Gulali Pasar Malam

Malam ini dihiasi kanvas hitam angkasa yang punya satu bulan purnama. Aku duduk di teras. Menunggu. Bukan menunggu orang lain, tapi menunggu kesiapan diriku untuk berpetualang sendirian ke pasar malam. Tujuan utamaku adalah untuk naik komidi putar sambil makan gulali merah jambu. Kemarin malam, entah kemarinnya kapan, aku bermimpi naik komidi putar sambil makan gulali. Nikmat sekali. Sederhana, ringan, dan menyenangkan. Sampai kutahu bahwa dekat pasar impres akan dibuka pasar malam selama tiga hari. Mungkin aku dan pasar malam jodoh. Oke aku sudah siap dan segera beranjak dari duduk.

Trotoar yang keras dan dingin. Kujumpai seorang anak kecil berkepala botak di sana yang sedang memainkan gelas aqua. Kupikir sepulang dari pasar malam nanti ia akan kubawakan gulali merah jambu. Mungkin dia akan suka. Atau tidak suka sama sekali karena dia lebih suka diberi uang receh. Gulalikah atau uang receh yang pantas untuknya?

Bulan purnama yang bulat menguning  seperti lampu neon yang amat besar menggantung di langit sana. Untung bulan purnama tidak pernah bisa konslet seperti lampu neon. Sayang sekali suasana perjalanan petualangan yang ditemani bulan purnama ini dirusak oleh kendaraan-kendaraan di jalan beserta bunyi klaksonnya yang tak kalah menjengkelkan. Aku benci bunyi klakson. Apalagi bunyi klakson di pagi hari. Bikin emosi.

Aku hampir sampai. Semakin mendekat dan mendekat. Senang melihat keramaian orang-orang di pasar malam itu. Mereka semua beraut gembira, rasanya tak satu pun dari mereka yang bersedih gundah gulana atau putus asa maupun putus cinta. Paling-paling putus asa karena gagal mendapatkan souvenir boneka di permainan lempar gelang atau memancing ikan-ikanan.

Di sudut kiri pintu masuk kulihat ada bunyi tek tek tek yang bersumber dari bak berisi air dan ada beberapa benda yang bergerak di atasnya. Ternyata itu adalah perahu kaleng! Dulu itu adalah mainanku waktu aku kecil, lebih kecil dari sekarang. Kau tahu perahu kaleng? Perahu kecil sebesar telapak tangan yang terbuat dari kaleng, untuk menjalankannya, perahu itu butuh bahan bakar minyak goreng yang ditaruh di kapas yang berwadah kaleng juga. Setelah itu dinyalakan pakai api dan kontanlah perahu itu berjalan di permukaan air sambil mengeluarkan bunyi “tek tek tek tek tek”. Sungguh menyenangkan. Aku menghampiri dan memutuskan membeli dua perahu kaleng, warna hijau tua dan coklat. Yang hijau akan kuberikan ke anak botak yang ada di trotoar itu sepulang nanti kalau bertemu.

Kuingat perkara gulali. Mana tukang gulalinya? Kucari belum ketemu juga. Ah itu dia, dari kejauhan dapat kucium bau manis gula kapas itu. Dan benar saja aku dapat melihat gulali merah jambu itu dari kejauhan dan sela-sela tubuh orang-orang (di sini begitu ramai, sampai-sampai melihat ke depan saja sulit bagi orang sekecil aku). Ya, aku ini gadis kecil yang begitu kecil sampai kadang tak ingin dilihat sama sekali. Untung aku kecil jadi sesekali aku tak terlihat di saat-saat yang aku ingin tak ada orang yang melihat.

Kuhampiri penjaja gulali itu yang ternyata seorang perempuan. Mulutku sudah dapat mengecap rasa manis itu. Namun, sebelum kuputuskan untuk membeli gulali merah jambu, kulihat ada satu gulali yang berbeda, gulali putih seputih salju.

“Aku ingin membeli gulali yang putih itu.”

“Itu tidak dijual.”

“Tapi aku mau beli, berapa pun harganya, asal masih masuk akal.”

“tidak.”

Wajahku berubah sedih.

“Aku tidak akan menjualnya, tapi aku bisa memberikannya padamu cuma-cuma.”

“Kenapa begitu?”

“Kalau tidak mau ya sudah.”

“Aku mau.”

Gulali itu pun sampai pada tanganku. Aku merasa istimewa karena dapat memperoleh gulali putih salju itu dengan cuma-cuma.

“Kenapa kau suka gulali putih itu? Biasanya orang lebih suka yang berwarna.”

“Karena aku suka putih. Putih itu sederhana. ”

Sejenak diam

“Oh iya, aku juga mau beli yang merah jambu satu.”

“Untuk kau sendiri atau untuk siapa gulali itu?”

“Kau tidak perlu tahu”

“Aku mau tahu, kalau tidak aku tidak menjualnya padamu.”

“Kau pedagang aneh, gila!”

“Hidupmu mungkin lebih aneh dan gila dibanding pedagang gila seperti aku.”

“Ini gulali untuk bocak botak. Cepat berikan gulali itu, aku mau beli.”

Oke, traksaksi selesai.

“Kau mau kemana?”

“Naik komidi putar sambil makan gulali”

Aku Pergi.

Siapa yang tak senang mimpinya jadi kenyataan? Rasanya malam itu aku jadi seorang putri kecil yang paling bahagia sedunia karena mimpiku terwujud. Mimpi yang sederhana: naik komidi putar sambil makan gulali. Istimewanya lagi, gulali itu berwana putih. Kebahagiaan yang sederhana, sungguh sesederhana warna putih. Ketika naik komidi putar itu, aku merasa seperti menaiki seekor kuda sungguhan yang membawaku berlari kencang, seperti melayang. Entah kemana kuda itu membawaku pergi, aku tak peduli. Yang ada di pikiranku kini, aku tak mau pulang, aku ingin terus naik kuda sambil menikmati gulali sampai pagi, atau sampai habis hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s