Legenda Telaga Biru

Majojaru melangkah dengan lunglai sembari menahan air mata yang semakin mendesak untuk mengalir deras. Ingin rasanya ia pergi ke pesisir, lalu mengarungi lautan, bahkan turut tenggelam hingga ke dasarnya.

Langkahnya terhenti pada suatu percabangan jalan yang terdapat banyak bebatuan besar. Di sana ada satu pohon beringin besar yang sampai saat ini masih berdiri tegak. Majojaru ingat betul di sinilah ia pertama kali bertemu dengan Magohiduuru, kekasih hatinya

***

Pagi masih menyisakan gurat-gurat gelap di langit Desa Lisawa, Halmahera Utara. Matahari sama sekali belum meninggi. Kemuning cahayanya masih menguncup di balik sisa-sisa gelap.

Di sebuah dadaru (rumah), tampak seorang perempuan yang tengah sibuk menyiapkan wadah penampung air yang ditenteng di kedua tangannya.  Tak seperti biasanya Majojaru sudah siap-siap untuk mengambil air sepagi ini. Perempuan itu hendak bergegas pergi ke sebuah sungai yang jaraknya cukup jauh dari Desa Lisawa.

Ia sengaja berangkat pagi-pagi supaya belum banyak orang berbondong-bondong mengambil air. Kemarin saat ia mengambil air sudah banyak warga di sungai tersebut sehingga ia merasa kesulitan untuk mendapatkan air yang bersih.

Musim kemarau selama beberapa bulan terakhir ini membuat volume air sungai semakin berkurang. Kedangkalan air sungai menyebabkan air mudah keruh, sementara orang-orang justru butuh persediaan air yang lebih di musim kemarau.

Biasanya tugas mengambil air diemban oleh ayahnya. Berhubung ayahnya sedang pergi berburu sejak kemarin, Majojarulah yang menggantikannya mengambil air. Ibunya sudah sakit-sakitan sehingga tidak bisa melakukan tugas-tugas berat, paling-paling hanya menyiapkan makanan atau merajut.

Di Desa Lisawa akses air bersih sulit didapatkan. Desa Lisawa termasuk wilayah pesisir utara Pulau Halmahera yang tanahnya penuh dengan kontur bebatuan hasil dari pembekuan lahar panas Gunung Api Dukono. Tidak ada sumber air tanah di desa tersebut. Satu-satunya sumber air bagi mereka adalah sebuah sungai dengan air terjun kembar yang tidak begitu tinggi. Sungai tersebut dapat ditempuh dari Desa Lisawa selama satu setengah jam perjalanan ke arah selatan. Warga Desa Lisawa terpaksa harus rela berjalan jauh ke sungai tersebut untuk mendapatkan air bersih.

Akses jalan menuju sungai itu tidak mulus. Majojaru harus menelusuri jalan setapak yang membelah hutan Pulau Halmahera. Ia mesti menerabas semak belukar dan bebatuan. Yang paling menyusahkan adalah melewati bebatuan yang ukurannya besar-besar, terlebih lagi ketika harus membawa air. Ia harus ekstra hati-hati melangkah agar airnya tidak tumpah

Cahaya matahari sedikit demi sedikit telah menembus masuk dari balik rerimbun pepohonan. Mojojaro telah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam. Perjalanan masih membutuhkan waktu kira-kira setengah jam lagi.

Sampailah Majojaru pada sebuah percabangan jalan. Jalan yang membelok ke arah kiri adalah jalan menuju pemukiman Moro, sedangkan jalan yang membelok ke arah kanan adalah jalan menuju sungai. Di antara dua cabang jalan tersebut terdapat sebuah pohon beringin besar yang dikelilingi oleh batu-batuan besar.

Akhirnya Majojaru sampai di sungai. Di area sungai ia hanya melihat dua orang laki-laki paruh baya yang sedang mengambil air serta seorang ibu yang sedang mencuci pakaian di pinggir sungai. Majojaru mengarah ke pojok air terjun untuk mendapatkan titik air jernih. Karena musim kemarau yang panjang, air terjun yang tadinya mengalir cukup deras hanya menyisakan ricik-ricik air saja.

