Asyik Sendiri Jalan-jalan di Osaka

Setelah gagal merencanakan berlibur ke New Zealand (yaiyalah gagal, berasa banyak duit aja padahal ga kekumpul mau nabung gimana juga), akhirnya aku tetap memutuskan untuk menghabiskan liburan akhir tahun dengan pergi jauh. Sendirian saja.

Saat kubuka situs airasia.com, mataku tertuju pada tiket penerbangan Jakarta-Osaka. Selang satu minggu, akhir Agustus, aku beli tiketnya. Harga tiket yang aku dapat untuk keberangkatan adalah 2,4 juta. Lalu pulangnya dapat tiket seharga 3,6 juta. Total semuanya 6 jutaan TANPA BAGASI. Jadi, aku hanya mengandalkan cabin 7kg, cukup membawa tas ransel dan tas tangan saja. “Kok bisa cuma bawa ransel aja? Kamu 12 hari lho di Jepang dan musim dingin pula.” Beberapa temanku yang bertanya seperti itu. Jawabannya adalah cukup banget! Aku jelaskan di postingan sebelumnya alasannya.

Oke aku udah beli tiket. Lalu? Gak tau. Baru deh aku  mikir di sana mau ke mana saja sembari juga browsing cari info. Lalu kepikiran: “oh iya ya aku punya teman yang kebetulan tinggal di Osaka. Terakhir kali ketemu tiga tahun lalu. Sekarang dia sudah punya anak di Jepang”. Jadi, pas banget aku memilih destinasi Jepang, sekalian temu kangen.

Selama beberapa bulan aku tidak berhenti cari info soal Jepang, mulai dari bagaimana negaranya, orangnya, akomodasi, makanan, dan semuanya.

Bulan demi bulan berlalu. Akhirnya pada akhir Oktober aku iseng posting rencana liburan aku ke Jepang di www.backpackerindonesia.com. Bulan November ada seseorang yang memastikan dia akan ke Jepang akhir tahun, namanya Rebecca. Tapi keberangkatan dan kepulangan kami tetap berbeda beberapa hari. Jadi, intinya kami ketemu di Jepang saja. Desember, aku dapat seorang teman, orang Indonesia yang sedang training kerjaan 2 tahun di sana, namanya Lucky. Dia menawarkan Rebecca dan aku tinggal di apartemennya  selama beberapa hari. Yes, bisa irit budget 😀

Sebetulnya buat aku liburan itu utamanya bukan soal tempat-tempat wisata apalagi yang tourist spot banget. Liburan itu soal bagaimana aku bisa merasakan lingkungan baru, bersentuhan langsung dengan budaya baru, bertemu dengan orang baru, dan dipaksa untuk cepat menyesuaikan diri. Terlebih lagi keterbatasan bahasa yang ada membuat lebih menantang. Soal makanan, itu sudah tentu. Ke tempat baru berarti mencicipi makanan baru. Aaah aku pasti akan banyak makan^^ Jadi liburan mau luar negeri atau dalam negeri itu yang penting pengalamannya, bukan soal jarak, tapi pengalamannya.

Day One

kansai-airportPagi hari di tanggal 22 Desember 2016 pesawatku mendarat di Kansai International Airport. Hal pertama yang aku lakukan adalah pergi ke toilet karena kebelet pipis. Saat memasuki toilet aku agak terperangah norak melihat toilet high tech milik Jepang yang banyak banget tombolnya ini. Mau aku coba pencet satu-satu tapi takut jadi konslet. Hahahaha gak deng, gak senorak itu juga -.-

Setelah pipis, aku langsung menuju airport post office untuk mengambil pocket wifi yang aku pesan di Sakura Mobile. Petugas post office memintaku untuk menunjukkan bukti pemesanan wifi dan pasporku. Lalu, ia pun menyerahkan sebuah amplop besar yang isinya pocket wifi pesananku. Urusan pocket wifi selesai.

Tepat di samping post office alhamdulillah ada Family Mart. Aku haus sekali dan juga lapar. Aku membeli air mineral, onigiri, jelly, serta pisang untuk mengisi perut. Awalnya aku membeli hot dog gitu, iseng nanya sama mbaknya di kasir dengan bahasa Jepang yang aku dapat dari google translate: buta niku no… bla bla bla apalagi lupa. Intinya nanya ini ada babinya ga? Aku gak bisa makan babi. Eh ternyata benarlah itu sosis daging babi. Coba kalau gak tanya, jadi bisa ngerasain babi, lol :p

Setelah berjibaku dengan masalah perut, aku kembali mengotak-atik pocket wifi aku. Aku ikuti langkahnya sesuai petunjuk yang ada. Kemudian, tadaaa! Wifi sudah bisa digunakan. Sakura Mobile ini sangat direkomendasikan karena harganya murah dan koneksi lancar. Meski di beberapa tempat tertentu yang terpencil memang agak kurang bagus sinyalnya. Tapi wajarlah namanya juga terpencil.

