Sepotong Kisah Tentang Anak-anak yang Luar Biasa

Pagi itu menjadi pagi yang sangat penting bagi saya. Itulah kali pertama saya mengemban tanggung jawab yang betul-betul saya banggakan, yaitu sebagai seorang guru di sebuah sekolah inklusif. Sebelumnya, saya tidak begitu paham mengapa sekolah tersebut mendapat julukan sekolah inklusif. Yang saya tahu, sekolah tersebut turut menyediakan tempat bagi mereka, anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik dan mental untuk belajar.

Di hari pertama bersekolah, kebetulan pada saat itu sedang upacara. Saya melihat memang ada beberapa anak dengan kekurangan fisik dan mentalnya. Ada anak yang mengenakan kursi roda, down syndrome, dan autis.

Semakin hari saya semakin paham mengenai konsep sekolah inklusif. Saya pun semakin bisa memahami bagaimana sistem belajar anak-anak sekaligus saya juga menyesuaikan diri mengajar di sekolah yang memiliki murid heterogen. Saya sebagai seorang guru harus mampu mengelola kelas yang heterogen dengan menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Setiap anak di sini jelas mempunyai kebutuhan serta kemampuan yang berbeda-beda, terutama bagi anak berkebutuhan khusus. Tugas saya adalah membantu mereka agar bisa memenuhi kebutuhannya sesuai dengan kemampuannya.

Menjadi seorang guru di sekolah inklusi membuat saya semakin yakin bahwa setiap anak adalah istimewa, tak terkecuali anak-anak berkebutuhan khusus. Kekurangan yang dimiliki oleh mereka justru adalah bagian yang melengkapi keistimewaan mereka.

Davi dan Kayla adalah kedua murid berkebutuhan khusus di tahun pertama saya mengajar di sekolah tersebut sebagai guru kelas 3 SD. Davi adalah penyandang cerebral palsy, sedangkan Kayla adalah penyandang autis. Merekalah yang semakin meyakinkan saya bahwa semua anak terlahir istimewa.

Suatu hari saya sempat berbincang dengan Davy. Saya bertanya tentang apa yang ia lakukan untuk mengisi waktu senggang. Davy menjawab, ia mengisi waktu senggang dengan belajar berdiri. Ia ingin sekali bisa berdiri. Ia ingin tidak lagi memakai kursi roda. Suatu saat pula sempat saya tanyakan apa cita-citanya kelak. Ia menjawab, “yang penting aku bisa berdiri dulu, biar ke mana-mana gak usah pakai kursi roda.”20151023095803

Kayla tak kalah istimewanya dengan Davy. Ia senang sekali bernyanyi. Antusiasmenya begitu besar pada musik. Ia sendiri punya cita-cita untuk menjadi pemusik. Suatu hari, saat pelajaran matematika, saya ingat betul Kayla menangis karena tangannya tidak begitu terampil membuat layang-layang. Hal itu membuat ia menolak untuk membuat layang-layang. Guru pendampingnya membantunya membuat layang-layang sembari menenangkannya. Kayla pun akhirnya bisa kembali tersenyum saat akhirnya ia berhasil membuat layang-layang dan menuliskan cita-citanya di layang-layang tersebut, kemudian menerbangkannya.

2016115161057

Kayla sama seperti Raffa, seorang murid kelas 4 SD yang juga menyandang autis. Tak disangka-sangka ternyata Raffa begitu berbakat dalam bermusik. Untuk seorang anak autis, bakatnya bermain piano sambil bernyanyi bagi saya sungguh luar biasa.

IMG-20151126-WA0045

 

Ada satu orang lagi murid yang berbakat yang saya jumpai di sekolah saya. Namanya Dasvy. Meski ia bukan murid saya langsung, saya cukup mengenalnya sebagai siswa SMP penyandang autis yang memiliki bakat melukis yang luar biasa. Bahkan, lukisan-lukisan abstrak hasil karyanya belum lama ini telah tembus pameran.

IMG-20160115-WA0019

IMG-20160115-WA0021

Tidak semua anak bisa segigih Davy. Tidak semua anak seantusias Kayla. Tidak juga semua anak seberbakat Raffa dan Dasvy.

Mereka mengajarkan saya bahwa setiap anak pasti memiliki kelebihan. Sayangnya, seringkali kita tutup mata terhadap kelebihan tersebut karena melihat kekurangannya. Padahal justru seharusnya bakat tersebut bisa digali dan dikembangkan lagi.

Sekolah inklusif diharapkan dapat menjadi salah satu sarana untuk membantu anak-anak menggali dan mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya, tak terkecuali bagi anak berkebutuhan khusus.

Lingkungan sekolah inklusif mendidik siswa-siswa berkebutuhan khusus untuk tidak memandang kekurangannya sebagai hambatan belajar. Selain itu, anak berkebutuhan khusus pun bisa lebih percaya diri untuk tampil di lingkungan sosial karena di sekolah mereka bisa berbaur dengan anak-anak lain tanpa dianggap berbeda karena kekurangannya.

