Permainan Tatap Mata

Setiap kali bercakap, sorot matamu tak pernah berani lama-lama aku tatap. Meski sorot matamu bersembunyi di balik kacamata, namun tetap saja sorot matamu itu mampu menembus pertahanan kacamata setebal apa pun. Sorot matamu kemudian seperti menghujam dan membuatku beku dalam tatap. Tatapanku seolah tak memiliki keberanian untuk bertindak. Keberanianku seolah mengalami sebuah proses glasiasi. Itulah yang terjadi. Cinta pun bagiku menjadi suatu ketakberanian yang bersembunyi di balik peristiwa tatap menatap itu.

Di sisi lain aku ingin kamu mengetahui bagaimana rupa sepucuk cinta yang bersembunyi belum lama ini. Akalku berbaring lesu untuk menemukan alasan mengapa cinta bisa singgah di sini. Kamu membuat aku kebingungan untuk beralasan, entah karena memang terlalu banyak alasan atau justru karena tak ada alasan sama sekali. Kini yang ingin kulakukan bukan lagi mencari alasan-alasan yang tepat, tetapi mencari cara bagaimana aku menguraikan sepucuk cinta itu tanpa aku harus repot mengeja, menguraikan kata-kata, tapi kaya makna dan kamu bisa menangkap sebuah kepahaman terhadap itu semua. Sebaliknya, aku pun ingin tahu apakah juga kau punya sepucuk itu untukku.

Pernah aku mendengar sebuah riset bahwa seorang pria dan wanita yang tak saling kenal bisa saling jatuh cinta hanya melalui proses tatap menatap selama dua menit. Mungkin kita memang perlu sebuah permainan tatap menatap untuk bisa tahu isi rumah kita masing-masing. Namun, aku tak ingin memulai. Kamu yang memulai, mengawali. Kamu tahu kenapa aku tak mau memulai? Alasannya bukan karena aku tak pandai memulai permainan. Aku selalu piawai dalam memulai, tetapi aku selalu tak pandai untuk mengakhiri dengan baik, sebaik awalannya. Itulah alasannya.

Aku makin yakin kalau cinta bisa menguraikan partikel-partikelnya melalui tatapan mata. Aku berharap dengan permainan tatap menatap itu kita bisa menemukan titik ekuilibrium kesepahaman. Meskipun mungkin hasilnya kesepahaman itu masih berupa kepingan puzzle yang masih perlu dilengkapi dan dirangkai. Tapi begitulah cinta yang kutahu. Cinta adalah sebuah kesempurnaan yang tak bisa dicapai kesempurnaannya oleh kepahaman manusia.

Harapanku, suatu saat nanti kamu mengajakku bermain tatap menatap. Permainan ini akan lebih mengasyikan dibanding Sim City, PES, CS, atau apa pun. Permainan seperti akan menempatkan kita pada sebuah sistem koordinat kartesius. Kita akan menjadi sumbu yang berbeda satu sama lain, X dan Y, absis dan ordinat. Meski masing-masing dari kita akan menempuh jalur yang berbeda, pada akhirnya kita akan dipertemukan di sebuah koordinat titik potong, titik temu, yang disebut titik ekuilibrium kesepahaman.

Bedanya, untuk mencapai titik ekuilibrium itu permainan tatap menatap tidak membutuhkan sebuah perhitungan matematika karena cinta memang tak butuh sebuah perhitungan untuk bisa dipertemukan. Permainan tatap menatap ini cuma butuh keberanian, ketahanan, dan perasaan. Cuma butuh 2 menit, kalau lebih mungkin bisa lebih baik. Semoga kita bisa mencoba. Selamat bermain.

Advertisements

One thought on “Permainan Tatap Mata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s