Pengalaman dan Pelajaran Luar Biasa dari Seorang Supir Taksi

Salah satu dari enaknya bepergian dan nongkrong di tempat-tempat yang “ga biasa buat nongkrong” (toko jamu, pangkalan ojek, dll) adalah bertemu dengan orang-orang baru yang menyimpan cerita menyenangkan dan mereka mau membaginya. Itulah kenapa saya suka bepergian dan berbincang dengan orang baru. Untungnya memang ada saja orang yang menarik untuk berbincang, mulai dari seorang pak tua musisi keroncong, supir angkot, tukang ojek, supir taksi, hacker, dan masih ada lagi kayaknya, tapi saya lupa.

Sore tadi, alhamdulillah saya dipertemukan dengan seorang supir taksi yang luar biasa. Sebelumnya, saya pun pernah bertemu dan berbincang dengan supir taksi yang juga menarik. Pagi sampai sore dia kerja jadi supir taksi, malamnya kuliah. WOW.

Jadi, begini ceritanya. Sore tadi saya harus ngajar perdana di daerah Darmawangsa. Alhamdulillah dapat murid baru. Yang namanya rezeki ga ke mana. Untuk pergi ke sana dari Depok saya harus naik bus kopaja 63. Sayangnya saya kelewatan bus itu. Akhirnya, setelah nunggu setengah jam itu bus ga lewat-lewat lagi, asaku pun putus, sabarku pun telah hangus dimakan gelisah takut telat. Aku pun memutuskan untuk naik taksi saja. Kustop Taxiku yang warnanya kuning itu dan taksi itu segera melipir ke arahku.

“Assalamualaikum” Sapa si supir taksi ketika aku baru memasuki taksi.

“Waalaikum salam. Ke Darmawangsa ya pak. Lewat Antasari aja”

“Oke siap”

Kulihat nama yang tertera di tanda pengenalnya yang ada tepat di depan jok kemudinya “Pak Bambang”. Kesan pertamaku pada supir ini adalah dia ramah dan baik karena salam yang diucapkan tadi.

Dia mulai membuka pembicaraan dengan bertanya aku hendak ke mana. Kukatakan padanya aku hendak mengajar bahasa Indonesia untuk orang Korea. Dia pun balik bercerita soal orang Korea dan orang asing lainnya yang pernah naik taksinya. Dia pun sedikit berbicara menggunakan bahasa Inggris hingga akhirnya kami berbincang dalam bahasa Inggris. Ah, kupikir bahasa Inggris dia bagus bagi seorang supir taksi. Dari cara bicaranya pun sepertinya dia berpendidikan baik.

Akhirnya kami mulai memperbincangkan pekerjaan kami masing-masing. Dia bercerita bahwa dia sudah kira-kira dua bulan menjadi supir taksi setelah sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan seluler.

“Di sana bapak jadi supir juga pak?”

“Wah kalo saya ceritakan mungkin kamu heran kali ya, hehe,” katanya sembari terkekeh. “Di sana saya semacam jadi business plan development, ya bapaknya marketing gitu deh.”

Wow. Jelas saja saya terkesima. Kok bisa jadi supir taksi sekarang. Makin penasaran aja. Saya terus mancing pertanyaan dan mendengarkan dengan seksama ceritanya dia.

Pak Bambang sudah bekerja di Motorola di bagian marketing selama 14 tahun. Sayangnya, ada masalah di manajemen perusahaan yang membuat dia mau tak mau memang harus keluar dari perusahaan itu. Daripada menganggur dan sembari menunggu pekerjaan baru, Pak Bambang mengisi waktu dengan jadi supir taksi. Dia bilang kalau dirinya senang bekerja dan bertemu serta berinteraksi dengan orang lain. Mungkin jadi supir taksi adalah pilihan yang baik.

Penasaranlah saya sebenarnya apa sih pendidikan terakhirnya. Setelah saya tanya, ternyata dia punya dua gelar master! Makin kagetlah saya! Pertama di sekolah tinggi ilmu ekonomi IBMI Rawamangun kalau gak salah. Kedua, di salah satu universitas di San Fransisco, Amerika. Subhanallah ini orang. Pantesan diajak ngobrol enak banget. Dan… ternyata bulan depan dia mau ke US karena dapat kerja di sana, makanya dia isi kegiatan dengan jadi supir taksi.

Dia cerita tentang perjalanan kariernya, termasuk saat ia jadi supir taksi. Baginya, semua yang dilalui adalah pengalaman yang berharga. Dia sangat tertarik dengan ekonomi Islam dan punya tekad untuk membagi ilmunya seputar ekonomi Islam hingga mancanegara.

“Agama mana coba yang sampai ngatur masalah ekonomi kayak Islam, ya zakat, sedekah, bahkan harga warisan,” katanya bangga.

Dia cerita selama dia kuliah dan kerja dulu, gimana dia menjelaskan tentang kehidupannya sebagai muslim kepada rekan-rekannya yang orang asing.

“Kita bisa bergaul sama siapa aja, asal kita punya prinsip, amalkan agama baik-baik.” Dia jadi agak-agak sedikit ceramah menyenangkan soal agama gitu deh.

Bagi Pak Bambang, pengalaman menjadi seorang supir taksi itu sangat luar biasa. Dia banyak ketemu dan berinteraksi dengan banyak orang. Katanya, ini semua bukan soal cari duit saja, tapi lebih dari itu. Pengalaman hidup, itu yang gak kalah berharga. Dia juga ingin bisa berbagi ilmu yang bermanfaat buat orang-orang, bukan cuma sekadar cari duit saja.

“Saya itu senang bekerja, dan bekerja bukan semata cari uang”

Dia bilang, “Be professional, and money will comes to you. Jadi, ga usah mikirin uang dulu pertama. Yang penting fokus dan profesional melakukan pekerjaan. Uang akan datang kok kalau kita bekerja dengan total. Lagipula, yang namanya rezeki kan udah ada yang ngatur”

Ah bahagia banget hari ini. Ya meski saya harus mengeluarkan uang lebih buat ongkos taksi (dan padahal ngajarnya juga kepotong cuma sejam), namun ada pengalaman dan pelajaran yang banyak sekali yang bisa saya dapat dari Pak Bambang. Terima kasih karena Engkau telah mempertemukan aku dengannya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s