Satu Pagi, Dua Batas Dunia

Pagi ini aku terbangun agak lebih bersemangat karena kita akan menggenapkan janji kita untuk menikmati pagi bersama-sama. Waktu beberapa kali telah memberikan toleransi kepada kita atas penundaan dari rencana yang kita susun. Kita memang senang menunda-nunda. Namun, kali ini kita tak ingin mengecewakan rencana itu. Kita akan bertemu.

***

“Pagi bukan sekadar elegansi, tapi kesakralan”, itu katamu saat pertama kali kutanya mengapa kamu begitu mengagumi pagi. Alasan yang begitu sarat akan filosofi dan spiritualitas. Berbeda dengan alasan saya: “karena pagi adalah objek foto yang menarik”. Yah apalah daya seorang laki-laki yang cuma suka fotografi. Pikiranku tak mampu menjangkau makna-makna filosofis apalagi disuruh merangkai kata-kata dengan baik. Isi otak saya cuma tentang bagaimana mendapat angle dan pencahayaan yang bagus. Terlepas dari alasan yang berbeda, intinya kita sama-sama mengagumi pagi. Bedanya, alasan kamu lebay, sementara alasan saya praktis.

Perjumpaan saya dengan kamu, perempuan yang menjelma embun (katanya sih gitu, gak terlalu paham juga maksudnya apa), berawal dari akun Instagram. Saya menelusuri akun kamu setelah kamu like foto saya yang mengambil latar pagi di Eastern Walkway. Setelah itu, barulah saya tahu bahwa kamu belum lama tinggal di kota ini sebagai mahasiswa.

Kita terhitung jarang ngobrol banyak. Boro-boro ngobrol banyak, ketemu saja belum pernah. Namun, ada satu hal yang akhirnya mengikat kita pada kecintaan yang sama: bertukar foto-foto pagi, tanpa banyak basa-basi. Mula-mula menjadi pemberi like yang murah hati, hingga akhirnya berbagi komentar dan saling tag foto. Terakhir, saling berkirim direct message dan bertukar nomor ponsel.

Perihal kualitas foto, foto sayalah yang juara tiada tandingannya. Kalau soal caption, oke saya akui kamulah juaranya. Kamu yang bilang bahwa tanganmu seringkali tidak apik kalau memegang kamera. Jadi, semua foto-foto pagi yang kamu kirimkan itu adalah berkat keajaiban Tuhan Pemilik Semesta hingga tetiba foto yang kamu tangkap sangat indah. Mukjizat.

***

Pagi masih begitu belia menyambut musim semi bulan pertama di Wellington. Aku meluncur ke Wellington Botanic Garden menggunakan birdy folding bike kesayanganku untuk mengejar janji denganmu pukul lima. Kakiku semakin memainkan pedal dengan cepat. Aku melaju dengan kecepatan tinggi, tak peduli dengan udara dinginnya pagi.

Sesampainya di Wellingtone Botanic Garden, aku bergegas memarkirkan sepedaku. Oke aku telat 10 menit. Tak lama, ponselku kemudian berdering.

“Halo”

“Halo, kamu di mana, Sel?”

“Ini baru parkir sepeda. Sebentar sebentar.”

“Kamu pakai baju apa?”

“Hitam, celana coklat.”

Aku segera bergegas menuju bangku taman. Namun, ada seseorang yang mencoba menghalau langkahku. Ia memegang lenganku karena aku jalan menerabas saja. Aku sampai kaget.

“Eh! Apaan nih!”

“Hey, aku Bima. Dari tadi aku lambai-lambai tangan bukannya sadar malah jalan seradak-seruduk aja mentang-mentang ini taman masih sepi. Sampai harus dipegangin tangannya.”

“Oh. Kamu Bima. Hai, Bima! Hehehe.” Aku mencoba tersenyum menyapanya dengan napas tersengal-sengal.

“Atur dulu deh napas kamu. Kok telat sih?

“Yaelaah 10 menit doang. Makanya tadi aku cepat-cepat.”

“Tuh, kayak gini nih orang Indonesia, kebiasaan jelek dibiasain. Dibawa-bawa lagi di negeri orang.”

“Ih, apaan sih. Iya iya ah.”

Aku melongo. Yah, baru pertama ketemu udah dimarah-marahin, ucap batinku dalam hati.

“Jadi kita mau ke mana, Bim?”

“Eastern Walkway lah.”

Aku melongo sejenak.

“Heh, buruan! Keburu siang ntar,” tegur Bima.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s