Mudik Part 4: Bertualang ke Danau Toba dan Pulau Samosir

Setelah bosan dua hari aku gak ke mana-mana, akhirnya tiba juga aku bertualang ke danau terbesar se-Asia Tenggara! Awalnya aku mau pergi berdua saja dengan sepupu aku, tapi om aku melarang karena dia khawatir kalau aku nanti digangguin sama cowok batak pelabuhan, heu-.-‘. Alhasil aku pergi ditemani oleh om dan dua sepupu aku.

Pukul 06.00 pagi kami berangkat naik motor. Ternyata di luar dugaanku, udara betul-betul dingin selama perjalanan! Terlebih karena perjalanan kami mengarah ke dataran yang lebih tinggi daripada Pematang Siantar yang panasnya kayak setan!

Awalnya pemandangan kanan kiri ada rumah penduduk beserta jajaran penjual babi baik yang udah dipanggang maupun yang masih digantungin sebadan-badannya. Lalu pemandangan kuburan orang batak. Kuburannya cakep-cakep. Lalu sawah, lalu…. akhirnya kanan kiri pohon rindang. Eh ada juga monyet-monyet liar di pinggir jalan. Yak, itu tandanya kami sudah memasuki kawasan hutan lindung. Tak terasa sudah dua jam dan kami sudah berada di Jalan Raya Lintas Tengah Sumatra. Udara di sini jauh lebih dingin.

Tak lama kemudian, aku sudah ada di daerah Parapat. Terlihat teduhnya Danau Toba dari kejauhan. Cantiknya…. Aku semakin bersemangat! Di jalan aku berhasil ambil foto ini.

parapat
Katanya si Yudith foto aku cakep, kemajuan katanya. Tapiii fotonya kayak iklan mobil, ahaha.

Katanya si Yudith foto aku cakep, kemajuan katanya. Tapiii fotonya kayak iklan mobil, ahaha.

Danau Toba semakin dekat dan makin terlihat jelas. Aku kagum sendiri, gila ini danau gede amat.

Karena aku mau nyebrang ke Pulau Samosir aku harus merapat ke pelabuhan. Kalau mau naik ferry, kita menuju Pelabuhan Ajibata, Parapat. Kapal dari Ajibata akan menuju ke Pelabuhan Tomok, Samosir. Kapalnya ada tiap 30 menit sampai 1 jam sekali.

Kapal ferry di sini ditujukan untuk orang-orang yang bawa kendaraan bermotor. Harga tiketnya dihitung per kendaraan, bukan per orang. Kalau tarif per sepeda motor sih 32 ribu rupiah sekali jalan. Cukup terjangkau. Kalau harga tiket mobil aku kurang paham.

Oh iya, di pelabuhan itu pemandangannya gak bagus, makanya baiknya segera nyebrang ke Samosir. Kalau mau lihat Danau Toba dari Parapat mending cari tempat ketinggian, kayak Batu Gantung misalnya. Atau pergi ke daerah lain selain Parapat, semisal Balige. Di Balige banyak spot bagus. Atau ke Pusuk Buhit yang populer. Atau ke Tanjung Unta yang lebih sepi dan menenangkan.

Perjalanan dari Parapat ke Tomok naik ferry kira-kira memakan waktu satu jam. Selama di ferry, aku menikmati pemandangan Danau Toba yang begitu teduh dan megah.

Kira-kira jam 09.30 sampailah di Tomok! Destinasi pertama kami adalah ke Museum Batak. Sebetulnya ini sambil lewat aja sih gak direncanain. Di dalam Museum Batak ini ada macam-macam ulos, alat musik, dan artefak-artefak, patung-patung, serta sebuah boneka si gale-gale. Sayangnya museum ini tidak cukup informatif. Harapannya kan di museum orang bisa tahu informasi seputar suku batak dan apa yang ada di dalamnya. Ya banyaklah museum di Indonesia yang nasibnya kayak gini. Ini museum dan koleksi patung-patungnya. Oh iya untuk masuk ke museum itu dikenakan biaya 3000 atau 4000 rupiah gitu aku lupa.

Destinasi selanjutnya adalah ke Makam Raja Sidabutar, kuburannya raja batak zaman dahulu. Pokoknya isinya keturunan Sidabutar semua. Lokasinya tak jauh dari pasar souvenir di Tomok. Untuk masuk ke makam kita tidak dipungut biaya, cuma ada kotak sumbangan sukarela di pintu keluar. Nah, untuk masuk ke sini kita wajib pakai ulos dan didoain gitu sama juru kuncinya. Kenapa? Soalnya pengalaman banyak yang kesurupan, apalagi yang ngomongnya sembarangan di kuburan, hiiii. Makanya si bapak juru kunci mengingatkan untuk menjaga sikap dan lisan.

makam-sidabutar
Ini makam Raja Sidabutar yang paling baheula
Kalau ini makamnya udah agak kekinian dikit. Gak deng tetep aja tahunnya 1800-an, heu
Kalau ini makamnya udah agak kekinian dikit. Gak deng tetep aja tahunnya 1800-an, heu

Dari Tomok selanjutnya kami menuju Desa Siallagan. Jaraknya kira-kira 20 menit dari Tomok kalau naik motor gak pakai nyasar. Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan kanan bukit hijau, kiri danau yang udah kayak laut saking luasnya.

