Bandung dan Sejenak Cengkrama Kita

Tunggu aku di Bandung, aku akan menemuimu. Kita akan bersenda gurau tanpa dihalangi oleh layar handphone atau laptop lagi.

Sayang sekali rencana pertemuan kita jatuh pada hari kerja. Semula aku ragu untuk membolos kerja. Namun, untungnya bertepatan di hari kita bertemu ternyata di Bandung akan digelar Pameran Buku Bandung 2013 tanggal 2-8 Oktober di Landmark Convention Hall Braga Bandung. Akhirnya, aku pun bisa beralasan ke atasan aku untuk liputan ke sana. Oke, sejauh ini semua berjalan lancar.

Aku menuju Bandung menggunakan jasa Baraya Travel dengan merogoh kocek Rp70.000,00. Pukul enam pagi, Baraya sudah siap melaju mengantarku untuk berjumpa denganmu. Baraya Travel pun terus melintasi tol Cipularang. Kuhabiskan waktu perjalanan yang kurang lebih dua jam dengan membaca novel Supernova karya penulis favoritku, Dewi Lestari.

Tak terasa sebentar lagi akan masuk Pasteur. Sayangnya, di jalan tol ada kecelakaan yang menyebabkan mobil pick up terguling dan itu tentunya membuat jalan tol terhambat. Setelah melewati mobil pick up korban kecelakaan itu, jalanan kembali lancar. Sampailah bus Baraya di Tol Pasteur, keluar dan menuju pool Surapati. Dari sana aku naik angkot menuju ke arah Braga.

Tepat pukul sembilan aku pun menginjakkan kaki di Landmark Convention Hall Braga, tempat Pameran Buku Bandung berlangsung. Saat memasuki pameran tersebut, permainan musik perkusi yang dibawakan oleh anak-anak SD Teladan Bandung menyambutku. Saat itu belum banyak pengunjung yang datang. Beberapa peserta pameran pun masih sibuk menata stannya.

Kira-kira pukul sepuluh pembukaan Pameran Buku Bandung pun dimulai dan aku siap-siap meliputnya. Acara pembukaan juga dimeriahkan dengan ragam pertunjukan seni budaya, seperti tari dan ansambel musik perkusi.

Setelah menyaksikan pembukaan, aku pun berkeliling-keliling untuk memburu buku-buku yang ada di sana. Alhasil, aku kalap dan berhasil memborong 9 buku untuk kubawa pulang ke Jakarta.

Tepat pukul 12 siang aku meninggalkan Landmark Convention Hall menuju sebuah penginapan yang terletak di belakang Pasar Baru dengan jalan kaki. Unique Guest House, penginapan terjangkau yang kupilih ini sebenarnya cukup nyaman untuk menginap. Sayangnya, lokasinya memang tak stragegis. Setelah memasuki jalan kecil dan melewati perumahan warga, barulah kubisa menemukan penginapan itu.

Keringatku terasa mengucur di punggungku. Di bawah terik matahari, aku telah berjalan cukup jauh dari Braga menuju penginapan ini. Setelah menaruh barang-barang dan merebahkan tubuh sejenak, segera kubergegas ganti baju yang lebih apik dan berdandan (bedakan dan pakai lipstik tipis). Aku tersenyum di depan kaca, mengkonfirmasi bahwa diriku benar-benar bahagia.

Di dekat Stasiun Bandung kau menjemputku. Kau membuka kaca mobil kemudian memanggilku. “Vi, yuk!” Aku pun segera menghampiri dan membuka pintu mobilnya. Kita saling bertegur sapa dan bercengkrama sembari kau melajukan mobilmu ke arah Dago Atas.

Rasa lapar yang semakin mendera sebentar lagi akan hilang, pikirku, ketika kita memasuki Lusung Café, sebuah cafe bernuansa kayu yang mengarah ke perbukitan. Dari sini, aku bisa melihat pemandangan kota Bandung.

