kenapa gue nggak menyadari hal itu ketika di mall tadi? Pikirnya dalam hati. Gue seperti dihipnotis dan nggak sadar atas keanehan yang terjadi di mall tadi. Itu keanehan pertama yang begitu mengerikan. Hiii….

Keanehan kedua adalah ketika Pipit mencoba miskol nomor ponsel Dira. Jelas ketika itu operator mengatakan bahwa nomor Dira sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Namun, mengapa nomor Pipit berhasil masuk ke ponsel Dira? Jelas-jelas ponsel Dira tidak aktif.

Keanehan lain adalah ketika membeli ice cream cone. Entah mengapa si pelayan itu menyebutkan hanya dua ice cream cone, padahal mereka jelas bertiga. Hanya mereka bertiga yang ada di situ dan mereka bertiga jelas datang bersamaan. Ketika Vina membenarkan ice cream cone-nya untuk bertiga, wajah si pelayan itu begitu heran menatap mereka.

Entah mengapa Pipit baru menyadari hal itu ketika sampai di rumah. Dengan segera ia menelepon Vina untuk memastikan apakah Vina juga merasakan hal yang sama dengan dirinya.

“Vin…”

“Halo, Pit. Jangan bilang lo juga…”

“Astagfirullah Vin…ini beneran gak sih??”

“Pit, gue takut. Kenapa lo sama gue baru sadar pas udah di rumah sih??”

“Yah, lo jangan nanya gue, Vin.”

“Gue gak nanya sama lo. Gue nanya sama keadaan dan dunia ini.”

“Apa deh, Vin.” bzzzzz…..

Mereka berdua gemetaran. Sejak pertemuannya dengan makhluk yang bernama Dira itu mereka jadi parno dan kagetan. Misalnya, Pipit begitu parnonya ketika berada di rumah sendirian dan mendengar suara-suara aneh. Waktu itu, ia ada di rumah sendirian. Pukul 8 malam ada yang mengetuk pintu rumahnya tanpa mengucapkan sepatah kata ucapan salam. Hal itu membuat dia takut dan memikirkan hal-hal berbau horor. Dengan ketakutan ia mendorong dirinya untuk membukakan pintu. Kaget dia melihat sesosok anak kecil ketika ia buka pintu. Eh, ternyata anak itu adalah tetangganya yang hendak mengembalikan piring. GUBRAK! Beberapa keparnoan juga dialami oleh Vina.

Pada saat keparnoan yang mereka alami secara bertubi-tubi itu, mereka juga memutuskan untuk menghubungi nomor ponsel Dira. Pertama, Pipit yang menghubunginya. nomornya nyambung memang. Lalu, diangkat. Namun, tak ada suara Dira yang menjawab panggilan Pipit, yang ada hanya seperti suara angin hhsss…hhsss…. gitu. Ketika Vina menelepon pun begitu. Mereka berdua heran. Beberapa kali mereka menelepon dan yang terjadi adalah hal yang sama.

Lalu, tiga hari setelah pertemuannya dengan Dira, tepatnya di malam hari pukul 23.00, Pipit mendengar suara ketukan di pintu rumahnya. Kali ini Pipit bertekad untuk tidak menjadi Parno lagi. Dengan yakin ia membukakan pintu. Ketika pintu dibuka, ternyata sama sekali tak ada orang di sana. Ia terpaku sejenak berharap bahwa ada seseorang yang jahil mengerjainya dan tiba-tiba muncul dengan berkata “Ha! Kena deh!” Namun, ternyata hal itu tidak terjadi. Selama beberapa detik ia berdiri diam di depan pintu yang terbuka memperlihatkan malam yang dingin dan gelap, memang sama sekali tak ada orang di depannya. Hawa yang aneh langsung membuatnya merinding. Disusul dengan kakinya yang melemas dan wajahnya yang memucat. Pipit langsung ngibrit kabur ke dalam rumah. Setelah kejadian itu, Pipit mengalami beberapa kejadian aneh selama dua hari. Misalnya, ketika ia keluar dari kamar mandi menuju kamarnya, ia mendengar langkah kaki seorang anak kecil yang mengikutinya.

Pipit menceritakan apa yang ia alami kepada Vina. Vina bilang bahwa dirinya tak sampai mengalami kejadian seperti Pipit. Vina hanya sebatas mengalami parno saja.

