Dieng: Pak Haji dan Bu Haji Baik Hati

Day 1

Akhirnya kesampaian juga ke Dieng tahun ini. Kunjungan pertama ke Dieng aku ditemani dua orang temanku. Kami bertiga cewek-cewek berangkat ke Dieng naik bus Sinar Jaya jurusan Kampung Rambutan-Wonosobo pada pukul 3 sore.

Setelah menempuh 12 jam perjalanan kami pun tiba di Wonosobo pukul 03.30. Harusnya kami turun di Plasa, tapi karena kami bingung akhirnya bablas sampai terminal. Di terminal kami lontang-lantung cari angkot ke Plasa. Hingga akhirnya ketemu juga angkot ke arah plasa yang melintas. Bukan angkot sih, itu bus jurusan Purwokerto yang berbaik hati mau nganterin perempuan-perempuan salah arah ini.

Sampai di Plasa kami naik mikro bus. Mikro bus ngetem dulu sampai jam 04.45. Setelah itu baru jalan. Udara semakin terasa dingin saat mikro bus mulai memasuki kawasan dataran tinggi Dieng. Di jalan kami menyaksikan prosesi matahari terbit dari balik bukit dan perkebunan warga sekitar.

Kira-kira pukul setengah enam pagi kami sampai di Pathak Banteng, daerah yang selatan dari pusat wisata Dieng. Kami sengaja menjauh dari pusat keramaian di Dieng. Tempat yang kami tuju di Pathak Banteng adalah rental outdoor mas Arief yang sampingnya ada warung makan Bu Halimah. Keduanya adalah kenalan kakak aku saat dia ke Dieng.

Ketika diturunkan di Pathak Banteng, pas banget ada musala di samping jalan masuk ke Desa Jojogan jadi kami salat subuh dulu. Ternyata wudhunya di bawah tanah, pas di bawah musalanya. Gelap. Airnya yang langsung keluar dari batu pun dingin banget. Brrr.

Setelah salat beruntungnya ternyata rental outdoor Mas Arief itu tak jauh dari musala, tinggal nyebrang dan jalan dikit. Rental masih tutup. Warung makan sudah buka. Kami pun menuju ke sana. Di sana kami bertemu ibu-ibu yang menyambut kami.

“Mbak Selvi ya?”

“Iya ibu, kok tau?”

“Iya Mas Arief titip pesan ke ibu. Mas Arief belum bisa ke sini”

“Ooh. Ibu namanya siapa?”

“Saya Bu Halimah”

Sejak saat itulah aku mengenal Bu Halimah dan suaminya yang begitu welcome dan baik hati. Bu Halimah punya usaha warung makan yang menyediakan tempat persinggahan bagi para pendaki Gunung Prau. Tempat singgah itu sederhana, hanya terdiri dari ruang tamu dan dua kamar.

Setelah ditawari sarapan oleh Bu Halimah, kami istirahat sejenak di tempat singgah. Bu Halimah menawarkan kami untuk menginap saja di tempat singgahnya. Berhubung juga ada kamar yang bisa dipakai. Bu Halimah tidak mematok harga apa pun. Kami pun mengiyakan.

Setelah istirahat sejenak Bapak, suami Bu Halimah, mengajak kami ngobrol dan menyarankan untuk pergi ke wisata zona satu pagi-pagi supaya tidak panas dan masih segar udaranya. Bapak menunjukkan jalan tembus menuju ke Telaga Warna. Akses jalan tembus itu dapat dilalui dari jalan masuk Desa Jojogan. Setelah melewati rumah penduduk dengan jalan yang terus menanjak, temanku Ega kelelahan, alias rada bengek, huahaha. Padahal baru nanjak segitu doang. Lalu apa yang kita lakukan? Ngetawain keras-keras huahaha. Karena teman yang baik tugasnya adalah menertawakan, yang tugasnya menyelamatkan mah tim SAR. Huahaha.

Pemandangan kanan kiri kami berubah menjadi perkebunan bawang, kubis, terong belanda, carica (buah mirip pepaya boncel asli Dieng), dan berbagai sayur mayur lainnya. Pokoknya segar sekali dipandang mata.