Lingkungan sekolah inklusif tak hanya dirasakan manfaatnya oleh anak berkebutuhan khusus saja, tetapi juga siswa lainnya. Mereka bisa belajar untuk menghargai perbedaan. Mereka pun belajar untuk berkerja sama dengan teman tanpa membedakan masing-masing karena kekurangannya.

Sebagai seorang guru, justru saya yang merasa banyak sekali diberikan pelajaran oleh lingkungan sekolah inklusif. Saya belajar bagaimana cara memberikan pembelajaran bagi anak-anak yang begitu heterogen, baik dari segi akademik dan nonakademiknya. Saya juga belajar untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi semua anak sehingga mereka merasa bahwa kekurangan bukanlah hambatan untuk mereka belajar.

Sebetulnya, istilah pendidikan inklusif bukanlah istilah baru di dunia pendidikan Indonesia. Namun, penerapannyalah yang terbilang masih baru. Beberapa sekolah sudah menerapkan pendidikan inklusif, tetapi memang belum banyak. Lagipula, penerapan pendidikan inklusif masih banyak yang perlu dievaluasi dan ditingkatkan, termasuk juga pendidikan inklusif di sekolah tempat saya mengajar.

Sekolah yang menerapkan pendidikan inklusif memerlukan tenaga pendidik yang kompeten di bidangnya. Seorang guru perlu memiliki kemampuan untuk berpikir holistik sekaligus spesifik.

Holistik yang dimaksud adalah bagaimana guru kelas memandang kondisi kelas sebagai satu kesatuan yang terbentuk dari keberagaman. Guru harus bisa menciptakan suasana belajar yang kondusif, kooperatif, dan tentunya nyaman dirasakan seluruh siswa tanpa terkecuali, sehingga siswa tidak ada yang merasa dibedakan atau diekslusifkan. Justru adanya perbedaan harus dapat menguatkan mutu dalam proses pembelajaran.

Namun, di samping itu guru juga harus berpikir spesifik. Guru harus memahami setiap kebutuhan dan kemampuan siswanya yang berbeda-beda. Setiap siswa tentunya akan membutuhkan pendekatan dan cara yang berbeda dalam belajar. Hal ini tentu berkaitan dengan rencana belajar, materi, dan hal-hal lain berkaitan dengan pembelajaran yang harus disiapkan oleh guru. Guru dituntut untuk interaktif dan sekreatif mungkin dalam mengakomodasi setiap siswanya untuk belajar.

Sekolah inklusif pun memerlukan guru pendamping yang berkompeten di bidangnya untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus untuk belajar. Guru pendamping harus memahami treatment seperti apa yang tepat diterapkan bagi anak berkebutuhan khusus untuk mengatasi kekurangan-kekurangannya saat belajar. Guru pendamping harus bekerja sama dengan guru kelas dan bidang studi lain untuk membuat target pencapaian belajar anak berkebutuhan khusus yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka. Guru pendamping juga harus bisa memotivasi anak berkebutuhan khusus untuk terus semangat belajar.

Saya berkaca pada pendidikan inklusif tempat saya mengajar. Melihat kondisinya, saya menyadari bahwa dalam berbagai aspek penerapan pendidikan inklusif masih banyak yang perlu dievaluasi dan ditingkatkan, baik kompetensi gurunya, kurikulumnya, maupun fasilitas yang disediakan sekolah. Mungkin permasalahan ini tidak hanya dialami di sekolah tempat saya mengajar, tetapi juga sekolah lainnya yang sedang berjalan dengan pendidikan inklusif. Hal tersebut bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan juga pemerintah.

Pemerintah harus lebih serius dalam melaksanakan program pendidikan inklusif. Pemerintah bertanggung jawab memfasilitasi guru untuk meningkatkan kompetensi mereka agar siap mengajar di pendidikan inklusif. Kurikulum pendidikan umum harus bisa mengakomodasi keberadaan anak-anak berkebutuhan khusus. Fasilitas sekolah juga harus diperhatikan agar memenuhi kebutuhan anak-anak, tak terkecuali anak berkebutuhan khusus.

Selain sekolah, sebetulnya ada peran penting yang justru paling utama bagi pendidikan anak-anak, yakni peran orang tua. Orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak-anak. Bagi anak-anak berkebutuhan khusus, orang tualah yang harusnya pertama kali menanamkan rasa percaya diri kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Orang tualah sumber semangat kepada anak-anak mereka untuk lebih berjuang mengalahkan keterbatasan. Orang tualah sumber kasih sayang tiada tara bagi anak-anak berkebutuhan khusus di saat mereka merasa lingkungan sosial mungkin tidak menyenangkan baginya.

Di Indonesia pendidikan inklusif bisa dikatakan sudah berjalan. Namun, memang belum semua sekolah menerapkannya. Pemerintah harus lebih melebarkan sayap untuk bisa mencanangkan program pendidikan inklusif bagi seluruh lapisan pendidikan di Indonesia. Dengan kerjasama orang tua, sekolah, dan didukung oleh program pemerintah, pendidikan inklusif dapat diterapkan lebih maksimal sehingga semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar.

IMG-20150908-WA0118

 

Advertisements

2 thoughts on “Sepotong Kisah Tentang Anak-anak yang Luar Biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s