Di desa itu kami mampir ke sebuah tempat namanya Batu Parsidangan Huta Siallagan. Tempat itu adalah semacam pengadilannya orang batak pada zaman dahulu. Di bawah pohon besar, entah pohon beringin atau apa, terdapat meja batu yang dikelilingi oleh kursi-kursi batu. Di sanalah tempat persidangan dan eksekusi pagi para pelanggar aturan. Kabarnya dulu masih zaman kanibalisme. Jadi orang-orang yang dihukum, dipotong-potong, dagingnya dibagikan ke warga untuk dimakan. Hiiiii serem amaaaat.

Lihat tempat persidangannya aja u
Lihat tempat persidangannya aja udah serem, hiii

Ada lagi yang menarik, yaitu replika seorang laki-laki yang dipasung. Nah kata pemandunya, replika ini menampilkan hukuman yang dialami laki-laki batak pada zaman dahulu. Jadi, kalau di batak itu yang namanya perempuan itu dihormati banget, apalagi seorang mamak. Makanya orang batak patuh banget sama mamaknya. Jadi kalau ada perempuan yang sudah menikah dengan seorang laki-laki, kemudian laki-laki itu ketahuan selingkuh maka si laki-laki harus di hukum pasung. Ngeri juga, huft.

batu-parsidangan
Wahai laki-laki jangan suka menyakiti wanita yah, ntar dipasung kayak gini :p

si-gale-gale

Syarat sah ke Samosir: Foto bareng Si Gale-gale

 

 

Setelah menuntaskan syarat sah berfoto bareng si gale-gale, kami pun beranjak untuk menuju destinasi selanjutnya. Kami menuju jauh ke arah utara untuk pergi ke Pantai Pasir Putih Danau Toba. Danau kok ada pantainya? Iya ini danau ajaib, saking besarnya ada pasir pantainya kayak laut.

Hari semakin terik. Dua sepupu aku yang berpuasa mulai tergoda imannya, hahaha. Kalau aku sih lagi menstruasi jadi gak puasa. Om aku juga gak puasa. Akhirnya setibanya di Pantai Pasir Putih, tempat pertama yang kami tuju adalah tukang jual minuman. Dan berbukalah dengan yang manis~ Jam 1 siang sepupu aku menyerah, ahaha.

Setelah menuntaskan rasa dahaga, basahin tenggorokan yang kering, kami menyusuri bibir pantai dan mengambil beberapa foto. Untuk seukuran danau, ini pemandangan yang cukup cantik. Tapi sayangnya banyak orang. Katanya kalau mau cari yang sepi bukan pantai yang sebelah sini, kami salah lokasi. Tapi tak apalah.

pasir-putih-toba
Danau cantik, tinggal kurang sepi dikit. Padahal kayaknya udah sepi tuh. Apasih, gajelas abaikan~

Selanjutnya destinasi terakhir sebelum akhirnya kami menyerah untuk balik ke Tomok dan menyebrang ke Parapat lagi adalah pergi ke sebuah kampung. Hah ngapain ke kampung? Iya jadi aku ada urusan bisnis gitu jadi kudu mendatangi pengrajin ulosnya langsung. Aku mau cari pengrajin ulos yang masih tradisional belum pakai mesin gitu. Demi memenuhi keinginanku ini kami naik motor lagi selama setengah jam. Gempor.

Aku sampai kampung ulos, ngobrol sama pengrajinnya. Udah, kelar. Kami balik ke Tomok. Dari kampung ulos ke Tomok itu kira-kira dua jam naik motor dengan ngebut. Jauh ya. Iya emang secara kami sudah mengitari hampir setengah Pulau Samosir.

Di Tomok kami kelelahan karena keliling naik motor panas-panasan dan belum makan siang. Setelah beli tiket ferry balik ke Parapat, kami makan dulu baru pulang. Oh iya usahakan sampai di Pelabuhan Tomok itu maksimal jam 3 karena kapal terakhir itu jam 4-an. Ya biar aman aja beli tiketnya.

Beginilah petualangan Toba-Samosir aku seharian. Tak sabar besok abis lebaran kira-kira aku akan jalan-jalan ke mana lagi yaa. Waktu terasa masih panjang sebelum kepulangan aku ke Jakarta.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s