Pendakian Semeru Part 2: Bersilaturahmi dengan Puncak Mahameru

Mei 2014,

Langit tengah menggantungkan awan-awan kelabu saat Jeep yang kunaiki bersama teman-temanku sampai di Desa Ranupane. Kuharap hujan tidak turun karena tentunya akan menghambat pendakian.

Desa Ranupane yang terletak di kaki Gunung Semeru ini menjadi titik awal bagi para pendaki yang hendak menjejakkan kakinya di puncak tertinggi Pulau Jawa. Mataku tak kenal bosan menjelajahi pemandangan desa ini. Di sepanjang jalan, ada banyak area perkebunan dengan bermacam tanaman yang tumbuh subur. Setelah puas melihat area perkebunan, mataku dimanjakan oleh pemandangan sebuah danau yang tenang dan teduh. Udara dingin di desa dengan ketinggian 2.100 mdpl ini sempurna melengkapi suasana yang begitu menyegarkan pikiranku.

ranu pane

Ini adalah kali pertama aku mendaki gunung. Gunung Semeru boleh jadi merupakan pilihan yang cukup berat bagi mereka yang baru pertama kali naik gunung, begitu kata orang-orang kepadaku. Namun, aku tak gentar. Justru itu membuatku lebih semangat. Tujuan utamaku sebenarnya bukanlah harus sampai di puncak Mahameru, tapi lebih kepada merasakan pendakian untuk pertama kalinya bersama teman-teman baru.

Aku bergabung dengan pendakian massal bersama dengan 40 orang kawan sependakian lainnya. Dari 40 orang itu, hanya satu orang saja yang aku kenal, yaitu Edu, teman satu komunitas yang mengajakku mendaki. Sisanya, ya teman-teman baru.

Setelah selesai repacking, kami siap untuk mendaki. Ada hal yang membuatku agak gentar, yaitu carrier-ku yang bertambah berat setelah dilakukan repacking. Saking beratnya, aku harus dibantu berdiri setelah aku mengenakan carrier-ku dalam posisi duduk. Aku membatin, “apa aku bisa membawa beban seberat ini selama pendakian?”

Semua orang sudah siap dengan carrier dan barang bawaannya masing-masing. Kami berjalan menuju masuk kawasan pendakian. Jalanku agak sempoyongan. Ini tak lain karena carrier yang berat. Maklum aku baru pertama kali membawa tas seberat ini.

Saat melihat sebuah plang bertuliskan “Selamat Datang Para Pendaki Gunung Semeru”, seketika semangatku membuncah. Aku semakin tak sabar untuk menikmati pendakian. Beratnya carrier harusnya tak jadi masalah, pikirku. Justru itu seharusnya dinikmati.

Matahari semakin bergulir ke arah barat. Pukul tiga sore kami memulai pendakian. Di pos-pos pertama pendakian, treknya tidaklah sulit. Namun, tetap saja menguras tenaga dan membuat napasku tersengal.

Hari mulai gelap, kami semua menyiapkan senter masing-masing, lalu melanjutkan kembali perjalanan. Tujuan kami hari ini adalah sampai di Ranu Kumbolo dan bermalam di sana.

Setelah melewati dua pos pendakian yang kira-kira memakan waktu 4 jam, aku dan teman-teman akhirnya disambut oleh tantangan yang dahsyat di pos tiga. Dalam kondisi gelap, berbekal penerangan dari senter seadanya, ditambah dengan beratnya carrier, kami harus menanjak trek yang tingkat kemiringannya kira-kira 70 derajat. Tanjakannya memang tidak begitu panjang, tetapi tetap saja terasa berat.

Perjalanan yang menguras tenaga selama kurang lebih enam jam akhirnya terbayarkan dengan pemandangan cantik langit hitam Ranu Kumbolo yang bertabur beribu bintang. Aku, Edu, dan tiga orang teman yang tergabung dalam grup kecilku mendirikan tenda. Setelahnya, kami menyalakan api untuk memasak air dan makan malam kami yang istimewa: mie rebus pakai rawit. Setelah prosesi mengisi perut selesai, kami segera tidur. Udara dingin di Ranu Kumbolo terasa semakin menusuk ke tulang, meski berlapis pakaian telah kami kenakan.

