Bernaung Ilmu di dalam Saung

Di bilangan Jatipadang, Pasar Minggu, sebuah pemukiman pemulung terkonsentrasi di tengah-tengah perumahan yang temboknya dingin dan angkuh, perumahan yang jauh lebih layak dari rumah-rumah pemulung yang terdiri dari kayu rapuh dan kardus lusuh. Tak jauh dari pemukiman pemulung itu, kita dapat melihat gedung perkantoran yang menjulang kokoh. Inilah potret ibukota dengan kesenjangannya yang memekakkan hati bagi mereka yang peduli.

Setiap pagi, anak-anak pemulung itu turut membantu orang tua mereka untuk “kerja dinas”. Bermodal gerobak atau sekadar karung putih besar, mereka menyusuri ibu kota mencari barang-barang yang dianggap masyarakat tak penting dan tak berguna lagi. Namun, bagi mereka, barang-barang itulah yang membuat mereka bisa bertahan hidup. Ketika petang menjelang, barulah mereka pulang dan rebah di rumah.

Lantas bagaimana dengan sekolah mereka? Sebagian besar mereka tidak bersekolah atau putus sekolah. Di tengah kehidupan keluarga pemulung itu, tak ada yang menggantungkan pendidikan sebagai suatu pilihan bagi mereka. Waktu yang mereka punya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari adalah untuk bekerja membantu orang tua. Bukan berarti mereka tak ingin bersekolah. Mereka ingin, tetapi keadaan memaksa mereka untuk bekerja.

Kesenjangan pendidikan bukanlah sebuah pemadangan fatamorgana, tetapi sebuah potret nyata yang bahkan bisa kita lihat di ibukota. Di tengah keluh para siswa akan begitu banyaknya PR dan beratnya tanggungan pelajaran, ada sekelompok anak-anak yang hanya bisa menatap dari luar, menginginkan pendidikan di dalam impian.

Pendidikan adalah hak setiap warga negara. Ini memang kewajiban negara untuk memberikan warganya pendidikan yang layak tanpa terkecuali. Namun, sebagai warga negaranya, apa yang akan kita lakukan jika kita melihat realita bahwa ada anak-anak bangsa yang kurang beruntung dalam mendapatkan pendidikan yang layak. Jika kita mampu berbuat sesuatu, tetapi kita hanya berpangku tangan, berarti kita membiarkan kebodohan menjangkiti masyarakat kita sendiri.  Selagi kita ber-KTP Indonesia dan selagi kita bisa, berarti kita juga punya tanggung jawab untuk mencerdaskan sesama.

rafliMelihat potret kesenjangan di masyarakat dan dengan dibarengi semangat menebar ilmu, sosok pemuda bernama Ahmad Rafli Anhar berniat ingin mendirikan sebuah rumah belajar bagi mereka yang kurang beruntung. Baginya, sebagai Sarjana Humaniora dari universitas terkemuka di Indonesia, Rafli menyadari bahwa kaum intelektual punya tanggung jawab lebih kepada masyarakat. Selain itu, kaum intelektual juga punya tanggung jawab untuk mengamalkan ilmunya dan membaginya hingga menjadi bermanfaat bagi orang lain. Bagi Rafli, mahasiswa selepas lulus seharusnya bukanlah sekadar seorang pencari kerja. Mereka memiliki utang ilmu yang harus mereka dedikasikan agar bermanfaat juga untuk orang lain.

Rafli yang kini bekerja di sebuah perusahaan di daerah Jakarta Selatan, menyadari bahwa untuk mewujudkan idenya ia tak bisa sendirian. Akhirnya, ia pun menceritakan idenya tersebut kepada teman-teman “nongkrongnya” dalam obrolan santai. Atas dasar kemanusiaan dan dengan semangat pendidikan, pasca melihat sebuah potret kesenjangan yang ada di Jatipadang, mereka pun menggagasi berdirinya sebuah rumah belajar yang kemudian mereka sepakati dengan nama Saungelmu.

Bukan hal yang mudah untuk melakukan misi kebaikan. Masuk ke pemukiman pemulung dengan sukarela membantu atas nama pendidikan tak berarti kedatangan mereka langsung disambut dengan baik. Tentu, untuk kali pertama warga di sana mempertanyakan, belum bisa menyambut kedatangan Rafli dan kawan-kawan dengan pintu terbuka. Kesangsian akan niat baik mereka pun berbuah kecurigaan apakah gerakan Rafli dan kawan-kawan juga diboncengi kepentingan politik tertentu.

Setelah melewati berbagai penjelasan, akhirnya Rafli berhasil meyakinkan kepada warga pemukiman pemulung Jatipadang itu bahwa visi dan misi Rafli dan kawan-kawan itu tulus untuk membantu anak-anak mereka agar mendapat mendidikan yang layak. Akhirnya, dengan bantuan warga sekitar, Saungelmu pun dapat didirikan tepat pada bulan November 2011.

Ada sebuah pancaran semangat yang bersemayam di mata Rafli. Ada semangat yang berjingkatan di dalam dirinya, sebongkah semangat mengubah bangsa melalui sebuah saung bagi mereka, anak-anak pemulung, untuk mengunduh ilmu. Ia ingin dapat menebarkan bibit-bibit ilmu agar bermacam ilmu pengetahuan terus bermekaran di tengah kumuhnya sebuah pemukiman pemulung. Ia ingin kaum intelektual juga dapat tercetak dari pemukiman kumuh itu. Itu semua karena ia percaya bahwa di dalam diri anak-anak itu terdapat potensi yang bisa diasah menjadi pisau yang tajam. Namun, tentunya Rafli tak akan bisa berhasil menghidupkan nyawa Saungelmu tanpa bantuan rekan relawan saungelmu lain dan penduduk tentunya

Hadirnya Saungelmu merupakan angin segar di pemukiman pemulung itu. Setiap petang dan malam, sehabis bekerja membantu orang tua, segerombolan anak-anak itu datang ke saung yang tak berpintu. Mereka merajut asa yang sebelumnya semu, bahwa pendidikan pun layak mereka dapatkan. Semangat belajar mereka tak kalah dari mereka yang dengan mudah mendapat pendidikan layak, bahkan lebih. Para relawan dan orang tua juga turut menyemangati anak-anak itu agar terus belajar karena dengan pendidikanlah martabat dan masa depan bangsa akan lebih baik.

Kini, melewati tahun kedua, Saungelmu masih berdiri kokoh dan selalu dikelimuti oleh keceriaan dan semangat menuntut ilmu yang terpancar dari wajah-wajah anak-anak itu. Saungelmulah yang menghidupi anak-anak pemulung yang haus akan ilmu. Saungelmu telah berhasil mengajak mereka yang tadinya putus sekolah kembali lanjut bersekolah. Mereka pun dapat melakukan persiapan untuk mengambil paket b dan c dengan bantuan relawan di saungelmu. Untuk anak-anak usia sekolah dasar, orang tua mereka yang tadinya ragu untuk menyekolahkan anak -anaknya karena masalah ekonomi, kini mempercayakan anak-anaknya dididik oleh Rafli dan kawan-kawan di Saungelmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s