Menunggu Mas Nanang Pulang

Jika kini aku adalah perapal mantra, ingin rasanya aku meracau merapalkan mantra-mantra agar bintang-bintang berserakan di angkasa. Malam ini terlalu sepi. Bahkan sepi pun minta kutemani karena kesepiannya sendiri. Aku jengah duduk lama di sini. Tak apalah sendiri. Namun, yang menyakitkan adalah tak ada yang bisa dinikmati. Aku merasa kosong.

Rasanya perasaan kekosongan seperti ini tak hanya berlangsung hari ini. Rasanya sudah berkali-kali. Tapi aku tak mengerti mengapa aku masih berada dalam titik rasa yang sama.

Pandanganku menatap kosong pekarangan, kemudian menyusul memandang ke jalanan. Sesekali ada sosok yang lewat di tengah samarnya gelap jalanan itu, kucurigai itu suamiku. Nyatanya, bukan. Ah kutahu langkah suamiku penuh dengan gegap gempita, tak loyo seperti orang-orang yang lewat tadi.

Pukul sepuluh malam. Aku masih bertahan duduk di dipan sebatang kara di teras yang ubinnya kian mendingin dirasuk udara malam. Ibu membujukku untuk masuk kamar. Aku tak mau. Kubilang pada ibu, aku mau menunggu Mas Nanang Bu. Dia pasti lelah. Akan kusambut lelahnya dengan wajah merona. Akan kubukakan sepatunya, kancing-kancing seragam kebanggaannya. Kubiarkan dia rebah. Kubuatkan wedang jahe yang biasa diminumnya sebelum tidur.

Ibu kemudian bertanya padaku. Nduk apakah sudah kausiapkan air hangat untuk suamimu. Ingin kujawab tapi ragu. Akhirnya mulutku tak berucap, tanpa jawab. Yuk masuk dulu siapin air panas untuk Mas Nanang, bujuk ibu. Kupikir aku memang belum menyiapkan air hangat mungkin.

Sekejap kulihat televisi, lagi-lagi memberitakan Gerakan Aceh Merdeka. Belum usai juga rupanya. Semoga suamiku baik-baik saja. Tahun lalu ia ditugaskan operasi militer di sana.

Melihat aku sejenak terpaku pada televisi, ibuku kontan menarikku masuk kamar.

Loh bu, aku mau nonton dulu. Mungkin ada Mas Nanang di tivi. Kataku.

Ndak ada. Kata ibu.

Terus kapan Mas pulang bu? Ndak jadi hari ini lagi? Tanyaku.

Besok nduk. Tegas ibu.

Ah semangatku kembali membuncah. Akan kutunggu dia kembali sama seperti hari ini. Rasanya sabarku tak berujung batas untuk menanti kepulangan Mas. Menunggu memang perkara kesetiaan.

Jakarta, 2004

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s