Jendela

Aku menatap jendela. Hari ini, ketika aku terbangun, ternyata aku masih bisa melihat langit biru dan juga matahari yang sinarnya menyeruak  lewat celah-celah jendela kamarku. Aku bangkit, menatap ke arah jendela dan membuang pandanganku ke arah luar sana. Sinar matahari sangat terik. Aku hanya menatap jendela. Tak bisa aku berlama-lama di sini. Tapi aku masih menatap jendela. Kusegerakan tubuhku bangkit. Namun, aku masih di sini, masih menatap jendela, di titik ini.

Matahari pun kian tepat mencapai puncaknya. Entah berapa lama ia bertahta di langit sana. Namun, setelah berapa lama itu ia pun perlahan meredup karena terhalang awan. Langit menjadi mendung. Tak lama kemudian, ternyata matahari memang harus memendamkan egonya untuk bersinar. Sesegera mungkin awan cumulonimbus menutupi kediaman matahari. Ia pun mempersilakan hujan menjatuhkan diri untuk satu rintik pertamanya. Kemudian disusul dengan rintik kedua, ketiga, dan seterusnya. Hujan. Begitu menyejukkan. Bau tanah mulai menyeruak dan menyusup masuk ke dalam penciumanku.

Aku menatap jendela. Menatap setiap rintik hujan yang semakin menderas turun jatuh membuat tanah semakin basah dan becek. Hujan telah berlangsung lama hingga akhirnya menyisakan gerimis. Kini, hujan telah sempurna reda. Namun, sisa hujan masih tetap terasa. Lembab. Dingin. Hanya satu sisa yang kurang: pelangi. Aku menatap jendela, menanti pelangi muncul sebagai sisa hujan yang kunanti dan menyapaku lagi.

Aku menatap jendela lagi. Pelangiku belum terlihat. Mungkinkah aku telah kehilangan pelangiku yang selama ini sepenuh hati memberikan warna warninya kepadaku agar hidupku tak selalu kelabu. Kini, pelangiku enggan muncul kembali. Atau mungkin ia ingin rehat sejenak. Atau mungkin ia marah dan bosan denganku. Atau mungkin ia telah lelah terus memberikan apa-apa untukku tapi aku tak pernah berikan apa-apa untuknya. Ah apalah arti bermungkin-mungkin seperti ini untukku.

Aku hanya punya hitam dan putih yang berakhir dengan gradasi tak berhingga: kelabu. Aku tidak memiliki warna-warni yang bisa aku berikan untuk pelangi. Aku hanya punya hitam dan putih.  Tapi aku masih punya hati, yang belum bisa aku berikan sepenuhnya untukmu, pelangi. Tak pernah terpikir olehku bahwa kini aku merasa kehilangan warna-warni yang selalu mampir hadir di setiap hari-hari. Aku mohon pelangi, datanglah kemari datanglah kembali. Bantu aku untuk melukis hari-hari dan hatiku menjadi warna-warni. Bantu aku untuk memberikanmu sesuatu, walau hanya gradasi kelabu tak berhingga ini. Datanglah pelangi, hujan belum lama berakhir, datanglah kemari.

Aku masih menatap jendela. Aku masih menunggu saat-saat pelangi datang. Senja sepia kian beranjak merajai sore. Perlahan gelap pun menyelimuti langit. Dan gelap pun semakin pekat. Namun, sisa hujan masih terasa. Dingin dan lembab. Tanpa pelangi. Masih kunanti. Maafkan aku pelangi. Aku menatap jendela. Kusegerakan jendela itu kututup. Namun, aku masih di sini, masih menatap jendela. Maafkan aku pelangi. Aku masih menatap jendela.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s