Roman Buya Hamka di Layar Lebar (Review Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk)

Senang rasanya melihat karya-karya sastra silam kembali dibangkitkan nyawanya melalui film. Setidaknya, film-film tersebut bisa membangkitkan kerinduan lama bagi mereka yang sempat menikmati karya-karya sastra itu. Atau mungkin, film-film itu dapat menjadi ajang perkenalan bagi mereka generasi kini yang belum mengenal karya-karya sastra silam beberapa puluh tahun lalu.

Buya Hamka sendiri, sudah dua novelnya yang naik ke layar lebar. Sebelumnya, novelnya yang berjudul Di bawah Lindungan Ka’bah difilmkan. Kemudian baru-baru ini Tenggelamnya kapal Van Der Wijk—seminggu lalu baru saya tonton. Dua karyanya itu sama-sama menghadirkan nyawa minang di dalamnya. Melalui dua film yang diangkat dari novelnya, Buya Hamka bisa lebih dikenal masyarakat sebagai sastrawan besar tanah air.

Melihat dari dua orang pemainnya, Herjunot dan Pevita, barangkali film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk ingin mendulang suksesnya 5 cm. Film ini memang sukses membuat saya terenyuh dan terpukau di beberapa bagian. Ya hanya beberapa bagian.

Saya terpukau pada akting para pemain utamanya, terutama Herjunot sebagai Zainuddin. Bagian terfavorit saya adalah ketika Zainuddin menolak Hayati dan menyuruhnya pulang ke tanah Minang. Saya rasa, ketika Herjunot membawakan dialog marahnya Zainuddin, ia begitu total dan mampu menyedot perhatian saya. Ya, meskipun bagi sebagian orang akting Herjunot di film ini tidak natural, terkesan berlebihan tapi tetap saya suka. Justru dengan begitu ketika saya menontonnya seolah saya sedang menonton teater. Ini menjadi hal yang menarik. Kemudian, menurut saya akting Reza Rahadian dan Pevita rasanya mampu mengimbangi akting Herjunot yang kesannya (kata orang) berlebihan itu. Seperti biasa, dua orang itu memang selalu total dalam akting mereka. Selain mereka berdua, ada pula Randy sebagai muluk yang tentunya juga menyedot perhatian saya karena akting dan dialognya yang jenaka, menggelitik, tapi cerdas.

Selain akting pemainnya, saya pun cukup tertarik dengan dialog-dialog film ini. Mungkin karena diangkat dari karya sastra silam, dialog-dialognya terkesan lebih puitis. Dialog yang puitis menjadi nilai lebih film ini meski sesekali kerap mengundang tawa penonton karena penuturannya yang tidak lazim, bukan bahasa keseharian kini. Sekali lagi, menonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk rasanya seperti menikmati teater, di beberapa bagian. Ya, hanya beberapa. Saya katakan begitu karena saya pikir film ini harusnya bisa jauh lebih baik.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk mengambil latar tahun 30-an. Harusnya film ini bisa membangun latar waktu waktu dan suasana yang jauh lebih klasik. Nyatanya, ada beberapa hal detil yang mengurangi keklasikan film ini.

Ketika pertama kali film ini dimainkan, perhatian saya kontan terpusat pada soundtrack-nya, Saya tidak tahu mengapa grup band Nidji menjadi pilihan sang music director. Saya merasa musiknya kurang cocok membawa suasana klasik minang itu. Kurang kloplah. Selain itu, ketika sedang acara jamuan pascapementasan karya Teroesir, malah yang disenandungkan adalah musik dan tarian semi-broadway—yang entahlah bagaimana saya menyebutnya. Yang jelas itu bukan musik populer kiriman bangsa Belanda kala itu yang saya tahu. Selain itu, ketika adegan di bar, yakni saat aziz berjudi, mabuk-mabukan, dan main perempuan, justru yang diperdengarkan adalah hentakan musik dugem yang tentunya sangat kekinian. Hadirnya musik-musik itu seolah meluluhlantakkan bangunan latar zaman 30-an.

Selanjutnya, saya jelas kecewa dengan pemilihan kostum pemainnya yang beberapa kali saya temukan “salah kostum”. Kesalahan kostum yang begitu kentara dan sangat lekat di ingatan saya adalah kostum perempuan-perempuan di adegan bar itu. Model gaun dengan belahan dada yang melintang vertikal itu jelas-jelas belum ada di tahun 30-an. Entah apa yang terjadi pada tim wardrobenya sampai mereka memilih kostum yang sangat jauh ke depan dari zaman 30-an.

Kekurangan yang lain ada pada adegan saat kapal Van Der Wijk tenggelam. Terlihat sekali animasinya. Untuk kekurangan yang ini saya masih bisa memaklumi. Butuh upaya dan biaya besar tentunya jika ekspektasi adegan kapal tenggelamnya seperti adegan Titanic, entahlah para sineas kita sudah mampu atau belum. Namun, untuk kekurangan dalam hal kostum, soal musik, dan detil-detil lainnya rasanya tak bisa ditoleransi. Sunil Soraya dan rekan-rekan seperti kurang memperhatikan detil, atau barangkali kurang observasi?

Meskipun begitu, dengan berbagai kekurangannya film ini layak kita berikan apresiasi. Berkat film ini, yang dulunya tak mengenal siapa itu Buya Hamka, sekarang jadi kenal. Yang dulunya terjerat rindu akan karya sastra lama, sekarang rindunya bisa terbayar. Saya masih menunggu kira-kira karya sastra apalagi yang akan diangkat ke layar lebar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s