Orang Tua, Penentu Masa Depan Bangsa

Katanya, masa depan bangsa ada di tangan generasi mudanya. Generasi muda adalah agen perubahan. Bahkan, Soekarno pernah mengatakan “berikanlah aku 10 pemuda maka akan kuguncangkan dunia!” Benarkah nasib bangsa sepenuhnya ditentukan oleh pemudanya? Sebegitu besarkah tanggung jawab pemuda dalam menentukan nasib bangsanya?

Pernyataan-pernyataan di atas memang benar. Akan tetapi, rasanya kita perlu menilik lebih jauh lagi bahwa ada sosok yang berperan dalam membentuk generasi muda yang berkualitas selain generasi muda itu sendiri. Ingat, generasi muda tidak tumbuh sendirian. Ia tumbuh seiring dengan lingkungan yang membentuknya.

Keluarga adalah lingkungan pertama bagi mereka. Di sanalah mereka ditanamkan nilai-nilai yang berguna bagi kehidupan mereka kelak. Orang tua adalah sosok yang membentuk pribadi generasi muda untuk pertama kalinya. Sebetulnya, merekalah yang menjadi pondasi bagi generasi muda. Merekalah figur pertama yang dicontoh oleh anak-anak mereka. Merekalah pendidik pertama bagi anak-anak mereka.

Saya percaya pendidikan di keluarga akan berpengaruh bagi pola pikir dan sikap seorang anak. Dulu saya sempat tidak percaya dengan pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” yang artinya di masyarakat menjurus ke “anak gak jauh-jauh tabiatnya dari orang tuanya”.

Saya bukanlah berasal dari keluarga ideal. Bukannya saya tidak mensyukuri keadaan keluarga saya, bukan. Saya hanya melihat kemungkinan “harusnya keluarga saya bisa lebih baik”.

Saya ingin tidak percaya dengan pepatah itu karena saya tidak ingin disamakan dengan orang tua saya. Saya ingin lebih baik dari mereka. Namun, lama-lama saya sadar bahwa pepatah itu sebenarnya tak bisa dibantah jika disuguhkan dengan arti yang lebih tepat. Arti lebih tepat dari pepatah itu adalah pendidikan yang ditanamkan oleh orang tua akan berpengaruh kepada kehidupan anak-anak mereka kelak. Saya merasakan pengaruhnya di dalam hidup saya. Namun, sekarang saya sudah dewasa. Bukan saatnya saya menyalahkan orang tua saya atas apa yang terjadi, tapi saya yang harus mengubah hidup saya.

Masa anak-anak akan terus diingat sampai dewasa. Berapa banyak orang yang mengatakan bahwa masa kecilnya kurang bahagia? Berapa banyak orang yang masih dihantui oleh bayang-bayang masa kecilnya yang tidak menyenangkan? Itu akan mempengaruhi tingkat kebahagiaan seseorang.

Ingin rasanya saya melihat kenyataan bahwa orang-orang yang kecewa terhadap masa kecilnya itu berkurang jumlahnya. Ingin rasanya saya bisa jadi orang tua yang baik bagi anak-anak saya kelak. Ingin rasanya saya sebagai orang tua bisa meninggalkan kesan bahagia buat anak-anak saya kelak.

Sesungguhnya, masa depan bangsa pun ada di tangan orang tua. Seorang ayah dan ibu menentukan seperti apa anak-anaknya dibentuk untuk masa depan. Merekalah agen pertama perubahan bagi bangsa sebelum akhirnya jatuh di tangan anak-anak mereka.

Buat semua orang tua dan calon orang tua, jadilah pendidik yang paling baik buat anak-anak kalian dan generasinya. Bukan baik buat kalian saja karena yang baik menurut orang tua belum tentu baik buat anak-anak. Sadarilah bahwa masa kini dan masa lalu berbeda. Bertolak pada masa lalu untuk hal-hal yang baik boleh-boleh saja, tapi bukan berarti lantas memaksakan apa-apa yang di masa lalu untuk diterapkan di masa kini kalau memang sudah tidak bisa diterapkan.

Masa depan bangsa ada di tangan kalian para orang tua yang tugasnya mencetak generasi muda yang berkualitas dari lingkungan keluarga. Menjadi orang tua itu perlu persiapan dan belajar. Jangan kira semua cukup bisa terjadi secara alami. Maka, persiapkanlah dan belajarlah dari sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s