Kang Nasi Goreng

 

“Apabila waktu adalah ibu dari setiap kesempatan, berarti kita telah durhaka. Ibu telah murka.”

Segala yang ada di dalam diri kamu seolah selalu salah. Apa yang kamu lakukan seringkali salah. Cara kamu memilih pakaian jelas salah. Cara kamu memilih pekerjaan juga salah. Tapi cuma ada satu yang sampai sekarang tidak pernah salah: cara kamu membuat nasi goreng.

Kamu bukan seseorang yang punya euforia kuliner yang tukang makan di suatu tempat, foto makanannya, upload, dan taraaa tingkat kebahagiaanmu meningkat. Kamu biasa-biasa saja. Kamu tidak pernah marah kalau aku sebut “kang nasi goreng”.

Kita seringkali bertengkar soal makanan, seperti soal makan bubur harusnya diaduk atau enggak. Tapi ujung-ujungnya kita bisa tetap bersatu karena kita sama-sama memiliki komitmen untuk mengamalkan sila ketiga yang berbunyi “persatuan di atas meja makan!”

Malam ini, kamu memasak nasi goreng terakhir di tanah air. Aromanya menembus ke segala penjuru. Nikmatnya tiara tara. Nasi gorengmu habis seketika.

Besok pagi kamu akan berangkat ke bandara. Sementara malam ini, sepertinya aku akan memanen berkantung-kantung air mata.

“Apabila waktu adalah ibu dari setiap kesempatan, berarti kita telah durhaka. Ibu telah murka.” Ini yang aku selipkan di kantung bajumu tadi malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s