Bandung-Garut Bersama Dua Bocah Petualang

Lagi-lagi Bandung. Kali ini rencanaku pergi ke Bandung atas ajakan Diyan dan Yudith. Tadinya aku tak ingin ikut, ya kasihan aja sama Diyan, makanya aku kawani dia, ihihi. Lagipula kalau aku ga ikut toh kalian bisa puas berduaan, eciee :3

Perjalananku ke Bandung dilalui dengan bus MGI yang berangkat pada pukul 17.00. Sementara itu, Diyan dan Yudith sebelumnya sudah memesan tiket kereta untuk perjalanan malam hari. Kasihan sekali aku terpisah sendirian -.-‘

Aku sampai terminal Bandung kira-kira pukul 20.00. Perutku lapar sehingga kusempatkan makan di terminal dulu. Setelah itu belanja oleh-oleh untuk Bude Yudith yang rumahnya nanti akan kami kunjungi untuk sekalian menginap. Sudah hampir puku 21.00. Akhirnya dengan menaiki angkot aku menuju Stasiun Bandung untuk menjumpai Diyan dan Yudith.

Sesampainya di Stasiun Bandung aku sempat jalan-jalan dulu dan menemukan kedai wedang ronde yang letaknya tak jauh dari Stasiun Bandung. Enak sekali menikmati wedang ronde di malam yang dingin dengan sedikit rintik hujan. Hampir pukul 22.00 Aku pun menuju Stasiun Bandung. Pukul 23.00 akhirnya mereka sampai dan kami bertemu.

Untuk sampai ke rumah Yudith, kami perlu menaiki Elf. Ternyata, rumahnya di luar Bandung, sudah masuk Garut malah. Wah lumayan jauh juga yah. Setelah naik Elf pun kami menaiki ojek. Sampailah di rumah Yudith. Kupikir bakal menginap di rumah budenya Yudith, ternyata kami menginap di rumah Yudith yang lama tak dihuni.

Setelah bersih-bersih dan ganti baju, kami bertiga bersiap untuk tidur. Tadinya aku dan diyan tidur di kamar atas yang ada kasurnya. Namun, karena kami ga tahan sama baunya, akhirnya kami berdua memutuskan untuk tidur di sofa dan Yudith di kamar atas yang baunya mirip bau tikus mati gitu. Hiiiiiii.

Keesokan paginya, aku dan Diyan bangun dengan badan agak sakit-sakit gitu karena tidur di sofa. Udara masih segar. Matahari pun belum panas. Kami bertiga bersiap-siap untuk jogging menuju ke arah bukit Parakan Muncang. Yudith emang rese. Perjalanan menuju atas bukit tanahnya masih agak basah sehingga membuat sepatu tebal dengan tanah. Rumputnya yang tinggi pun basah karena embun pagi. Treknya lumayan bikin ngos-ngosan. Tapi buat aku sih itu seru 😀 Diyan yang agak sebal kenapa begini banget sih olahraganya hahaha. Mukanya lucu mukanya pas lagi ngos-ngosan hihihi. Tapi kita bertiga senanglah.

Sampai di atas bukit, terlihat gunung yang kata Yudith namanya Gunung Susu. Sebenarnya namanya Parakan Muncang. Pemandangan yang bagus dari atas bukit. Kami pun tentunya tak mau kelewatan merekam momen-momen ini dengan kamera yang ada di tangan Diyan.

gunung susu parakan muncang

Setelah puas berfoto di atas bukit, kami turun untuk kembali ke rumah, bersih-bersih, dan bersiap-siap ke rumah bude Yudith yang lain. Tapi, sebelum itu, kami sarapan dulu. Ada nasi uduk super murah di dekat rumah Yudith. Dengan modal Rp3.000 kami sudah bisa makan kenyang dan enak :9

Setelah bersiap, kami bertiga pergi menuju ke rumah bude Yudith. Entah kebetulan atau apa, pagi itu dresscode tak sengaja kami adalah abu-abu. Kami bertiga berjalan kaki melintasi area persawahan. Melihat hamparan sawah, sungguh pemandangan yang memanjakan mata. Namun, perjalanan juga tidaklah mudah. Perjalanannya cukup jauh dan medannya tidak mudah, sampai-sampai Diyan ngomel. Bahkan aku sempat terperosok sehingga sepatu dan celanaku kotor.

pematang sawah

Akhirnya setelah menempuh perjalanan panjang dan aral melintang, sampailah di rumah Budenya Yudith yang banyak bebeknya. Untung sekali kami disuguhi makan siang pakai sayur asem, tempe, ikan asin, dan sambel. Enaknya nauzubillah sampai aku nambah tiga kali, huahaha.

Oh iya, yang tak terlupakan juga di rumah budenya yudith adalah WC-nya. Pokoknya kalau mau buang air, dikerumunin sama bebek. Diintipin bebek :p

Kami pun pulang deh ke rumah Yudith, bersih-bersih, lalu siap-siap berangkat lagi menuju kota Bandung. Di jalan, kami sempat beli es krim dulu~ Kebetulan cuaca terik, makan es krim jadi asyik.

Dari rumah Yudith menuju Bandung kami naik kereta dari Stasiun Cicalengka. Perjalanan ke Stasiun Cicalengka kami tempuh menggunakan ojek. Di perjalanan langit mendung. Kami sempat kena gerimis juga.

Kereta di Stasiun Cicalengka

Tadinya di Bandung kami mau nonton konser Fiersa Besari, tapi gak jadi. Akhirnya jalan-jalan aja deh mengitari kota Bandung sambil kulineran. Plus sempat menemani Yudith, teman kami paling ganteng ini untuk potong rambut gaya Ariel. Okeh. Malamnya setelah potong rambut kami ngopi di Dago. Sekitar jam 9 kami kembali ke rumah Yudith. Naik Elf lalu ojek. Oh iya, sepanjang perjalanan seharian ini, aku dan Diyan banyak belajar bahasa Sunda dari Yudith yang bikin ngakak-ngakak sendiri ahaha, iyoooo.

Bandung _MG_0262

Esok harinya, hari terakhir aku liburan bareng Diyan dan Yudith, aku dan Diyan pergi ke Bandung lagi. Awalnya kepingin cari sepatu buat naik gunung di Cibaduyut, tapi urung. Jadi cuma jalan-jalan di Bandung aja. Sementara Yudith pergi menemui temannya yang entahlah siapa.

Yang tak terlupakan di hari terakhir itu adalah saat aku dan Diyan siang hari ke Pasar Baru dengan niat mencari mie kocok paling enak seantero Bandung (kata Diyan). Setelah muter-muter di Pasar Baru, bahkan sempat beli rujak yang harganya mahal bener, setengah dipaksa beli sama preman, akhirnya kami menemukan surga yang siap jatuh di lidah: Mie Kocok. Parah ternyata enak banget.

Sorenya aku pulang deh meninggalkan Diyan dan Yudith yang harus menghabiskan waktu liburan berdua sehari lagi. Dengan naik Baraya Travel, aku pun say goodbye sama Bandung. See you again!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s