Dari post office aku lanjut menuju ke JR Office untuk membeli beberapa kartu yang akan aku gunakan untuk naik kereta selama di Jepang. JR Office letaknya ada di lantai 2F seberang terminal domestik. Tapi, sebelum ke sana aku melewati Pokemon Store. Aaah, unyu semua barangnya.

%e4%bc%8a%e4%b8%b9%e7%a9%ba%e6%b8%af

Aku memutuskan untuk pakai Kansai One Pass, JR West Pass, dan Seishun Kippu sebagai senjata pengiritan dan kepraktisan untuk budget transport. Sudah aku jelaskan di postingan sebelumnya tentang kartu-kartu itu.

Selesai sudah segala urusan ini itu di airport. Ternyata lama juga aku menghabiskan waktu, 1 jam lebih. Selanjutnya aku jalan-jalan di airport sebentar, lalu makan. Zuhur pun tiba. Aku menuju ke musala di lantai 3 Kansai Airport. Musalanya bersih dan rapi.

Sebetulnya agenda aku di hari pertama adalah pergi ke Wakayama. Namun, sayangnya aku merasa lelah dan sudah siang juga. Akhirnya aku putuskan untuk menuju ke penginapan untuk check-in lebih awal, lalu istirahat.

Penginapanku letaknya tak jauh dari Tonoki Station. Kira-kira 45 menit dari Kansai Airport. Beruntung aku menemukan penginapan yang sangat murah ini. Sehari Cuma sekitar 1600 yen. Luar biasa.

izumifuchu-station
Menunggu kereta local dari Izumifuchu Station ke Tonoki Station. Sempat nanya sama orang Jepang, dia welcome banget ngasih taunya

Dari Tonoki Station aku jalan selama 5 menit menuju penginapan. Akses jalannya gampang banget. Sampai di penginapan ternyata gak ada orang. Cuma ada satu koper besar. Mungkin orangnya sedang pergi. Sisanya kosong semua. Jadi, dari 16 bed yang terisi cuma dua, aku dan orang itu. Heran, kok sepi ya padahal penginapannya buat aku cukup nyaman.

Seusai istirahat aku jalan-jalan sore di sekitaran sana. Pergi ke mall. Haha abis bingung mau ke mana buat menghabiskan waktu udah sore gak bisa jauh-jauh. Lalu cari makan malam. Naasnya ketika sampai homestay kacamataku patah kedudukan. Akhirnya aku pergi ke Lawson terdekat untuk beli lem dan cairan softlense, jaga-jaga kalau aku harus pakai softlense karena kacamataku tidak bisa dilem. Aku coba translate ke bahasa Jepang gimana ngomongnya kalau mau beli lem dan cairan softlense, sekalian beli snack buat cemal-cemil.

Day Two

Di hari kedua pagi-pagi aku jalan-jalan di sekitaran Namba, Dotonburi, dan sekitarnya. Aku request ke host aku untuk late check in karena aku mau meninggalkan tas aku sampai jam 3 sore di sana. Dia membolehkan, tapi kehilangan ditanggung sendiri katanya.

Aku naik kereta dari Tonoki Station menuju JR Osaka Station, lalu nyambung naik subway ke Namba. Nah JR sama subway itu beda, harganya juga beda, subway lebih mahal. Padahal seuprit doang jaraknya.

Perjalanan pertama dimulai dengan menyusuri Namba Walk yang kanan kiri banyak toko-toko yang jual macam-macam dari mulai makanan, obat-obatan, kosmetik, hingga pakaian.