Cahaya matahari terasa menembus ke dalam tendaku. Kuintip ke luar sana matahari telah meninggi. Saat kutengok jam, ternyata masih pukul 05.30. Kubuka resleting tendaku dan sinar matahari serasa langsung menampar wajahku, begitu terang. Aku segera beranjak keluar dari tenda.

Sebagai pengagum pagi, kunobatkan pagi ini adalah pagi yang paling indah sepanjang pagi yang pernah aku nikmati dalam hidupku. Tendaku tepat menghadap ke Danau Ranukumbolo. Matahari muncul dari balik bukit di belakang danau tersebut. Air danau seolah berkilauan diterpa cahaya matahari pagi. Udara pagi yang kuhirup pun terasa sejuk sekali.

ranukumbolo

Hari ini kami akan menuju ke Kalimati, sebuah tempat di ketinggian 2.700 mdpl yang digunakan untuk berkemah sebelum akhirnya para pendaki menuju puncak Mahameru. Selepas sarapan dan mengemasi tenda serta barang-barang, kami pun berangkat.

Tantangan selanjutnya adalah melewati tanjakan cinta, sebuah tanjakan panjang yang diapit dua bukit yang seolah seperti bentuk “love”. Mitosnya, bagi siapa yang saat menanjak menengok ke belakang maka hubungannya dengan pasangannya akan berakhir. Cukup mengerikan juga ya. Sudah nanjak capek-capek, menengok ke belakang, lalu pulang-pulang dari Semeru putus dengan pacar.

Mendaki tanjakan cinta terasa sangat melelahkan. Perasaanku serasa merdeka setelah berhasil melaluinya. Lega rasanya. Selanjutnya, dari atas bukit aku dihadapkan oleh pemandangan indah dari hamparan luas tanaman lavender. Untuk menuju Kalimati, kami harus melewati padang lavender itu.

Perjalanan belum berhenti setelah kami melewati padang lavender. Kami istirahat sejenak, menenggak air, dan makan camilan untuk mengisi sebagian tenaga kami yang telah terkuras. Perjalanan pun kami lanjutkan. Puncak Mahameru mulai tampak dari kejauhan. Semua begitu girang melihatnya, pertanda bahwa semua tak sabar menuju ke puncak sana. Tak terasa perjalanan kami telah sejauh ini. Kira-kira dua jam kemudian sampailah kami di Kalimati.

Ô

Pukul 10 malam kami mendaki ke puncak Mahameru. Aku mempersiapkan fisik dan batin diriku, membulatkan tekadku bahwa aku akan bersilaturahmi dengan puncak Mahameru. Dua lapis jaket tebal telah kugunakan, berikut juga dengan masker dan sarung tangan. Tak lupa senter dan p3k yang siaga di kantong jaketku.

Selama dua jam mendaki, kami masih berada di area vegetasi. Setelahnya, batas vegetasi habis. Yang kujumpai hanyalah pasir dan bebatuan. Trek semakin sulit dan curam. Pasir dan bebatuan membuat kakiku sulit menanjak. Kadar oksigen terbatas. Tenagaku semakin berkurang. Berkali-kali aku berhenti untuk istirahat. Namun, aku tak bisa berlama-lama istirahat karena udara yang sangat dingin bisa menyebabkan hipotermia.

Waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Ada keinginan kecil dalam hatiku untuk menyerah saja dan kembali ke bawah. Tenagaku seperti sudah habis semua. Aku juga sudah sangat kedinginan. Namun, kakiku masih terus melangkah meski berkali-kali terperosok. Semangatku semakin luntur dan ingin segera menyudahi ini semua. Kemudian, salah seorang temanku berkata bahwa dua jam lagi kita akan mencapai puncak. Setidaknya itu membuatku lebih semangat.

Benar saja, sekitar pukul 6 pagi kami berhasil sampai puncak. Perasaanku campur aduk, antara kelelahan, gembira, dan haru jadi satu. Aku sempat tidak percaya bahwa aku bisa menjejakkan kakiku di sini. Dari puncak Mahameru, aku merasa begitu dekat dengan langit. Semua tenagaku yang terkuras, pundak yang sakit menopang beratnya carrier, semua terbayar di atas sini. Aku berhasil berdiri di ketinggian 3.676 mdpl, di Puncak Mahameru.

puncak mahameru

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s