Selamat Jalan Andi

Kadang masih terbesit rasa tak percaya kalau kamu sudah pergi menyusul ayahmu, Ndi. Barusan aku buka-buka lagi foto-foto di Facebook, dan foto-foto yang ada kamunya ngingetin aku lagi tentang hebatnya diri kamu, tekad kamu, dan mimpi-mimpi kamu.

Terakhir aku ketemu sama kamu tiga bulan lalu, saat melayat alm. ayahmu. Waktu itu kamu sempat cerita kalau kamu ingin kuliah lagi, kuliah musik. Kamu cerita soal cita-cita kamu untuk jadi composer musik terutama untuk scoring film. Ternyata kecintaanku sama composer musik film kayak Hans Zimmer, Danny Elfman, dan teman-temannya itu juga bisa merasuki kamu saat kamu mulai ngutak-ngatik Sibelius dan bikin aransemen-aransemen, ehehehe, good job Ndi. Asyik kan main Sibelius.

Dulu aku ingat kalau kamu suka sharing hasil harya utak atik Sibelius kamu, hasil arransemen lagu buat anak-anak drumband yang kamu ajar. Aku kasih komentar, lalu kamu perbaiki. Ternyata sampai sekarang mimpi kamu masih sama yah dan kamu masih berusaha.

Kamu juga cerita soal keinginan kamu untuk belajar bahasa Inggris lebih baik lagi sampai kamu datang ke Kampung Inggris di Pare. Kamu betul-betul keukeuh mau mempersiapkan buat tes IELTS untuk beasiswa. Waktu aku melayat kamu kemarin, Kak Sari sampai bilang kalau kamu sampai ajak ngomong dokternya pakai bahasa Inggris. Kak Sari juga cerita gimana usaha kamu bangkit dari kasur yang jelas-jelas bikin aku sedih dengarnya, Ndi. Di saat-saat terakhir pun kamu masih bisa nunjukin kalau kamu gigih orangnya.

Pertama kali aku kenal kamu tahun 2010. Kamu masuk jadi pasukan marching band pegang alat baritone. Aku ajarin kamu gimana cara pegang baritone yang bikin tangan tremor. Aku ajarin kamu cara niup. Kamu gak pernah ngeluh.

Aku suka nebeng sama kamu dulu. Padahal rumah kamu di Jakarta Timur. Aku di Jakarta Selatan. Tapi kamu antar aku sampai rumah. Sepanjang jalan kita sering cerita banyak. Mulai dari kuliah, marching band, masalah pacaran terus putus, sampai masalah-masalah gak penting. Begitu juga aku cerita banyak ke kamu.

Ketika kita berangkat ke Thailand, ada banyak pengalaman dan cerita lagi yang kita bagi. Sampai aku udah ga sesering dulu lagi ketemu kamu setelah 2013. Kadang kita masih kontak. Kadang ketemu di mana gitu. Sampai akhirnya aku ketemu kamu beberapa bulan sebelum ini untuk melayat alm ayah kamu yang meninggal.

Terakhir ngobrol sama aku kamu tanya soal harga rumah di Sawangan. Katanya pasca ayahmu meninggal kamu mau pindah rumah. Ternyata Allah kasih rumah yang amat jauh lebih indah dari rumah di Sawangan kan, Ndi.

Sedih, pasti. Tapi, bisa menjadi seseorang yang jadi tempat berbagi mimpi seseorang adalah sesuatu yang luar biasa buat aku. Di saat kamu sudah pergi pun kamu mengingatkan aku lagi soal mimpi-mimpi kamu yang kurang lebih juga pernah aku mimpiin: kuliah musik, bisa jadi composer musik. Ga harus kayak Hans Zimmer, yang penting bisa terus bermusik sesederhana apa pun caranya 🙂

Allah juga berhasil mengingatkan aku kalau kematian itu tidak mengenal usia. Sementara dosa-dosaku masih banyak. Semoga aku masih dikasih kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum dipanggil nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s