Perjalanan dan Diri: Traveling Outside, Traveling Inside

“Perjalanan bertualang, entah hanya dinikmati di rumah ataupun betul-betul langsung berkunjung, lebih tentang apa yang bisa dilihat dalam diri kita, bukan yang bisa dilihat di luar sana”

-Lawrence Blair-

Saat ini saya sedang membaca buku “Ring of Fire”, sebuah catatan perjalanan dua kakak beradik Blair mengelilingi Indonesia. Tentu isinya sangat menarik karena mengungkapkan betapa kaya sekaligus misteriusnya tanah air kita. Namun, terlepas dari isinya, saya pun sangat tersentuh dengan kutipan Lawrence Blair di atas yang sangat saya amini dan angguki beribu-ribu kali.

Perjalanan. Kata itu begitu sakral bagi saya.

Apakah makna perjalanan bagi hidup saya sebenarnya?

Saya paham bahwa saya senang memaknai sesuatu menjadi lebih. Dan pemahaman terhadap diri saya sendiri itu akhirnya berhasil saya deklarasikan kepada seseorang beberapa tahun lalu saat ia bertanya, “Esensi hidup kamu sebetulnya apa?” Pertanyaan yang nyebelin. Akhirnya saya jawab, “Bisa memaknai hidup saya”. Dia pun lanjut bertanya lagi, “Memang makna hidup kamu itu apa? Seperti apa?”. Kujawab, “Nah, itulah yang harus saya cari. Makna keseluruhan dari hidup saya. Untuk memahaminya ya butuh proses sampai akhir hayat. Karena yang lebih paham sama diri saya itu Tuhan.”

Saya memaknai pagi sebagai sesuatu yang sangat istimewa, memaknai tumbuhnya anggrek saya sebagai sebuah bahagia yang luar biasa, dan banyak hal lagi.

Akhirnya, setelah saya membaca kata-kata Lawrence Blaire yang saya kutip di atas, saya semakin yakin bahwa untuk bisa memaknai setiap jengkal hidup saya bukan semata melakukan perjalanan yang kelihatan,  tetapi melakukan perjalanan di dalam diri sendiri. Proses memaknai sumbernya ada di dalam diri. Semua itu cuma dipahami sama diri sendiri. So, I don’t give a shit to someone’s freely judgment about myself which often sounds rude.

Kuncinya memang ada di dalam diri. Tapi bagaimana sebetulnya diri saya? Rasanya saya perlu mengonfirmasi diri saya sendiri berkali-kali apakah saya betul-betul memahami 100% diri saya. Betul, yang lebih memahami diri saya sepertinya Tuhan, bukan saya. Rumi pernah berkata begini “Kucari Tuhan dan kutemukan diriku. Kucari diriku dan kutemukan Tuhan. Temukan dirimu agar bisa kau temukan-Ku”. Saya suka sekali kata-kata itu.

Jadi, perjalanan-perjalanan semacam traveling dan berbagai bentuk ngetrip lainnya hanya sebagian kecil dari cara saya untuk memaknai perjalanan di dalam diri saya. Ada dunia yang lebih luas dari yang saya lihat, yaitu di dalam diri saya.

Ketika saya melakukan perjalanan ke suatu tempat, ketika ada kesempatannya saya diam sembari melempar pandangan ke mana saja dan termenung, di situlah saya merasa bisa melesap masuk ke dalam diri saya.

Sebetulnya, kita pun bisa melesap masuk ke dalam diri kita ketika melakukan sesuatu yang kita suka, seperti mendengarkan musik, membaca, atau menulis. Yang kedua yaitu kalau sedang ada masalah. Seseorang bisa ketahuan sifat aslinya saat dihadapkan oleh masalah. Dan itulah fase yang tepat untuk memahami diri sendiri.

Jadi, sebetulnya ada semesta di dalam diri kita yang luasnya tak kalah dari semesta yang dapat dilihat oleh mata. Sebagian orang ada yang berusaha menjelajah untuk mencari esensi. Sebagian lagi, memilih untuk tidak peduli. Bagi saya, “If you like to traveling outside, don’t forget to traveling inside”.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s