Perjalanan Pulang

Aku enggan untuk pulang, bukan saja karena hujan yang menderas lama, tapi juga karena kakiku enggan melangkah ke mana-mana. Andai saja waktu bisa berhenti sejenak, untuk aku membenahi apa-apa di dalam diriku yang sedang tak tertata rapi. Sayang, waktu adalah sesuatu yang tak bisa diperintah atau dilawan.

Akhirnya, dengan segala enggan aku pun pulang juga, tanpa payung tanpa pelindung. Hujan masih belum puas mencampuri keenggananku rupanya. Kuputuskan untuk mengacuhkannya saja. Lagipula, hari semakin malam. Aku pun tak boleh sampai ketinggalan kereta terakhir. Tak mungkin aku naik taksi sampai Depok karena uangku menipis. Kalaupun mungkin aku naik taksi, mungkin juga aku tak makan untuk beberapa hari.

Di tengah rintik yang tak mau reda dan di tengah lapar yang mendera, aku berjalan menuju Stasiun Karet dengan pikiran yang melayang ke mana-mana. Baru saja aku berjalan (mungkin) beberapa jenak (aku tak tahu, aku tak sedang sadar waktu) kulihat seorang bocah laki-laki dengan payung di tangan kanannya menawariku ojek payung. Tanpa pikir panjang, payung di tangan kanannya ke tangan kananku, tanpa berkata apa-apa.

“Mau ke mana kak?” Tanya bocah itu.
“Stasiun Karet. Ga kejauhan kan?” Jawabku.
“Oh enggak kak.”

Kami berjalan menuju Stasiun Karet. Dia berjalan menyingkir dari payung yang kupegang.

“Sini aja dek payungan”
“Gapapa kak. Ini udah basah juga dari tadi”

Diam kembali memberi spasi.

“Kamu emang kalo hujan sering ngojek payung ya”
“Iya kak”
“Orang tua kamu tau tapi?”
“Tau kak, tadi papaku juga ke sini. Kalo aku ga bilang mau ngojek payung mah aku bakal dimarahin kak, ga bakal diizinin ngojek payung nanti sama papa mama”

Aku kemudian bertanya soal rumahnya di mana, sekolahnya, kelas berapa. Dia pun
Menceritakan suka dukanya ngojek payung. Katanya, hari ini dia sudah dua kali diselak temannya ngojek payung.

“Sayang banget kak tadi aku diselak teman aku. Padahal lumayan tuh kalo aku dapat dua aja”
“Yaudah rezeki mah ga akan ke mana dek. Santai aja”
“Iya kak. Abisnya aku lagi ngumpulin duit buat beli buku IPS. Semester kemarin aku belum punya bukunya soalnya. Semester depan pokoknya harus punya,” ujar bocah kelas 5 SD itu.

Aku yakin dia anak yang pandai. Dia pun pasti sudah tahu dan merasakan bagaimana susahnya mencari uang. Namun, rasa bersyukur terpancar di wajahnya yang basah kuyup terkena air hujan.

Kami kembali sunyi. Tiba-tiba saja dia berteriak dari belakangku.

“Wah kak!”
“Kenapa?” Sahutku sembari menoleh ke arahnya.
“Aku nemu duit kak” Sahutnya sambil memegang selembar uang lima puluh ribu yang basah. Kulihat wajahnya sumringah.
“Nah kan apa alu bilang, rezeki mah ga ke mana”
“Iya kak. Tadi uangnya kakak injak. Terus aku lihat. Aku ambil deh”
“Wah, alhamdulillah, bisa tuh buat tambahan beli buku kamu”

Tak lama setelah itu, sampailah kami di Stasiun Karet. Kudengar dari pengeras suara bahwa kereta terakhirku menuju Depok akan segera masuk. Bergegas kukeluarkan uang untuk kuberikan pada bocah itu

“Makasih ya dek”
“Iya kak”

Makasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s