Peluk

Di bawah terik matahari, kepala Ari terus menengadah ke atas. Ujung jari telunjuk tangan kanannya bersinggungan dengan pelipisnya, menunjukkan sikap hormat pada bendera. Ia mengamati bendera merah putih yang dinaikkan pada upacara senin pagi tadi berkibar-kibar terkena hembusan angin. Dari kepalanya, menetes perlahan keringat pertanda ia mulai kepanasan. Bagian punggungnya juga basah oleh keringat. Seragam merah putihnya terasa semakin bau keringat dan matahari. Matahari pukul 10 pagi semakin beringas menampar tubuh mungilnya.

Ari disetrap oleh gurunya lantaran perbuatannya terhadap siswi sekelasnya. Pada saat jam istirahat, ia memeluk seorang siswi dan tak melepasnya. Sampai akhirnya siswi itu berteriak dan memberontak hingga datanglah ibu guru ke dalam kelas.

Langsung saja Ari dibawa ke ruang guru, ditanyakan apa masalahnya. Namun, seperti biasa Ari hanya diam. Akhirnya, terpaksa ibu guru menghukumnya hormat di bawah tiang bendera dengan harapan Ari tidak akan melakukan perbuatan itu lagi.

***

Tak mudah bagi Ari untuk menepis keinginannya yang satu ini. Sederhana dan begitu polos. Ia hanya ingin dipeluk oleh seorang perempuan. Acapkali keinginan itu datang. Tapi ia selalu mengurungkan inginnya yang begitu sederhana itu.

Ari kini duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Setiap pagi ia berangkat ke sekolahnya sendiri. Kebetulan sekolahnya tak jauh dari rumah. Beberapa temannya ada yang diantar oleh ibu mereka. Dari kejauhan ataupun dekat, hampir setiap pagi Ari mendapati teman-temannya dipeluk dan diciumi ibunya. Dari lubuk hati Ari, timbul keinginan itu: ingin dipeluk dan dicium oleh ibu. Setiap kali melihat pemandangan itu, ingin rasanya Ari berlari menghampiri mamanya yang tengah bersiap-siap merentangkan tangannya agar Ari jatuh ke dalam pelukannya. Tapi kenyataannya tidak.

Tapi sampai sekarang Ari tak bisa mendapatkan itu, meski ibunya masih ada dan tinggal bersamanya.

Telah lama Ari memendam keinginannya ini. Ari ingin meminta pada ibunya untuk dipeluk, tapi rasanya situasi menjadi begitu dingin ketika ia dihadapkan oleh ibunya, bahkan sekadar bertanya hari ini makan apa bu.

Tak pernah Ari ditanyakan bagaimana harinya di sekolah, bagaimana PR, dan sebagainya. Ari harus mengurusi dirinya sendiri. Mamanya sibuk bekerja, berangkat sore pulang pagi. Ibunya yang berprofesi sebagai penyanyi di kafe remang-remang itu memang tak ubahnya kelelawar. Hal itu membuat sulit bagi Ari untuk berkomunikasi dengan ibunya.

Sempat suatu ketika ibunya libur. Ingin Ari bercengkrama dengan ibunya. Tapi rasanya ibunya punya benteng dingin dan besar yang kuat sehingga menghalangi Ari untuk bercengkrama. Saat libur, sempat waktu itu ibunya membawa seorang laki-laki datang ke rumah. Laki-laki itu tentu bukan ayahnya Ari karena ibunya bilang ayahnya Ari sedang bekerja di Belanda.

Saat mereka berdua datang, dilihatnya mereka berdua saling merangkul. Saat laki-laki itu pulang, Ari mendapati mereka berpeluk mesra. Sungguh pemandangan itu membuat rasa iri menyelimuti diri Ari. Mengapa ibunya tak bisa sehangat itu pada anaknya sendiri. Justru pada lelaki lain ibunya berlaku seperti itu.. Ari kemudian masuk kamar. Ia duduk termangu sambil memikirkan kenapa ibu tak mau memeluk dirinya. Apa aku jelek? Bau? Atau sebenarnya aku bukan anak ibu. Ia mulai berpikir kenapa ibu sedingin itu. Meski selama ini ia sudah belajar untuk terbiasa kedinginan dan tak mengungkapkan perasaannya kepada ibu. Ari pun kemudian memeluk guling.

Pulang sekolah, tak ada yang senantiasa menyambutnya. Pun ibunya ada di rumah, biasanya ibunya masih tidur.