Setelah mendapatkan persediaan air yang cukup, Majojaru pulang. Ia harus menempuh perjalanan pulang yang lebih berat dari perjalanan berangkat ke sungai karena ia membawa beban air. Perjalanan yang harusnya menempuh waktu satu setengah jam bertambah lebih lama menjadi dua jam.

Baru saja sampai di percabangan jalan, ia sudah terengah-engah. Ia istirahat sejenak dengan duduk di sebuah batu besar di bawah pohon beringin. Setelah cukup mengumpulkan tenaga kembali, ia melanjutkan perjalanannya. Namun, sayang sekali baru saja beberapa langkah beranjak dari tempat istirahat, langkah Majojaru kurang hati-hati. Kakinya terantuk batu dan air yang ia ambil dengan susah payah itu tumpah begitu saja membasahi tanah.

Rasa jengkel bercampur sedih menyelimutinya. Hampir saja air mata jatuh dari pelupuk matanya. Ia merasa usahanya mengambil air dengan susah payah menjadi sia-sia.

Ketika hendak bangkit, Majojaru melihat ada sesosok pria yang menghampirinya. Ia melihat kaki pemuda itu mendekatinya. Kemudian, tangan pemuda itu menjulur dan meraih tangan Majojaru untuk membantunya bangkit. Mereka bersitatap. Dalam heningnya pagi, seketika waktu menjadi beku selama beberapa detik seiring dengan sepasang mata yang sedang bertemu sepasang mata lainnya. Mereka berdua saling terpana.

Pemuda itu segera mengakhiri pertemuan sepasang mata mereka dan bergegas mengambilkan wadah air Majojaru yang masih tergeletak di tanah.

“Hei, kau sendirian saja mengambil air? Dan mengapa pagi-pagi sekali?” tanya pemuda itu.

“Iya aku sendiri saja. Biasanya ada ayahku yang mengambil air, tetapi ia sedang pergi berburu sejak kemarin,” ujar Majojaru

“Oh begitu. Cukup jauh juga jarak yang kau tempuh untuk mengambil air. Terlebih kau seorang perempuan dan kau hanya sendirian,”

“Ya begitulah, habis mau bagaimana lagi. Kalau tidak begini keluargaku tidak bisa mendapatkan air bersih,” jelas Majojaru.

“Lihat, airmu hampir tak tersisa di wadahmu. Kalau begitu bagaimana kalau kita kembali ke sungai? Aku akan membantumu mengambilkan air dan membawanya ke rumahmu,” Magohinduru mengakhiri kata-katanya dengan seutas senyum yang begitu manis.

Sebuah pertemuan dan perkenalan yang begitu manis. Itulah awal mula kedekatan mereka hingga seiring dengan berjalannya waktu mereka menjadi sepasang kekasih.

***

Diketahui Magohinduuru adalah warga Desa Lisawa yang baru saja pulang dari merantau selama bertahun-tahun di tanah Jawa. Selama masa perantauannya itu ia berprofesi sebagai pedagang. Setelah mengumpulkan kekayaan yang cukup ia pulang ke Halmahera untuk memberikannya kepada ibu dan adiknya. Ayahnya telah lama meninggal saat dahulu warga Desa Lisawa rusuh dengan warga pemukiman Moro. Magohinduurulah tulang punggung keluarga saat ini.

Ia begitu menyayangi ibu dan adiknya. Itulah mengapa ia bekerja keras hingga merantau ke tanah Jawa, demi menafkahi mereka.

***

Dari hari ke hari hubungan Majojaru dan Magohinduuru semakin dekat dan hangat. Mereka menikmati waktu kebersamaan sebagai sepasang kekasih. Tak banyak orang yang tahu memang kalau mereka adalah sepasang kekasih. Bahkan, orang tua mereka sendiri tidak begitu persis mengetahuinya bagaimana hubungan mereka.

Bagi mereka, yang paling penting adalah bagaimana hati mereka berpaut, bukan bagaimana orang lain melihat apalagi menilai hubungan mereka.

Suatu sore, Magohiduuru membawa Majojaru ke arah utara menuju pesisir pantai Halmahera. Di bawah balutan langit sepia, Magohiduuru memeluk Majojaru erat. Hening. Hanya suara ombak yang berkali-kali menerpa kaki mereka.

