Luapan Rindu untuk Mama

Setiap kali aku mendengar lagu Di Beranda yang dilantunkan oleh Banda Neira, yang selalu ada dalam pikiranku cuma satu: mama. Rinduku selalu tertuju padanya. Kadang aku berandai-andai masih bisa menghabiskan waktu dengannya. Namun, rindu Tuhan padanya amat jauh lebih besar. Makanya mama dipanggil untuk menghadap Tuhan pada usianya yang tepat 50 tahun.

Lagu Di Beranda berisi tentang percakapan ayah dan ibu yang anaknya pergi untuk sementara, mungkin untuk mengajar mimpinya dan menggapai cita-citanya. Sang ibu begitu rindu pada anaknya. Tangis rindunya tak bisa ia cegah. Sang ayah lalu menenangkan sang ibu dengan berkata bahwa nantinya anaknya pun pasti akan pulang ke rumah. Seperti ini kira-kira liriknya:

Oh, Ibu tenang sudah
Lekas seka air matamu
Sembapmu malu dilihat tetangga

Oh, Ayah mengertilah
Rindu ini tak terbelenggu
Laraku setiap teringat peluknya

Kini kamarnya teratur rapi
Ribut suaranya tak ada lagi
Tak usah kau cari dia tiap pagi

Dan jika suatu saat
Buah hatiku, buah hatimu
Untuk sementara waktu pergi
Usahlah kau pertanyakan
Ke mana kakinya kan melangkah
Kita berdua tahu, dia pasti
Pulang ke rumah

Mendengarkan lagu Di Beranda membuatku menerka-nerka mungkin kira-kira seperti itulah perasaan mama kepadaku saat aku tidak ada di rumah, sibuk dengan urusannya. Sayangnya, aku begitu tidak peka dengan perasaanmu. Maafkan aku, Ma.

Saat mama masih hidup, rasanya waktu bersantaiku dengannya memang terasa kurang. Mama sibuk kerja. Maklum, mamalah tulang punggung keluarga. Kami pun jarang rekreasi ke luar karena mama sendiri tidak suka jalan-jalan.

Saat kuliah, aku sibuk dengan berbagai organisasi dan kegiatan kampus yang aku ikuti. Tapi, mama mengerti dan mendukung segala kegiatanku karena mama tahu bahwa kesibukanku akan membawa hal positif untuk diriku.

Saat aku pindah rumah ke Sawangan, aku harus ngekos karena tidak sanggup menempuh jarak yang begitu jauh untuk bekerja. Sabtu atau Minggu kadang aku pulang. Itu pun rasanya cuma sebentar. Mama saat itu sudah tidak bekerja lagi karena kesehatannya yang tidak mendukung. Lagipula, rumah kami begitu jauh dari tempat kerjanya.

Sekarang, rasanya aku ingin kembali merasakan kebersamaan dengan lebih dari itu. Namun, semuanya telah berbeda.

Tak ada lagi yang meneleponku untuk menanyakan apakah aku sudah pulang atau belum, sudah makan atau belum.

Tak ada lagi yang merawatku dengan penuh kasih sayang saat aku sakit.

Tak ada lagi yang cerewet mengingatkan aku untuk makan tepat waktu karena sakit maag yang aku derita sudah akut.

Tak ada lagi yang memasakkan aku makanan begitu lezat di rumah. Tak ada ayam bumbu bali, tak ada rendang, tak ada pindang.

Waktu itu aku pernah menghadiahkan mama macam-macam jajanan pasar sederhana yang kutata sedemikian rupa sebagai kado Hari Ibu. Aku tahu kau begitu bahagia, Ma, meski tak kau luapkan dengan membuncah kebahagiaanmu itu. Namun, aku tahu kau sangat bahagia. Itu adalah kado Hari Ibu pertama yang aku berikan untukmu, Ma.

Di Hari Ibu tahun lalu, aku membuatkan puisi untukmu. Lalu aku ingat kau akan membuatkanku ayam bakar spesial saat aku pulang ke rumah. Namun, puisi itu tak pernah sampai padamu. Aku pun tak sempat mencicipi ayam bakarmu. Kau telah terbaring kritis di rumah sakit.

Waktu itu, aku pernah bermimpi akhirnya aku bisa memelukmu pada saat hari pernikahanku. Aku senang sekali dan berharap momen itu segera terjadi. Sayang, kau pergi lebih dulu. Padahal aku ingin. Aku ingin sekali dipeluk olehmu, mama. Apalagi di saat momen penting pernikahanku.

Aku sempat menyesali mengapa saat kau sakit hanya sedikit waktu yang aku luangkan untukmu. Namun, sesal itu tak ada gunanya sama sekali. Yang bisa aku lakukan hanyalah mengirimkan doa untukmu agar aku senantiasa merasakan pelukmu setiap hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s