Cagar Budaya Rumah Multatuli Kian Lekang Oleh Waktu

Adakah yang tahu ini rumah siapa??

Image

Inilah rumah Multatuli, seorang Belanda yang memiliki sumbangsih besar bagi Indonesia.

Cagar budaya menjadi sebuah tempat diabadikannya sebuah sejarah. Idealnya cagar budaya dilindungi oleh pemerintah dari segala bentuk kepunahan. Bahkan pengaturan tentang pelestarian cagar budaya sendiri tertuang secara jelas di dalam undang-undang RI nomor 11 tahun 2010. Ironisnya tidak semua cagar budaya yang ada secara fisik “dilindungi” oleh pemerintah.

Cagar budaya Multatuli dapat menjadi salah satu contoh gambaran betapa menyedihkannya kondisi warisan budaya dan sejarah kita. Terletak di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, berdirilah sebuah bangunan rumah tua yang sudah termakan usia. Bangunan seperti rumah tak berpenghuni itu dinding putihnya kian kusam. Lantainya berdebu. Kaca nakonya beberapa sudah lepas. Atapnya pun banyak yang rusak dan bolong sana sini. Siapa sangka bahwa bangunan tua itu adalah sebuah cagar budaya Rumah Multatuli. Masih untung ada sebuah plang yang menerangkan bahwa bangunan itu adalah cagar budaya, seperti gambar di bawah ini.

Image

Mari kita mengulas sejenak sejarah Multatuli pada zaman penjajahan Belanda. Multatuli, nama pena dari pemilik nama Eduard Douwes Dekker ini, merupakan lelaki berdarah Belanda yang justru berkontribusi besar bagi Indonesia melalui karya besarnya, yakni sebuah novel berjudul Max Havelaar. Saat hijrah ke lebak, Multatuli diberikan tanggung jawab sebagai asisten residen Lebak. Saat itu, rakyat Indonesia ada dalam tatanan masyarakat feodalisme yang mengagung-agungkan golongan bangsawan atau priyayi tanpa memedulikan nasib rakyat kecil. Sistem feodalisme pun dimanfaatkan oleh kolonial Belanda untuk memeras dan merampas harta jajahannya serta mempekerjakan paksa rakyat jajahannya.

Melihat kondisi rakyat yang menderita, korupsi besar-besaran kolonial Belanda, Multatuli pun memendam rasa kekecewaan dan kemarahan yang mendalam. Namun, iya tidak dapat berbuat apa pun karena kalangan petinggi Belanda pemegang kekuasaan dan juga para priyayi yang turut berkepentingan terhadap Belanda menentang segala bentuk keberpihakannya kepada rakyat yang tertindas. Akhirnya, ia pun menyuarakan rasa kekesalan dan kekecewaannya dalam sebuah roman yang berjudul Max Havelaar. Roman inilah yang mengungkap bagaimana kejamnya sistem kolonial Belanda di Indonesia. Karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa itu telah mendapat banyak apresiasi di berbagai negara, khususnya Indonesia dan Belanda. Pramoedya Ananta Toer sendiri pernah berkata bahwa “Max Havelaar merupakan sebuah karya yang berhasil membunuh kolonialisme”.

Kembali ke cagar budaya Rumah Multatuli. Menilik kembali bahwa begitu besar peran Multatuli, sangat menyedihkan memang melihat kondisi rumah Multatuli yang notabene dijadikan cagar budaya oleh pemerintah malah tak terawat. Letaknya yang berada di belakang RSUD Adjidarmo pun terpaksa menjadikan cagar budaya itu layaknya gudang bahkan ruang tunggu keluarga pasien rawat inap (sumber: bantenposnews.com). Lantas di mana tanggung jawab pemerintah sesuai dengan isi undang undang No. 11 tahun 2010 mengenai pelestarian cagar budaya? Masyarakat sekitar pun minim pengetahuan tentang pelestarian cagar alam tersebut dan dimungkinkan karena dari pihak pemerintah kurang sosialisasi. Padahal seharusnya rumah peninggalan bersejarah itu patut dipertahankan kelestariannya.

Berdasarkan berbagai sumber yang saya baca, cagar budaya Rumah Multatuli tidak terurus karena tidak tersedianya kucuran dana dari pemerintah. Selain itu, sebenarnya rencana pemugaran cagar budaya Rumah Multatuli telah ada sejak bertahun-tahun yang lalu, tetapi prosesnya mandek di tengah jalan, hanya sampai pada tahap diskusi saja. Kemandekan itu tak lain juga karena ketiadaan dana.

Mengutip http://www.historia.co.id, wakil Bupati Lebak mengatakan “Kami mendukung upaya pembangunan kembali rumah Multatuli, tapi kami belum bisa mendukung pendanaannya karena prioritas anggaran dana belum ada untuk kegiatan itu, kami menunggu kepastian dari pihak Pemerintah Belanda,”

Tidak adanya alokasi anggaran pemerintah saja sudah menjadi indikasi adanya ketidakseriusan pemerintah dalam usaha pelestarian cagar budaya. Ditambah lagi sampai-sampai harus meminta bantuan dari pemerintah Belanda untuk kucuran dana pula. Setidak mampu itukah negara ini membiayai pemugaran cagar budaya? Sedangkan di luar sana, berita di berbagai media menyebutkan bahwa para pejabat negara sedang sibuk membagikan uang hasil korupsinya kepada rekan pejabat lain dan artis.

Kini, bangunan rumah bersejarah itu masih menjadi seonggok bangunan tua yang kian dimakan usia…

Kini, semua masih menunggu… terus menunggu kapan bangunan ini diselamatkan…

Image

Image

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s