“Majojaru, aku mencintaimu lebih dari lautan yang mencintai pantai”

“Ya, aku ingin menjadi pantai dengan pasir yang putih dan lembut, sementara kau adalah lautnya, meski pasang atau surut, tenang atau ganas, dirimu hanya akan kembali padaku, pantai.”

Sejenak Magohinduuru menahan kata-kata yang hendak ia keluarkan. Ada sebuah pembahasan penting yang sebenarnya ingin Magohinduuru bicarakan pada Majojaru.

“Majojaru, begini aku telah memutuskan untuk pergi merantau kembali ke Pulau Jawa. Minggu depan aku harus akan berlayar meninggalkan pulau ini,” jelas Magohinduuru.

Majojaru kontan merenggangkan pelukannya.

“Lantas apakah itu artinya kita tidak akan bertemu dalam waktu lama?” tanya Majojaru yang telah menampakkan raut wajah sedih.

“Ya, aku tidak tahu kapan tepatnya kita akan bertemu lagi. Tapi aku akan kembali padamu. Seperti yang kau bilang tadi, aku adalah lautan yang akan kembali pada pantai, meski pasang atau surut, meski tenang atau ganas.”

Majojaru menitikkan air mata. Magohinduuru memeluknya erat.

“Aku mencintaimu dengan sungguh. Tapi, aku harus merantau untuk mencari harta kekayaan demi menyambung hidup. Mungkin setelah aku merantau kita bisa membangun keluarga. Aku ingin menikahimu, tapi apalah daya aku tak punya apa-apa. Untuk itu, aku ingin merantau untuk mencari bekal masa depan kita kelak, Majojaru.”

Majojaru masih mencerna kata-kata kekasihnya.

“Kalau begitu mari kita berjanji bahwa kita akan saling mencintai sehidup semati. Kita akan kembali pada hati yang telah kita pilih”

“Iya, Majojaru. Aku akan mencintaimu hingga ajal menjemputku, dan aku akan kembali padamu. Hanya kaulah perempuan yang kutuju untuk kembali pulang, Majojaru.”

Magohinduuru mengeluarkan sebuah benda dari sakunya. Kemudian benda itu ia lingkarkan ke leher Majojaru yang jenjang.

“Apakah ini, kekasihku?” Tanya Majojaru.

“Ini adalah sebuah kalung yang terbuat dari serat-serat kayu yang kuanyam sendiri. Kalung ini khusus kubuat untukmu agar kau selalu ingat padaku kapan pun dan di mana pun”

“Terima kasih, kekasihku”

“Aku tidak bisa memberikanmu apa-apa. Hanya kalung ini dan beberapa memori kebersamaan kita yang bisa kuberikan. Kuharap kau dapat menyimpannya baik-baik”

“Tentu. Aku tidak butuh apa-apa, kecuali kembalinya kau padaku selepas kau merantau. Kita sudah berjanji bahwa kita akan saling mencintai sehidup semati”

***

Pagi ini tidak seperti biasanya. Mendung dan dingin. Cuaca seperti ini seolah mengisyaratkan ucapan selamat tinggal pada kemarau yang panjang. Namun, seperti juga ada sesuatu yang lain di pagi ini.

Ada sepasang suami istri yang hendak pergi untuk mengambil air di sungai. Sesampainya di percabangan jalan, mata mereka terbelalak. Tempat yang semula berisikan banyak bebatuan dengan pohon beringin besar itu kini menjelma menjadi sebuah genangan air yang begitu biru. Air itu menenggelamkan bebatuan di sekitarnya. Akar dan bagian bawah batang pohon beringin itu pun ikut teredam. Teduhnya rerimbun daun pohon beringin menaungi telaga itu sehingga tetap teduh.

Sejak dulu Desa Lisawa selalu kekurangan air bersih. Penduduk harus berjalan jauh menuju ke sungai di selatan untuk mendapatkan pasokan air bersih. Kemunculan telaga biru tersebut bak oase di tengah padang pasir bagi penduduk Desa Lisawa. Namun, kemunculannya menyimpan misteri besar. Bagaimana bisa telaga itu tiba-tiba muncul padahal sebelumnya sama sekali tidak ada? Kemunculan telaga itu bisa jadi sebuah berkah besar bagi warga Desa Lisawa atau justru malah akan menjadi malapetaka. Tidak ada yang mengetahuinya.

