Menilik Strategi Digital Marketing Orang Tua (OT) Group

Pada bulan Maret 2013 lalu, sebuah komunitas yang bernama Social Media Strategist Club mengadakan sebuah meetup bertempat di gedung Menara BCA Thamrin. Inti acara tersebut berisi sebuah diskusi menarik yang mengundang dua pembicara yang mewakili perusahaannya untuk berbagi pengalaman dan tips seputar digital marketing bagi brand mereka. Pembicara pertama adalah Rade Tampubolon, Digital Marketing Manager di perusahaan Orang Tua (OT) Group. Dia adalah pembicara yang akan berbagi pengalaman dan tips tentang bagaimana strategi OT Group mengoptimalkan peran media untuk kepentingan digital marketing mereka. Ilmu tidak akan berkembang jika tidak dibagikan. Jadi, pada kesempatan ini saya mencoba meramu diskusi pada malam meetup itu menjadi sebuah tulisan sebagai wujud berbagi saya atas ilmu yang saya dapat dari meetup itu. Berikut adalah delapan poin strategi digital marketing OT Group. Selamat membaca dan menyerap ilmunya 😀

1.       Collaborate with customers

Strategi ini diterapkan pada brand wafer Tango. Pada bulan Agustus 2012 wafer Tango membuat crowdsourcing music video yang bertajuk #1Cinta1Indonesia. Harapan adanya crowdsource tersebut adalah customers dapat turut berpartisipasi dalam kampanye tersebut. Alhasil, ratusan users pun berpartisipasi untuk membuat music video tersebut. Kampanye ini bermodal murah, tapi ramai dibicarakan. Sungguh asyik bukan? Terlebih lagi kita bisa berkolaborasi dengan ratusan ribu customers, baik yang turut mengunggah video maupun yang sekadar menonton saja.

#1cinta 1indonesia

2.       Keep up with trend

Tren merupakan faktor yang amat sangat berpengaruh dalam mendongkrak kesuksesan sebuah kampanye. Cara yang patut ditempuh agar kampanye kita ingin cepat booming mau tak mau ya harus mengikuti tren. Permen Mintz dalam melakukan kampanyenya memanfaatkan tren planking sebagai topik utama kampanye. Permen Mintz pun mengadakan kontes Planking Gokilz melalui Facebook. Peserta kontes tersebut diminta membuat video bergaya orang berbaring dengan tangan dan kaki lurus seperti papan. Video dan gaya yang paling gokil akan menjadi pemenang dan mendapatkan hadiah menarik. Akhirnya, tercatat ada 311 peserta yang berpartisipasi dalam kontes ini. Pemenang kontes ini pun akan mempunyai kesempatan “nongol ” di iklan TV permen Mintz selanjutnya. Inilah kontes yang sangat cocok bagi mereka yang punya jiwa “banci tampil” maksimal!

planking gokilz

3.       Integrated online with offline

Kampanye online tak bisa berdiri sendiri tanpa didukung dengan offline. Aktivitas marketing online dan offline memang harus sejalan. Hal tersebut diimplementasikan oleh OT Group dalam melakukan kampanye produk permen Kurang Asem varian baru, yakni rasa rujak. Mereka membuat promosi menggunakan truck branding, yakni dengan membuat wallpaper iklan produk pada truk-truk. Kampanye offline tersebut kemudian mereka integrasikan dengan online. Idenya, wallpaper produk yang ada pada truk tersebut dicantumkan kalimat “@KurangAsem #HotRujak emang paling hot!!!”. Untuk lebih meyakinkan, biasanya tweeps juga mencantumkan foto truck branding Kurang Asem yang dilihatnya. Jadi, konsumen yang melihat truck branding tersebut harus nge-tweet kalimat tersebut. Mereka yang nge-tweet berkesempatan untuk memenangkan hadiah. Hal ini dilakukan supaya marketer mengetahui seberapa banyak orang yang melihat dan memiliki awareness terhadap truck branding tersebut. Dengan begitu, kampanye truck branding Kurang Asem akan dapat diketahui tingkat keefektifitasannya. Hasilnya, banyak orang yang nge-tweet dari truck branding tersebut, bahkan setiap hari. Permen Kurang Asem pun mendapatkan lebih dari 1500 daily impressions dan lebih dari 225.000 total impressions dalam waktu lima bulan saja.

truck branding kurang asem                    truck branding kurang asem 2

4.       Ask, have a clear call-to-action

Jika kita ingin customers melakukan sesuatu untuk kita, tanyakanlah. Jika kita tidak menanyakan, kita tak akan mendapatkan apa-apa. Namun, yang perlu diingat adalah ketika kita minta atau menanyakan sesuatu maka harus jelas. Pada poin ini, permen Mintz ingin berbagi kisah. Suatu kali, permen mintz menggunakan akun twitter bernama @Mintz_ yang sebenarnya mereka ingin menamai akun mereka dengan @Mintz. Sayangnya nama akun @Mintz sudah punya pemiliknya, yakni Matt, pria yang berdomisili di Amerika. Suatu kali Matt pun nge-tweet kalau banyak sekali orang-orang yang mention dia dengan bahasa yang tidak ia mengerti (Bahasa Indonesia). Ternyata bertubi-tubi tweet tersebut bersumber dari orang-orang Indonesia yang niatnya ingin mention akun permen Mintz, tetapi salah mention. Harusnya mention ke @Mintz_ tetapi mereka melupakan underscore di belakangnya hingga jadilah @Mintz.