Seingatnya, ibunya tak pernah memeluknya. Entah mengapa.

Alih-alih memeluknya, ia malah mendapati ibunya memeluk seorang laki-laki begitu erat. Ia tahu itu bukan ayahnya. Ibunya pernah bilang bahwa ayahnya pergi ke Belanda untuk mencari uang. Itu membuat ia bermimpi untuk pergi ke negeri bunga tulip suatu saat nanti untuk menemukan ayahnya. Siapa tahu ayahnya bisa memeluknya.

Setiap kali berangkat sekolah, seringkali rasa iri merambah pada dirinya.

Sampai pada akhirnya Ari putus asa. Ia mencoba memeluk dirinya sendiri. Ditangkupkan kedua tangannya melingkari tubuhnya sendiri. Terkadang setiap mau tidur atau di kamar mandi ia sering melakukan ini.

Sempat juga ada keinginan mencium dirinya sendiri. Tapi sayangnya bibirnya tak cukup monyong untuk mencapai pipinya sendiri sampai-sampai ia frustrasi. Ia hanya bisa memeluk dirinya sendiri. Sampai akhirnya ia sadar bahwa ternyata memeluk diri sendiri itu tidak enak.

Suatu hari di senin pagi, Ari kembali  setelah istirahat, Ari melihat teman-teman perempuan di kelasnya saling berpelukan. Entah karena apa mereka berpelukan. Ingin Andi untuk berpelukan sudah semakin membuncah. Akhirnya ia memberanikan diri untuk menghampiri kerumunan teman perempuan itu. Di hatinya ia ragu. Namun, kakinya terus melangkah. Sampai akhirnya ia memasuki kerumunan itu, berhadapan dengan salah seorang teman perempuannya. Kontan saja Ari memeluknya erat. Temannya itu berteriak, teman yang lain pun kaget tentu. Namun, pelukan Ari semakin erat. Sampai akhirnya ibu guru datang dan mendapati Ari memeluk siswi itu.

Sepulang sekolah, Ibunya tumben sudah bangun.

Sudah pukul dua siang. Ari belum juga pulang. Ternyata Ari menghabiskan waktunya di sebuah rental PS karena ikut kakak kelasnya. Sepulangnya dari sana, ia harus naik angkot. Ia menunggu di sebuah pertigaan. Seorang perempuan muda mungkin merasa iba dengan seorang anak kecil yang sendirian. Perempuan itu menghampiri. Menundukkan tubuhnya dan mendekati tubuh mungil Ari.

“Halo adik, sendirian aja. Ibumu mana?”

Seperti biasa Ari yang pendiam hanya menggelengkan kepala, pertanda bahwa ia benar-benar sendirian.

“Rumahmu di mana?” tanya perempuan itu seraya menggenggam lengan Ari dengan hangat.

Ari merasakan kehangatan itu merayapi tubuhnya. Membuncah sebuah ingin yang kuat. Aku ingin peluk tante. Ucapnya dalam hati.

“Di Cermai ibu. Mau naik angkot”

“Duh kamu kecil-kecil naik angkot sendirian. Gimana sih ini ibunya. Bareng Mbak aja yuk. Mbak lewat Cermai” kata perempuan itu seraya merangkul pundak Ari.

Tiba-tiba Ari menyodorkan badannya ke perempuan itu. Tubuh mungil itu segera memeluknya. Bersandar pada perempuan itu.

Telah lama Ari ingin dipeluk. Ia pun seringkali memeluk dirinya sendiri, melingkari tubuhnya seadanya dengan tangannya yang mungil. Ia juga seringkali memeluk bantal. Tapi, bantal tidak bisa balik memeluk dirinya. Sebenarnya ia juga ingin dicium, tetapi bibirnya tak pernah mampu menjangkau pipinya sendiri.

Ari diajarkan ibunya untuk menjadi anak yang pendiam. Pernah suatu ketika saat Ari rewel, ia membantah ibunya, lalu beerapa buah cabe berhasil mendarat ke dalam mulut mungilnya dalam keadaan dipaksa. Dari situlah Ari belajar bahwa diam adalah pilihan yang baik, satu-satunya pilihan.

Ari jatuh ke dalam pelukan perempuan cantik itu. Seraya mereka pun segera masuk mobil. Setelahnya, Ari tak pernah kembali pulang.

Ari cuma ingin dipeluk. Sesederhana itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s