Pasangan suami istri itu segera memberitahukan kemunculan telaga biru itu kepada tetua Desa. Seketika saja berita soal kemunculan telaga biru membuat warga Desa Lisawa geger. Warga berbondong-bondong ingin melihat telaga tersebut. Semuanya terkejut.

Melihat fenomena tersebut, tetua desa pun langsung memutuskan untuk menggelar upacara adat. Dolodolo (kentungan) dipukul. Suaranya menggema ke seluruh penjuru Desa Lisawa, pertanda seluruh warga diminta untuk berkumpul. Setelah semua warga berkumpul di depan halaman rumah tetua adat, upacara adat pun segera dimulai.

“Wahai wargaku sekalian, baru saja kita mendapatkan sebuah kabar yang aneh tentang sebuah telaga yang tiba-tiba muncul di desa kita. Ini bisa jadi sebuah berkah bagi desa kita yang selalu kesulitan mendapatkan air. Namun, bisa saja ini justru malapetaka bagi kita semua. Kita tidak ada yang tahu. Maka dari itu mari kita mulai upacara adat ini agar kita mendapat petunjuk,” ujar tetua adat.

Upacara adat segera berlangsung. Segala sesajen untuk memanggil roh para leluhur telah disiapkan. Segala bentuk penyembahan dihaturkan kepada Jou Maduhutu, Jou Giki Moi (Tuhan Sang Pencipta, Tuhan Maha Esa). Tak lama kemudian, terdengar suara bisikan yang diyakini adalah suara dari roh para leluhur:

Timbul dari Sininga irogi de itepi Sidago kongo dalulu de i uchi imadadi ake majobubu

Suara bisikan tersebut berarti “timbul akibat dari hati yang remuk redam hingga akhirnya menetaskan air mata dan mengalir menjadi sebuah sumber mata air”.

Akhirnya mereka mendapatkan petunjuk bahwa kemunculan telaga tersebut diduga ada kaitannya dengan kisah romansa sepasang kekasih yang berakhir dengan hati yang hancur. Seluruh warga menduga-duga kira-kira siapakah sepasang kekasih yang ada kaitannya dengan kemunculan telaga biru itu.

Dari sekian warga yang hadir, ternyata ada dua orang warga yang tidak hadir dalam upacara adat tersebut. Yang pertama adalah Magohinduuru karena ia pergi merantau. Lalu, yang kedua adalah Majojaru. Diketahui dari orang tua Majojaru bahwa putrinya itu belum pulang sejak kemarin setelah ia minta izin untuk pergi mencari umbi-umbian.

Warga curiga kalau kemunculan telaga itu ada kaitannya dengan hilangnya Majojaru. Mereka pun bersama-sama mencari Majojaru. Selama proses pencarian tak ada tanda-tanda apa pun tentang keberadaan Majojaru. Sampai akhirnya seorang warga menemukan sebuah kalung yang terbuat dari anyaman serat kayu mengambang di telaga biru. Setelah diidentifikasi, ternyata itu adalah kalung milik Majojaru.

***

Menunggu bukanlah perkara yang mudah dan sederhana, terlebih ketika kita tidak tahu kejelasan terhadap apa atau siapa yang kita tunggu. Tak jarang, gelisah senantiasa menjadi teman yang setia sepanjang proses kesabaran kita untuk menunggu.

Sudah hampir satu tahun kepergian Magohinduuru untuk merantau. Selama satu tahun itu, tidak ada kabar yang pasti tentang bagaimana keadaan Magohinduuru, apalagi soal kabar kepulangannya. Akhirnya, Majojaru berinisiatif untuk mencari tahu sendiri bagaimana kabar kekasihnya.

Saat sore sudah mulai renta, Majojaru pergi ke pesisir untuk mencari tahu informasi tentang kabar kekasihnya. Beruntung sekali Majojaru bertemu dengan awak kapal yang setahun lalu berangkat bersama Magohinduuru di kapal yang sama. Ia baru saja berlabuh. Segera saja Majojaru bertanya pada awak kapal tersebut soal Magohinduuru.

Mendengar penjelasan dari awak kapal tersebut, Majojaru seperti disambar petir yang begitu dahsyat. Kabarnya, Magohinduuru telah tewas karena kapal yang ditumpanginya tenggelam diterjang badai.