“Yah, Vin. Kenapa cuma gue sih yang digangguin..” keluh Pipit.

“Alhamdulillah, Pit. Gue enggak diganggu. Mungkin lo terlalu mikirin dan kebawa perasaan takut lo kali.”

“Ah sialan lo. Alhamdulillah buat lo, buat gue enggak.”

Kini, Pipit tak lagi menemukan teman senasib. Setelah itu, barulah Pipit datang ke rumahku untuk menumpahkan segala ketakutannya yang ia alami selama beberapa hari. Ia meminta bantuanku untuk memecahkan masalahnya.

***

“Jadi gitu ceritanya, Vi,” ujar Pipit yang telah menceritakan pengalaman gaibnya dengan panjang lebar.

“Hiii…serem, Pit,” tanggapku.

“Coba deh, Vi, sekarang lo coba telepon nomor Dira pake nomor lo.”

Ketika aku menelepon, tersambung. Dipikiranku sudah terbayang bagaimana nanti kudengarkan suara yang aneh-aneh. Namun, ternyata hal itu tidak terjadi. Terdengar suara perempuat berkata “Halooo….”. Segera kututup teleponnya. Anjrit! serem gue.

“Kok sama gue dijawab, Pit?!”

“Maksud lo?”

“Iya tadi itu Dira ngomong “halo” sama gue!”

“Coba gue telepon dari nomor lo, Pit”

Aku menelepon Dira dari ponsel Pipit. Tersambung.

“Halo, Pit…Pipit…”, sahut suara Dira.

Langsung kututup! Pit, Dira nyautin lagi! Terus dia nyebutin nama lo “Halo, Pit…Pipit…” gitu katanya tadi. Coba sekarang lo yang telepon.”

Ketika Pipit yang menelepon dira, yang terjadi hanyalah suara angin…Tak ada jawaban suara Dira di sana seperti yang tadi terjadi padaku. Bagaimana bisa? Entahlah. Aku ngeri. Merinding.

Sejak saat itu aku jadi ikut-ikutan parno. Malam itu, setelah aksi menelepon dira. Aku dan Pipit ke kamarku. Di rumahku hanya ada aku dan dia. Adikku pergi bermain dan ibuku belum pulang kerja. Tiba-tiba, terdengar suara petikan gitar dari ruang tamuku, padahal akutahu bahwa tidak ada orang. Kami berdua merinding dan saling bertatapan ngeri. Kami berdua memberanikan diri ke ruang tamu. Ternyata suara gitar itu dihasilkan oleh seorang anak kecil. Dan anak kecil itu adalah…………….. adiknya PIPIT! Sial! Dia nyelonong masuk aja ke dalam rumahku karena memang pintu tidak kukunci. Pokoknya, aku jadi sering parno setelah ikut-ikutan terlibat kasus Dira yang entah siapa itu.

Pencarian mengenai Dira terus berlanjut. Pipit, Vina, dan juga aku turut menanyakan anak SMA 123 mengenai Dira. Tak ada yang mengenal Dira. Tak satu pun. mereka bilang, tak ada satu angkatannya yang bernama Dira. Kami semakin merasa aneh dan penasaran sebenarnya siapa sih Dira itu. Pipit dan Vina sempat mencari di buku tahunan SMA 123. Mereka sedikit-sedikit masih hafal wajahnya. Setelah berkali-kali mencari, tak ada wajah Dira di buku tahunan.

Itu adalah pencarian terakhir kami tentang Dira. Kami berjanji untuk tak membahas hal-hal yang berkaitan dengan Dira lagi. Kami mengambil keputusan bahwa siapa pun atau apa pun Dira, kami tak peduli lagi. Kami resmi tutup buku mengenai Dira.

***

Ponselku berdering. Nomor yang tak dikenal meneleponku malam-malam begini. Siapa ya? Batinku.

“Halo…Ini siapa ya?”

“Hai, waktu itu nomor lo pernah nelpon ke nomor gue nih. Gue Dira. Lo siapa?”

Aku langsung merinding.

“Halo…Siapa di sana? Dira di sini……………………………….”

Lalu, di balik jendela kamarku terdengar suara tawa……………………

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s