Memerangi Terorisme Melalui Buku: Mengenal Lebih Dekat Malala Yousafzai

Siapa sangka buku dapat memerangi terorisme. Malala Yousafzai dengan mantap menyuarakan lantang pendapatnya bahwa “buku adalah senjata yang mengalahkan terorisme”. Hal itu ia kemukakan saat dirinya secara resmi membuka Perpustakaan Birmingham, perpustakaan umum terbesar di Eropa, pada Selasa (3/9).

Lantas, siapakah Malala? Ia adalah seorang gadis remaja yang pada Oktober 2012 lalu sempat menjadi korban penembakan oleh kelompok Taliban karena memperjuangkan hak-hak pendidikan perempuan di tempat tinggalnya di Swat Valley, Mingora, dekat perbatasan Pakistan-Afganistan. Kala itu, Taliban, yang ingin menerapkan Syariah Islam, berpandangan bahwa anak perempuan tidak boleh mendapat pendidikan gaya Barat. Kelompok tersebut kemudian melarang anak-anak perempuan untuk pergi sekolah.

Menjadi Blogger di BBC

Pada tahun 2009, kala ia baru genap 12 tahun, ia menulis blog dengan menggunakan nama samaran yang ditujukan kepada media BBC Urdu. Tepat pada tanggal 3 Januari 2009, tulisannya dalam blog BBC Urdu diluncurkan. Dalam blognya itu, ia mengisahkan bagaimana kelompok Taliban melakukan operasi militer di Swat Valley, hingga bagaimana anak-anak perempuan akhirnya dilarang bersekolah.

Di tengah aktivitasnya sebagai blogger di BBC, Taliban terus melarang anak perempuan sekolah dan menutup beberapa sekolah. Namun, Malala tak gentar untuk terus aktif di blognya demi mendapatkan hak pendidikan bagi dirinya dan anak-anak perempuan lain.

“Ujian tahunan kami akan berlangsung setelah liburan, tetapi itu akan mungkin dilaksanakan jika Taliban mengizinkan kami, anak-anak perempuan, untuk pergi ke sekolah. Kami disuruh untuk belajar bab-bab yang akan diujikan, tetapi kami tidak merasa seperti belajar.” Tuturnya di dalam blog BBC Urdu.

Film Dokumentasi Hingga Tampil di Televisi

Tanggal 9 Maret 2009 menjadi hari terakhir Malala aktif menulis blog di BBC Urdu. Namun, pada saat itu identitas rahasia blognya belum terkuak. Setelah itu, Malala dan ayahnya ditawarkan untuk membuat film dokumenter seputar kehidupannya selama berada di bawah kendali Taliban. Tawaran itu datang dari seorang reporter New York Times, Adam B. Ellick.

Setelah identitas blognya terungkap tepatnya pada tanggal 9 Desember 2009, Malala mulai banyak tampil di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Ia tampil di beberapa acara televisi dan diwawancarai oleh berbagai media sebagai aktivis yang memperjuangkan hak pendidikan perempuan.

Pada bulan Oktober 2011, Archbishop Desmond Tutu, memberikan nominasi kepada Malala untuk International Children’s Peace Prize dari Kids Right Foundation, sebuah organisasi internasional di Belanda yang menangani masalah kesejahteraan dan hak anak.

Malala semakin dikenal sebagai aktivis remaja yang memperjuangkan hak-hak perempuan dalam mendapatkan pendidikan. Pada 19 Desember 2011, ia pun akhirnya dinominaskan sebagai First National Youth Peace Prize. Di tahun 2012, merencanakan membentuk Malala Education Foundation untuk membantu anak-anak perempuan yang kurang mampu untuk tetap bisa bersekolah.

Tragedi Penembakan

Tanggal 9 Oktober menjadi hari yang tragis bagi Malala. Saat ia pulang sekolah dengan menaiki bus sekolah, seorang pria bersenjata yang merupakan anggota kelompok Taliban menembak kepalanya. Ia segera dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani operasi. Untungnya, nyawanya masih dapat diselamatkan. Kemudian, Malala diterbangkan ke Birmingham, Inggris untuk menjalani perawatan lanjutan di Rumah Sakit Queen Elizabeth. Kini, ia telah pulih dan menetap di Birmingham dan melanjutkan pendidikannya di sana.

Bangkit Kembali

Pada tanggal 29 April 2013, wajah Malala ditampilkan sebagai cover majalah Time sebagai satu dari “100 Orang yang Paling Berpengaruh di Dunia”. Selain itu, dedikasi terhadap Malala pun datang dari Madonna yang pada saat konser di Los Angeles mempersembahkan lagu untuk dirinya. Lalu, Angelina Jolie juga turut berkontribusi dengan mendonasikan 200 ribu dollar kepada Malala untuk biaya pendidikan bagi anak-anak perempuan.

Tanggal 3 September 2013, Malala resmi membuka Perpustakaan Birmingham, sebuah perpustakaan umum terbesar di Eropa.

“Tidak ada senjata yang lebih baik daripada pengetahuan dan tidak ada sumber yang lebih baik bagi pengetahuan selain kata-kata tertulis.” Ucapnya.

Awal tahun ini, Malala menandatangani kontrak penulisan buku tentang kisah hidupnya yang berjudul I am Malala. Dia juga disebut-sebut sebagai calon peraih nobel perdamaian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s