Bersuara, Supaya Bangsa Tak Lupa (Review Film Senyap)

Setelah mendulang sukses di film Jagal (The Act of Killing), Joshua Oppenheimer kembali merilis sebuah film dokumenter yang berlatar peristiwa 1965 berjudul Senyap (The Look of Silence). Seperti di film dokumenter Jagal, film ini masih berlatar di Medan, Sumatra Utara yang merupakan salah satu kota berdarah ketika meletusnya G30S/PKI. Film ini melibatkan lima negara dalam proses produksinya, yakni Indonesia, Denmark, Norwegia, Finlandia, dan Inggris.

Dalam film Senyap diceritakan sosok pemuda yang bernama Adi Rukun. Kakaknya yang bernama Ramli dibantai karena dituduh terlibat PKI saat ia belum lahir. Ibu dan ayahnya menderita atas kematian kakaknya yang dituduh komunis itu.

Adi mendapatkan kisah-kisah tentang G30S/PKI serta tentang kematian kakaknya dari orang tuanya. Sementara itu, pelajaran sejarah yang ia dapatkan di sekolah menceritakan sejarah pergolakan tersebut yang berbeda dari apa yang diceritakan orang tuanya. Setelah beranjak dewasa, ia baru mengerti duduk perkara malpraktik sejarah yang merenggut nyawa kakaknya.

Satu persatu Adi menemui pihak-pihak penjagal sembari melayani mereka memilih kacamata. Kebetulan, Adi berprofesi sebagai penjual kacamata. Ia menyusuri tempat-tempat kehidupan para penjagal yang adalah pelanggannya sendiri.

Perasaan campur aduk dirasakan oleh Adi saat ia mengetahui kenyataan pahit yang didengar dari mulut para penjagal itu saat mereka menjelaskan bagaimana mereka menyiksa dan membunuh orang-orang yang dituduh komunis. Ada sebagian dari para penjagal yang melakukan rekonstruksi peristiwa kembali di tempat mereka membantai para korbannya yang kelihatannya tanpa ada beban dosa masa lalu. Bahkan, mereka melakukan rekonstruksi bagaimana mereka membantai para korban dengan bercanda-canda. Menyaksikan hal tersebut sungguh membuat hati teriris-iris.

Apa yang dilakukan oleh Adi Rukun sungguh berani. Dengan mendatangi para penjagal, meminta informasi dan keterangan, serta mengakui identitas dirinya sebagai adik dari korban pembantaian jelas akan membahayakan nyawanya. Bisa saja setelah melakukan itu Adi justru diburu dan tak tanggung-tanggung mungkin dibantai juga.

Dalam film Senyap kita bisa melihat bagaimana manusia dapat memperlakukan sesamanya dengan penuh kekejian. Mereka, yang terlibat dalam pembantaian itu, seperti tidak mengenal perikemanusiaan. Alasannya, mereka ingin membela negara maka PKI harus dimusnahkan. Lantas, negara yang mana yang mereka bela?

Seorang penjagal menceritakan dan memperagakan pembantaian yang ia lakukan tanpa ada beban dosa. Bahkan, seorang komandan pasukan pembunuh mengaku bahwa ia tega memotong payudara wanita sambil tertawa-tawa. Ia juga sengaja meminum darah korbannya. Katanya, kalau tidak minum darah korban, si pembunuh bisa gila karena membunuh terlalu banyak orang.

Mereka yang dituduh terlibat PKI ada yang dibunuh di sumur mati, di kebun kelapa sawit, dan dibuang ke sungai. Banyak nyawa yang hilang yang bahkan tak tahu apa salahnya.

Cerita yang memilukan lain adalah pada saat seorang pembunuh menceritakan kejadian pembunuhan, ia bercerita bahwa di belakang sana TNI diam saja, hanya sekadar mengawasi dan menyaksikan kekejaman masal itu karena itu adalah perjuangan rakyat, bukan pemerintah. Padahal pemerintahlah di balik semuanya. Ini jelas propaganda cuci otak yang sangat laknat.

Orde baru bukan sekadar rezim, tapi propaganda besar-besaran yang benar-benar menakjubkan. Orde baru membentuk pola pikir masyarakat yang menyalahkan PKI, menghujat keluarganya, bahkan berani menyumpahi mereka masuk neraka segala.

Pada masa orde baru, siapa saja dengan seenaknya bisa dituduh sebagai PKI. Serikat buruh dan tani saja dituduh terlibat G30SPKI. Masyarakat yang tak tahu apa-apa bisa saja dituduh sebagai PKI, lalu dibantai.

Dalam film Senyap juga diceritakan keberadaan buku Embun Berdarah yang berhasil ditemukan. Buku tersebut berisi kesaksian seorang pembunuh yang menceritakan bagaimana ia membunuh si korbannya.

Setelah menonton Film Senyap rasanya kita didesak untuk mempertanyakan bagaimana pembenaran atas pembunuhan massal itu. Bagaimana pula propaganda cuci otak yang berlangsung puluhan tahun itu bisa disamarkan melalui pendidikan sejarah di tanah air.

Film ini memang tidak sarat akan estetika. Akan tetapi, film ini memuat catatan sejarah yang selama ini mungkin hanya teronggok dalam ruang kesenyapan. Muatan sejarah inilah yang bersifat informatif dan memiliki urgensi untuk diketahui oleh publik. Film ini merupakan upaya untuk meluruskan sejarah bangsa Indonesia yang sempat dibungkam berpuluh-puluh tahun lamanya.

Menonton film Senyap, saya semacam dicekoki oleh ungkapan yang berulang-ulang: “Yang lalu biarlah berlalu. Yang sudah biarlah sudah.” Namun, apakah masa lalu bisa dibiarkan berlalu jika trauma, rasa takut, dan ancaman masih mendera? Apakah kejahatan massal yang sampai kini tak jelas ujung penyelesaiannya harus dibiarkan berlalu begitu saja?

Diharapkan setelah menonton film Senyap kita bisa mempunyai perspektif yang baru dari Joshua Oppenheimer terhadap polemik PKI dan kejahatan HAM yang besar yang pernah menjadi catatan merah sejarah Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s