Kira-kira 15 menit kemudian, perut laparku segera terselamatkan setelah dihidangkannya nasi panggang kompeni dan iga bakar. Belum lagi ada beberapa dessert pilihamu yang tak kalah lezat menanti disantap mulutku yang doyan cicip sana sini. Lalu, ice tiramisu yang terdiri dari campuran sirup tiramisu, es krim coklat, dan biskuit oreo yang diblender, ditambah dengan wiped krim dan ceri di atasnya, ikut menyegarkan tenggorokanku siang itu.

Makanan di Lusung Cafe betul-betul lezat. Aku makan begitu lahap. Kamu tak kalah lahap makannya denganku, bahkan lebih. Nafsu makanmu memang tak berbanding lurus dengan postur tubuhmu.

“Cacing kamu ganas banget tuh berarti” selaku sembari makan.

“Hah?”

“Iya buktinya nafsu makanmu kayak kuli tapi badannya kayak abg berumur”

“Eh jangan salah, ini namanya penyerapan sempurna, gizinya nyerap semua ke otak nih. Makanya aku pintar”

Ahaha. Kau begitu pandai memuji dirimu sendiri.

Setelah prosesi santap menyantap beraneka makanan nan sedap itu, kita lanjut bercengkrama. Kemudian, pandanganku tertuju pada semacam lonceng kayu yang biasa dikalungkan di leher sapi. Kutanyakan padamu apa sebetulnya benda semacam lonceng kayu yang tergantung di tembok Lesung Café dalam jumlah banyak.

“Itu namanya kelotok, Vi. Iya semacam lonceng kayu buat leher sapi. Di situ ada gemboknya. Nah, kita bisa tulis nama kita di kertas terus dimasukkin ke sana. Ceritanya biar saling mengunci hati.”

Oh begitu, mengerti. Yang jelas kita tak akan melakukan itu. Bukan soal tak percaya dengan maksud mengunci hati di lonceng yang bergelantungan itu. Akan tetapi, toh kita memang tak bisa mengunci hati, bukan kamu orangnya, dan juga bukan aku. Kita hanya akan selintas lewat saja. Kamu akan jadi seperti sebuah kereta api yang meninggalkan stasiunnya, lalu mungkin melupakannya.

Kita kembali berbincang tentang kisah-kisah SMA semasa dulu. Kamu sudah tahu bahwa dulu aku sempat memusatkan perhatianku padamu, sempat tertarik padamu, karena kau mungil dan lucu. Mendengar ceritaku itu kau malah tertawa dan bertanya, “selucu itukah aku dulu?”

“Iya, dulu kamu lucu, kayak anak kecil, ga kayak cowok-cowok lain yang badannya lebih pantas disebut sebagai anak SMA. Kamu imut deh pokoknya.”

“Hahaha. Sekarang masih imut gak?”

“Ya enggaklah! Imutnya udah hilang, tapi gantengnya masih.”

Dan kau pun tersipu.

Semasa SMA dulu, aku memang tertarik padamu. Sebenarnya tak hanya sekadar karena kamu imut-imut, tetapi juga karena kamu pintar dan baik. Sayangnya, kau menyediakan ruang hatimu untuk temanku, bukan aku. Lagipula, kita pun tak begitu dekat. Wajar saja begitu. Akhirnya aku pun lebih sering mengamatimu dari jauh.

Kupikir kita akan bercengkrama lebih lama. Ternyata tidak. Kamu bilang bahwa kamu harus segera kembali ke Palangkaraya. Kamu bilang ada kerjaan yang harus segera kau selesaikan. Kupikir kamu akan menemaniku seharian di Bandung karena sebelumnya kamu bilang begitu. Aku kecewa. Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya supaya harapanku tak terpental jauh untuk seharian bersamamu.

Kau pun pergi.

Begini sajakah hari ini?

Bandung, 2 Oktober 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s