Setelah itu aku langsung menuju Dotonburi, melewati lorong Shinsaibashi, Ebinbashisuji, hingga menuju perhentian paling ngehits di Osaka, yaitu Glico Man. Cukup ramai di situ. Orang pada foto-foto. Entahlah mengapa tempat ini ikonik banget. Aku hanya mengamati kehebohan orang-orang yang pada foto-foto di sana. Aku ambil foto juga sih, meski gak ada spot yang bagus buat foto, ya buat check point dan dokumentasi ajalah.

glicoman

Perutku lapar karena tadi pagi cuma makan miso. Jadi aku cemal-cemil dulu beli torikara stick chicken ini. Enak rasanyaaaa. Emang dasarnya makanan apa aja enak sih buat aku, kecuali makanan basi, mihihi.

torikara stick
Rasanya enak, sausnya macam-macam, yang jual ganteng-ganteng unyu :3

Di area Dotonburi aku mampir ke beberapa toko, yang toko kosmetik buat beli cream cheek, H&M buat cari syal karena leher aku kedinginan, toko oleh-oleh buat beli Melty Kiss titipan teman aku, sampai toko perabotan rumah tangga. Namun, ada satu toko yang berkesan banget buat aku, yaitu Lush Homemade Cosmetic.

lush

Semua kosmetik yang ada di Lush itu homemade, bentuknya pun lucu-lucu, mulai dari lipbalm, scrub, masker, sabun, lotion, dan lain-lain. Aku mencoba scrubnya langsung di sana. Mbak-mbaknya mencuci tangan aku, lalu tangan aku discrub. Hasilnya, tara! Tangan aku terlihat lebih cerah! Aku belilah satu scrubnya. Harganya sih sedikit mahal, tapi hasilnya bagus kok jadi worthed banget. Kalau ke Jepang mau ke sini lagi, hihi.

Hari semakin siang dan aku semakin lapar. Setelah makan siang di sekitaran dotonburi aku jalan-jalan lagi bentar. Kemudian makan lagi, beli kue ikan ini. Aduh aku lupa namanya, pokoknya isinya itu kacang merah. Enak hihi. Makan mululah pokoknya agendanya, ahahaha.

kue-ikan
Kepala ikannya udah putus di gigit, lalu muncul kepala penampakah yg entah siapa :p

Jam 3 sore aku balik ke penginapan. Aku istirahat sebentar, lalu jam 4 aku berangkat jemput teman aku di Kansai Airport. Akhirnya, ketemu juga dengan si Rebecca.

Sebelum beranjak dari bandara, kami makan dulu di Goryu, sebuah resto di bandara. Kasihan pula becca belum makan. Kami membayar makan pakai Kansai One Pass, lumayan dapat diskon 10%. Setelah makan baru pulang menuju Toyonaka. Jarak yang cukup jauh yang harus kami tempuh dari bandara, terlebih Rebecca bawa kopernya gak tanggung-tanggung, bisa buat masukin lima bayi -.-‘.

Dari Kansai Airport kami naik JR ke Osaka Station. Dari Osaka Station kami harus transit jalan dari Osaka Station ke Umeda Station untuk naik Hankyu Line ke Hotarugaike Station. Nah loh agak ribet emang. Di sini kami agak bego dikit, maklum udah malam dan ngantuk. Kami bingung jalan yang mengarah ke Umeda Station. Nanya orang Jepang di mana jalur Hankyu Line eh dia malah gak paham. Entah deh itu orang Jepang atau bukan. Bolak balik akhirnya kami naik eskalator, menuju ke atas, menyebrangi skybridge terbuka yang anginnya dingin banget, gotong-gotong koper gede dan ransel aku yang berat. Dan sampailah di Umeda Station.

Di sini kami bego lagi. Kami cari eskalator karena tahu-tahu di depan kami cuma ada tangga biasa. Nah loh ga mungkin gotong koper segede itu naik tangga. Ceritanya mau minta tolong orang untuk gotong kopernya. Eh tahu-tahu ternyata eskalatornya ada di belakang kami. Edan. Untung ga keburu minta tolong orang dulu. Kan malu jadinya.

Meluncurlah kereta kami menuju Hotarugaike Station. Di sana kami dijemput Lucky. Kami sampai di stasiun hotarugaike kira-kira jam 9 malam. Dari stasiun ke apartemen Lucky harus jalan lagi kira-kira 10 menit. Sebetulnya gak jauh. Tapi dinginnya itu aaaak.

Akhirnya sampai pula di apartemen Lucky. Langsunglah kami selonjoran. Ngemilin apa yang ada di kulkas Lucky, lalu kami lanjut goreng cireng yang didatangkan langsung dari Bandung. FYI, Lucky kangen sama cireng, jadi kita bawakan spesial untuk Lucky. Sungguh kenikmatan yang luar biasa di tengah dinginnya musim salju di Jepang.

Leo Palace Apartment
Inilah muka-muka kenyang habis makan cireng di musim dingin

img-20170303-wa0005

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s