Setelah melewati perkebunan kami pun melintasi jalan setapak yang dengan rerimbun pohon di kanan kiri. Tak lama kemudian mulai tampaklah Telaga Warna. Kesan pertama saat lihat telaga itu: gak terlalu spesial dan BAU! Iya bau belerang gitu.

telaga warna
Ini foto teman aku, yang fotoin aku

Karena kami lewat jalan tembus, kami gak melewati pintu depan Telaga Warna yang mana itu artinya kami gak bayar tiket masuk :p Kami lanjut keliling-keliling sekitaran telaga warna sampai akhirnya ke Dieng Plateu Theater. Tapi destinasinya bukan ke sana, kami melipir ke sebuah batu yang dari situ pemandangannya lumayan. Foto-fotolah akhirnya. Karena aku yang pegang kamera dengan kualitas jepretan paling bagus di antara mereka, jadilah aku tukang foto -.-‘

batu pandang
Ini foto teman aku lagi, yang fotoin ya aku lagi

Setelah itu, kami jalan agak jauh. Ceritanya mau ke Candi Arjuna dan Kawah Sikidang. Tapi kami mengurungkan niat untuk ke kawah karena pasti bau belerang, males. Alih-alih mau jalan terus sampai Candi Arjuna, kami malah naik ojek karena yang lain pada kelelahan, aku ya ngikut aja. Kami naik ojek satu orang 10 ribu rupiah sampai ke pelataran belakang Candi Arjuna. Kata abang gojeknya: “Kalau naik ojek eneng gak bayar tiket masuk neng, saya anterin sampai belakang. Ya itung-itung dianterin plus gratis tiket masuk.

Dan benar saja kami diantar ke sebuah rumput lapang yang ada jalan tembus menuju Candi Arjuna. Kami pun bebas tiket masuk. Apakah ini ilegal, hahaha yaudah sih.

belakang candi arjuna
Akunya mana? Gak ada 😦

Candi Arjuna sedang dipugar kala itu. Yasudah kami jalan-jalan aja dan beli kue pancong :p

Setelah dari Candi Arjuna baru deh kami pulang menuju warung Bu Halimah untuk makan siang. Hari semakin siang namun langit semakin mendung. Untungnya kami sudah sampai di tempat Bu Halimah saat hujan turun.

Siang harinya kami mati gaya. Melihat kami sedikit bosan nunggu hujan akhirnya Bu Halimah mengajak kami untuk main ke rumahnya, melihat proses pembuatan carica. Ah aku senang sekali!

Rumahnya tak jauh dari warung makannya, kalau jalan kira-kira 3 menitlah. Sesampainya di rumah Ibu, aku melihat jajaran cup manisan carica, panci besar penuh dengan manisan carica. Ibu menyediakan gelas untuk kami mencicipi carica buatan ibu. Ibu juga menjelaskan bagaimana cara membuat carica. Tanpa malu-malu, aku cobain manisan caricanya tiga gelas, bahahaha. Itu mah bukan nyobain tapi doyan.

 

Day 2

Pertanyaannya adalah “Jadi Mas Arief yang mau nemenin kita jalan-jalan ke mana sih?? Php! Katanya mau nemenin tapi ga muncul-muncul batang hidungnya.” Nah akhirnya terjawab juga kalau ternyata usut punya usut Mas Arief malah nanjak ke Gunung Slamet saat hari ketibaan kami di Dieng. Ih bete. Mbok ya kabarin kek.

Ya sudahlah untung aja ada temannya Mas Arief yang mau nemenin kami jalan-jalan, namanya Mas Khoirul.

Hujan mengguyur Dieng tadi malam. Aku tidur meringkuk kedinginan. Memang dingin banget sih, padahal itu di dalam kamar.

Dengan mata yang masih berat dan udara dingin yang ngajakin bobo mulu, kami memaksakan diri bangun jam 3 pagi karena mau lihat sunrise di Sikunir. Ternyata gak worthed. Ramai banget. Dan mendung. Jadi sunrisenya gak kelihatan, haha.

Untuk menghibur kekecewaan kami Mas Khoirul mengajak kami ke Savana. Ternyata di sana lebih worthed untuk sunrise kabarnya. Untuk mencapai ke sana kami harus nanjak dan turun selama 30 menitlah kira-kira, baru deh nemu tempat ini, sebuah ceruk besar di atas bukit dengan hamparan rumput hijau nan luas yang dipagari oleh pohon cemara (ngarang, bukan cemara, ga taulah pohon apa -.-)

img_9243
Akhirnya ada akuuuu yaaa, meski kecil juga ga keliatan -.-‘

savana

Habis main dari Savana kami pulang ke tempat Ibu, beres-beres, mandi, packing, lalu beneran pulang, meninggalkan Ibu, keluarganya, dan Mas Khoirul. Aaaah sedih 😦 Orang-orang itu welcome banget. Itu yang jadi alasan kalau nanti aku balik lagi ke Dieng, ketemu Ibu, Bapak, Mas Khoirul, dan Mas Arief yang mau nanjak gak bilang-bilang, iisshhh.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s