Aria Biru (1)

Rumah sakit identik dengan duka, bagi sebagian besar orang. Namun, bagiku berbeda.  Ketika aku harus berada di sini menjalani serangkaian pemeriksaan, pengobatan, hingga operasi, justru ada sebongkah rasa bahagia.

Kini, setelah berbulan-bulan lamanya tidak menginjakkan kaki di rumah sakit ini, ternyata ada rindu yang menderas lama yang tertuju pada dirinya. Telah lama tak kumasuki kamar periksa itu, mengucap salam, bertemu dirinya yang berbalut baju praktik warna putih, berbaring di kasur, diperiksa detak jantungnya, dan mengobrol tentunya.

Tiap kali datang ke sini, duka yang menyebelahi aku segera luruh saat aku bertemu dengannya. Padahal kondisinya aku sedang sakit. Setiap kali aku hendak berjumpa dengannya di kamar periksa, ada rasa bahagia yang membuncah seperti hendak dijemput oleh pacar di malam minggu. Barangkali, itu yang membuatku lupa akan sakitku.

Dokter Aria bilang, “Cepat sembuh ya. Sejujurnya saya gak suka melihat orang sakit. Tapi itulah pekerjaan saya.” Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkannya delapan bulan lalu ketika aku meninggalkan kamar rawat inap pascaoperasi.

***

Bau khas rumah sakit—bau obat-obatan, pewangi ruangan, karbol—langsung menusuk hidungku. Aku benci rumah sakit. Lagipula siapa yang suka sakit? Tapi kadang namanya manusia suka mencari-cari sakit sendiri.

Dari pengeras suara di sudut ruang tunggu, namaku dipanggil untuk masuk ke kamar periksa. Saat kubuka pintu tatapanku langsung saja disambut oleh seutas senyum dan salam yang begitu hangat.

“Silakan duduk, Vi. Apa kabar?”

Dokter Aria—kulihat nametag kecil yang terpasang di dada kirinya menerakan namanya.

“Baik, Dok.”

“Pacar sehat? Keluarga gimana?”

Aku keheranan. Mengapa ia tak menanyakan aku sakit apa, malah basa-basi bertanya soal kabar keluarga apalagi pacar. Urusannya apa dengan dia.

“Loh kok bengong? Punya pacar? Atau lagi berantem dengan pacarmu?”

“Maaf dok, di sini saya mau berobat…”

“Ya saya tahu. Ini saya lagi ngobatin kamu.”

Keheranan di wajahku masih sangat kentara. Kutatap ia lamat-lamat penuh tanya dan curiga. Lantas, mengapa tatap matanya begitu teduh? Ada tangan yang mengulurkan pertolongan dalam tatapan itu.

Ia terus melontarkan beberapa pertanyaan dan pernyataan, tetapi tidak dengan tergesa, sepertinya. Ah aku tidak yakin. Ataukah justru aku yang terseret ke dalam interogasinya?

Kutahu harusnya dokter ini mendiagnosisku, menanyakan apa yang sakit. Memeriksaku, lalu memberikan resep obat. Ya, harusnya begitu, bukan mengorek-orek kehidupan pribadiku. Namun, mengapa rasanya dia begitu andal memancingku untuk menumpahkan semua?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s