Akhirnya akun permen Mintz memohon kepada Matt untuk mengganti nama akunnya dan memberikan nama akun @Mintz kepada pihak permen Mintz supaya Matt tidak mendapat mention yang sebenarnya tidak ditujukan untuk dia. Matt pun menyetujui permintaan tersebut dengan syarat ia dikirimkan produk permen Mintz. Pihak permen Mintz kemudian mengirimkan satu bungkus permen Mintz ke negeri Paman Sam untuk diberikan kepada Matt. Ternyata, Matt pun sangat menyukai permen Mintz. Ia nge-tweet kea kun permen Mintz dan memberikan pujian serta rasa terima kasih. Katanya “permen Mintz sangat enak sekali. Terima kasih. Saya harap permen ini dijual di Amerika.

Nah cerita tersebut menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu menggunakan call to action yang jelas. Tidak hanya untuk memasarkan produk kita, call-to-action secara general pun diperlukan untuk mengatasi berbagai masalah, seperti masalah di atas. Dengan call-to-action yang jelas  dan sedikit negosiasi yang baik masalah tersebut dapat diselesaikan tanpa adanya kesalahpahaman.

5.       Listen

Saat iklan permen Mintz mulai ditayangkan di televise, banyak masyarakat yang berkomentar mengenai iklan tersebut. Kontan, iklan permen Mintz pun kerap menjadi bahan pembicaraan. Orang-orang banyak berkomentar bahwa iklan permen Mintz “aneh” dan “gajebo” lah pokoknya. Hal ini disebabkan memang iklan tersebut yang isinya yang “gak jelas”.

“Ini pensil. Ini perment Mintz. Daripada gigit pensil, mending gigit Mintz. Jelek iklannya? Biarin. Yang penting Mintz. Permen enak… Permen enak…”

Semua pasti tahu iklan itu, bagaimana ekspresi talentnya dan gaya bicaranya yang turut membumbui ketidakjelasan iklan itu. Namun, faktanya justru yang “aneh” dan “gak jelas” itulah yang mudah diingat oleh masyarakat. Pihak permen Mintz pun memanfaatkan kenyataan itu untuk mendongkrak sebuah kampanye mereka. Mereka menantang para konsumen untuk membuat video iklan permen Mintz dengan gaya unik masing-masing dan yang pasti harus “gak jelas”. Nyatanya, mereka semua tertantang. Alhasil terkumpul 154 video dengan total 70.974 views dan 25.702 exposure di Kaskus. Mencengangkan!

6.       What’s in it for your consumers

Konsumen tentunya menyukai hiburan. Hadirnya sebuah konten yang menghibur dalam sebuah kampanye online marketing merupakan satu daya tarik untuk mempertahankan konsumen dan menjaring konsumen baru yang kian waktu kian meningkat jumlahnya. Konsep content that entertain diterapkan oleh permen Kurang Asem pada websitenya www.kurangasem.com. Website tersebut memanjakan konsumen dengan beragam fitur dan hadiah menarik dengan berbagai tantangan dan kuis yang ada. Selain itu, akun twitter mereka @KurangAsem juga mengusung tema hiburan yang notabene isinya sebagian besar didominasi oleh konten-konten humor ketimbang kampanye produk yang terang-terangan.

7.       Social media engagement

Dalam setiap kegiatan branding di social media, pastikan bahwa konsumen ikut merasa terlibat di dalamnya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengolah konten yang ada hingga menjadi konten yang dirasa mewakili konsumen. Contoh kasusnya dapat kita lihat pada akun Facebook Prenagen World. Aktivitas Prenagen World di Facebook turut mewakili konsumennya karena konten yang ada di dalamnya mengandung tips-tips dan konten edukasi yang sangat bermanfaat seputar ibu hamil dan menyusui. Konten yang sangat bermanfaat tersebut secara otomatis dapat menjaring banyak konsumen karena konten tersebut memberikan manfaat yang nyata bagi para konsumen. Alhasil tahun ini akun Prenagen World menduduki peringkat satu dalam Top 5 Facebook Brands versi Socialbakers.

prenagen

8.       Take care of your loyal customers

Ketika kita telah mendapatkan konsumen yang potensial dan loyal pada brand kita, yang harus dilakukan adalah mempertahankannya. Jangan sampai konsumen yang sudah ada kemudian pergi menjauh dari brand yang kita punya dengan alas an tertentu yang berkaitan dengan kepuasan konsumen tentunya. Maka dari itu, penting sekali untuk memonitori para konsumen mengenai apa yang mereka butuhkan dan inginkan seiring dengan perkembangan zaman. Selain itu perlu juga untuk memonitori tingkat loyalitas mereka pada produk kita. Salah satu sistem yang biasa dipakai untuk mengukur loyalitas pelanggan adalah dengan Net Promoter System (NPS). NPS pada intinya merupakan sebuah system yang dapat mengukur loyalitas konsumen berdasarkan skor yang kemudian dikelompokkan akan disortir ke dalam kategori konsumen. Untuk lebih jelasnya silakan berselancari di link ini http://www.netpromotersystem.com atau link lainnya yang berkeenaan dengan NPS. Selamat berselancar 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s