Mudik Part 3: Menuju Sungai Naga Putih

Hari ini entah hari ke berapa aku mudik. Entah hari ini hari apa juga. Kalau lagi liburan buat aku setiap hari sama aja, makanya suka lupa hari, ahahaha.

Kali ini aku dan keluarga aku mau pergi ke sebuah sungai yang letaknya agak jauh dari rumah Uwak, namanya Sungai Naga Putih. Karena jarak yang jauh, kami konvoy menggunakan motor untuk sampai ke sana. Perjalanan menjadi luar biasa bukan hanya karena jarak yang jauh, tetapi juga karena medan jalan yang menantang serta terik matahari yang tiada ampun karena kami pergi di siang bolong. Kira-kira pukul 12.00 kami berangkat. Aku dibonceng sama Uwak.

Pokoknya kalau tengok kanan ada hutan, kiri hutan, depan belakang juga hutan. Semua hutan. Aku heran sama Uwak dan orang-orang di sini, apa mereka gak nyasar ya dengan jalan kayak gini.

“Ya kalau biasa lewat hutan kayak Uwak ya gak bakal nyasar” kata Uwak.

“Oh iya Uwak. Emang bener ini motor Uwak gak ada remnya? Trus gimana kalau mau ngerem?” tanya aku yang agak khawatir setelah sebelumnya dikasih tau sepupuku kalau motornya Uwak gak ada remnya.

“Ada kok” kata Uwak.

“Mana??”

“Rahasia” Dengan santai Uwak bilang begitu, haaaa. Aku agak khawatir jadinya. Tapi melihat Uwak yang bawa motornya lincah banget jadi cukup percaya sih. Uwak udah tua tapi kalau bawa motor kayak orang mau balapan. Mana ini jalanan batu semua.

Akhirnya, kami berhasil keluar dari hutan. Yeeeay, mari kita beri tepuk tangan. Setelah keluar hutan rasanya matahari jauh lebih menyengat panasnya. Kami berhenti sejenak karena beberapa ada yang mau salat zuhur.

Kira-kira perjalanan dari rumah kami menuju Sungai Naga Putih memakan waktu satu jam dengan menerjang hutan karet, debu, dan panas yang menyengat. Akhirnya terbayarlah perjalanan kami. Kami sampai di lokasi. Ini dia sungainya.

air-terjun-naga-putih

Sungguh pemandangan yang elok. Desa banget pokoknya. Sungainya masih jernih. Tapi kalau mau nyebur harus berpikir dua kali sepertinya karena arusnya agak deras, takutnya malah terbawa arus.

Sungai Naga Putih ini terletak di Kampung Samanan, Dolok Merawan, Sumatra Utara ini konon mempunyai legenda. Alkisah sungai ini dulu pernah dilewati oleh seekor naga putih. Namun, sayangnya naga putih ini mati di tengah perjalanan. Bangkainya pun lama-kelamaan menjelma menjadi bebatuan putih besar yang berada di sepanjang sungai. Itulah mengapa sungai ini dinamakan Sungai Naga Putih. Sementara kampungnya dikenal dengan julukan Kampung Naga Kesiangan.

Sungai ini juga dikenal oleh warga sekitar dengan sebutan Ancol. Berbeda dengan Ancol di Jakarta yang ramai dengan orang yang rekreasi, Ancol di sini masih asri.

Aku duduk-duduk di bebatuan sungai, tapi tidak bisa berlama-lama karena panas matahari menyengat. Aku dan saudara-saudaraku pun harus segera pergi ke tempat lain. Jadi, sebelum beranjak dari sungai, agaknya foto-foto dulu buat kenang-kenangan, hihi.

air-terjun-naga-putih-2

Setelah sukses foto-foto aku dan saudara-saudaraku pun beranjak dari sungai. Kami akan pergi menuju ke tempat pemancingan untuk memancing ikan mas yang nantinya akan dimasak menjadi menu andalan yaitu arsik ikan mas untuk menu hidangan berbuka puasa.

Di jalan menuju pemancingan kami melewati tebing yang banyak pepohonannya. Di sana juga ada air yang mengalir dari pegunungan. Kami cuci muka di sana biar segar. Salah satu keponakanku ada yang ketahuan minum air itu. Katanya gak tahan, yaa batal dong ya puasanya, ahahaha.

Di area tebing ternyata banyak monyet liar bergelantungan. Ketika ada suara truk yang membawa kelapa sawit akhirnya monyet-monyet itu pada kabur. Ini truknya.

truk-kelapa-sawit

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s