Rekam Jejak Tan Malaka: Dari Kiprah Hingga Perdebatan

“Ingatlah bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih lebih keras daripada di atas bumi” –Tan Malaka

Kurang lebih selama 30 tahun nama pahlawan revolusi ini hilang dari sejarah sebagai pahlawan nasional. Bagi Anda yang semasa sekolahnya hidup pada zaman orde baru, sudah tentu tak ada nama Tan Malaka disebut-sebut sebagai pahlawan nasional di buku pelajaran. Kiprah dan warisannya bahkan tak dijelaskan di dalam buku sejarah pelajaran sekolah. Namanya memang tak dicabut sebagai pahlawan nasional, namun dikaburkan oleh rezim Soeharto yang antikomunis dalam bentuk apa pun.

Pada masanya, Tan Malaka telah banyak menyumbangkan gagasan brilian bagi bangsa. Ia memang lebih banyak menghabiskan hidupnya di luar negeri, kira-kira hampir 20 tahun. Namun, justru karena itulah pengetahuan politiknya semakin berkembang.

Pada tahun 1925 ketika ia berada di Cina, ia menulis sebuah brosur panjang yang isinya adalah konsep republik bagi Indonesia. Brosur tersebut kemudian dibaca Soekarno. Karena itulah Tan Malaka disebut-sebut sebagai konseptor republik bagi Indonesia. Soekarno pun mengakuinya sebagai guru, dalam hal pengetahuan revolusioner dan pengalaman.

Tahun 1926 di Singapura Tan Malaka kembali menulis buku yang berjudul Massa Actie. Buku itu disebut-sebut telah menginspirasi W. R. Supratman sehingga terciptalah lagu Indonesia Raya.

Ia memang dikenal banyak menelurkan karya-karya hasil pemikiran dan pengalamannya. Karya lainnya yang membawa maslahat bagi ilmu filsafat adalah Madilog. Selain itu, ia juga sempat menerbitkan Gerpolek, sebuah buku tentang politik dan ekonomi yang ditulis saat ia berada di penjara republik tahun 1948. Karya-karya yang ditulisnya sebenarnya berangkat dari keadaan tanah air saat itu.

Harry Poeze yang telah menghabiskan waktu kira-kira 20 tahun untuk meneliti sejarah Tan Malaka mengatakan bahwa Tan Malaka adalah orang dibalik peristiwa Rapat Raksasa di Lapangan Ikada yang terjadi pada tanggal 16 september 1945 sebagai peringatan 1 bulan proklamasi.

Beberapa tahun terakhir selepas ia dipenjara, Tan Malaka sebagai komunis memiliki peran penting dalam Partai Murba yang didirikannya bersama Sukarni. Partai Murba muncul setelah tersingkirnya PKI pada peristiwa Pemberontakan PKI Madiun tahun 1948. Maka dari itulah partai Murba dianggap sebagai partai komunis baru pengganti PKI. Padahal, Murba dan PKI banyak bertentangan. Tan Malaka sendiri sama sekali tak terlibat dalam peristiwa PKI Madiun. Justru dirinya dan Muso adalah musuh dalam golongan kiri.

Sayang sekali Tan Malaka tak berkesempatan membesarkan Murba.  Tiga bulan setelah ia mendirikan partai tersebut, ia dieksekusi mati tepat pada tanggal 21 Februari 1949 Kediri di oleh TRI karena dituduh ingin mengkudeta Soekarno. Padahal, kala itu ia bersama Jenderal Sudirman sedang berjuang melawan Agresi Militer II.

Pada tahun 1963, Tan Malaka diangkat menjadi pahlawan nasional. Akan tetapi, namanya sebagai pahlawan nasional kemudian mulai dikaburkan saat memasuki rezim Soeharto. Namanya pun tak tercatat sebagai pahlawan nasional di buku pelajaran Sejarah.

Setelah rezim Soeharto runtuh, bangsa kita mulai menggaungkan kembali namanya dan melakukan pengakuan-pengakuan terhadap status kepahlawanannya dengan berbagai cara. Tan Malaka kembali diapresiasi sebagai pahlawan bangsa yang menorehkan sejarah dengan jasa-jasanya.

Kemudian muncullah wacana pemindahan makam Tan Malaka dari Kediri ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Namun pada prosesnya, kepastian makamnya tersandera penelian ilmiah karena DNA dirinya yang belum dapat dibuktikan keabsahannya. DNA dirinya turut keliling dunia mengikuti pengujian ini itu. Namun, perdebatan kepastian makamnya di Kediri tak kunjung menemukan titik terang.

Harry Poeze mengatakan bahwa dirinya yakin 90% bahwa makam Tan Malaka benar adanya di Kediri. Jika 10% sisanya adalah kekeliruan ya sudahlah. Toh sekarang yang kita yakini adalah kebenarannya. Seputar kemungkinan salah ya lihat nanti. Perdebatan makam ini sudah berlarut-larut.

Belum lagi melihat kenyataan bahwa Kementrian Sosial tidak cukup mengambil andil penuh atas permasalahan ini. Buktinya, dana yang dipakai untuk proses penelitian DNA Tan Malaka adalah dana hibah dari almarhum Taufiq Kiemas. Harusnya masalah pendanaan pun tanggung jawab Kemensos.

Pro dan kontra juga terjadi seputar pemindahan makannya ke Taman Makan Pahlawan Kalbara. Ada yang beranggapan makamnya tak perlu dipindahkan. Ada yang beranggapan bahwa makamnya perlu dipindahkan sebagai bentuk pengakuan indonesia terhadap dirinya sebagai pahlawan nasional. Tan Malaka mungkin tak inginkan pengakuan itu. Namun, jika negara merasa bertanggung jawab untuk meluruskan sejarah dan menghargai jasa Tan Malaka, harusnya persoalan ini tidak dibiarkan berlarut-larut.

Bisa jadi Tan Malaka di dalam kuburnya kini menjerit. Torehan sejarah dan perjalanan hidupnya seharusnya bisa dijadikan pelajaran bagi politisi-politisi masa kini. Namun, justru yang terjadi adalah perdebatan sana-sini dengan kepentingan itu ini yang tak berkesudahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s