Awak kapal itu dan Magohinduuru sempat berpisah di Pulau Jawa, lalu bertemu kembali untuk pulang ke Halmahera. Namun, pada saat itu mereka menaiki kapal yang berbeda karena Magohinduuru ikut kapal yang menuju ke Pulau Sulawesi terlebih dahulu sebelum akhirnya pulang ke Halmahera. Sungguh malang kapal yang ditumpangi Magohinduuru tenggelam setelah diterjang badai ketika perjalanan dari Sulawesi menuju Halmahera.

Perasaan Majojaru bercampur aduk mendengar kabar itu. Majojaru pun berlari menerabas hutan hingga letih dan langkahnya lunglai sendiri. Ia sampai pada percabangan jalan tempat dulu pertama kali ia bertemu dengan Magohinduuru.

Di bawah pohon beringin Majojaru duduk sambil menangis tiada henti. Hingga hari mulai gelap Majojaru pun tak bisa menghentikan tangisannya. Hatinya penuh luka dan duka. Ia ingat betul dulu sebelum Magohinduuru pergi merantau mereka sempat membuat janji untuk saling mencintai sehidup semati. Namun, kini maut yang merenggut nyawa Magohinduuru telah melunturkan janji-janji itu.

Majojaru berpikir mungkin lebih baik dirinya ikut mati saja, ikut tenggelam ke dalam lautan. Begitu dalam cintanya kepada Magohinduuru. Begitu sabar ia menunggu. Begitu besar pula harapannya untuk kembali memadu kasih bersama Magohinduuru dengan ikatan suami istri. Sayang sekali semua itu harus kandas oleh kenyataan yang tak kuasa ia telan pahitnya.

Air mata Majojaru terus mengalir hingga tak terasa telah menggenangi dirinya sendiri. Ia membatin, “biarlah air mata ini menjadi lautan yang segera menjemput kekasihku. Biarlah aku tenggelam karena air mataku sendiri. Sedih ini sudah sangat tak tertahankan. Biarlah aku mati agar kami berdua segera bisa bertemu”

Kata-kata itu ternyata didengar oleh Jou Maduhutu, Jou Giki Moi (Tuhan Sang Pencipta, Tuhan Maha Esa). Segala yang Majojaru katakan dalam batinnya menjadi kenyataan. Air mata Majojaru semakin meluap hingga akhirnya menenggelamkan dirinya sendiri. Ia tenggelam dalam kesedihan karena karena cinta yang sudah terlalu dalam. Genangan air matanya itu kemudian menjelma menjadi sebuah telaga yang begitu jernih dan biru airnya.

***

Setelah mendapatkan kabar bahwa kapal yang ditumpangi Magohinduuru tenggelam diterjang badai, semakin jelaslah potongan-potongan misteri kemunculan telaga tersebut.

Seluruh warga desa berkabung atas kepergian Majojaru dan Magohinduuru. Di satu sisi, kepergian mereka meninggalkan berkah yang besar bagi warga Desa Lisawa, yakni dengan keberadaan telaga yang begitu jernih dan biru airnya. Oleh karena itu, warga Desa Lisawa menjaga keberadaan telaga tersebut dengan sebaik-baiknya.

Hingga kini, telaga telaga tersebut masih bernaung di bawah pohon beringin di Halmahera Utara, tepatnya di Kecamatan Galela. Telaga tersebut kemudian dikenal dengan nama Telaga Biru. Kisah asal mula terbentuknya Telaga Biru berkembang di masyarakat dari generasi ke generasi sebagai legenda yang terkenal di Halmahera Utara. Banyak orang yang berdatangan ingin melihat jernihnya air Telaga Biru tersebut.

** Penulisan kembali cerita rakyat asal Maluku yang berjudul Legenda Telaga Biru ini merupakan sebuah bentuk apresiasi atas kekayaan literasi bangsa Indonesia melalui beraneka ragam cerita rakyatnya. Penulis berharap semoga budaya literasi bangsa Indonesia dapat terus berkembang dan senantiasa mendapatkan banyak perhatian dan apresiasi dari bangsanya sendiri maupun bangsa lain. -Embun-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s