Target Hidup

Tuhan membangunkanku dengan cara yang tidak kusuka. Tapi begitulah cara-Nya supaya aku bisa bertemu dengan-Nya malam ini. Tepat pukul dua dini hari sekarang. Tidak ada suara apa pun kecuali detak jam dinding kamarku. Sunyi, gelap, dan sendiri. Malam yang kudus ini rasanya menjadi waktu yang tepat untuk merenung.

Seharian aku kalut. Entah mengapa banyak memori dan hal-hal yang berlintasan di kepalaku dengan permainan emosi. Juga mengenai pencapaian dalam hidup. Juga mengenai bagaimana aku menjalani hidup ke depan. Saat ini aku merasa berada dalam siklus hidup yang tanpa pencapaian apa-apa.

Beberapa waktu lalu aku berbincang dengan seorang temanku bagaimana ia menyebutkan soal naik level dalam hidup. Ia merasa hidupnya begini-begini saja. Harus naik level. Kalau dia caranya dengan menikah. Hmm aku juga sih sebetulnya. Menikah bisa menjadi salah satu cara.

Dulu ketika SMA, aku punya target bisa lulus dan masuk kuliah sesuai dengan jurusan dan universitas yang aku targetkan. Akhirnya itu bisa aku capai. Setelah kuliah aku punya target bisa lulus tepat waktu dan mendapat hasil yang memuaskan. Itu pun bisa aku capai. Juga beberapa pencapaian lain di berbagai aktivitas dan kesibukan aku saat aku masih kuliah, contoh seperti juara internasional marching band. Lalu, semasa kerja aku punya target mendapat pekerjaan yang sesuai dengan passion aku dengan gaji yang semakin lebih baik. Itu semua bisa aku capai. Sekarang aku sudah mencapai semua itu. Lalu? Sekarang apa yang sedang aku capai?

Sekarang aku bekerja sesuai dengan passion yang aku suka, dengan gaji yang bisa mencukupi kebutuhanku sendiri dan bisa menyisihkan untuk memenuhi kebutuhan lain di samping kebutuhan primer. Kehidupanku tercukupi. Sebagian besar orientasinya untuk hidup aku sendiri. Namun, rasanya ada yang salah. Dari sini apa yang aku kejar? Gaji sajakah? Bagaimana soal target hidupku yang lain?

Kerja itu untuk mencari nafkah. Uang bersinggungan langsung dengan kebutuhan primer. Kalau gak kerja gak makan. Ya betul. Tapi kebutuhan primer adalah sesuatu yang memang harus dipenuhi, jadi itu bukan sebuah pencapaian hidup bagi seseorang yang diberi kemudahan untuk memenuhi kebutuhan primernya, seperti aku.

Aku kembali menata target-target hidup aku sejak beberapa waktu lalu. Betul kata temanku, menikah adalah salah satunya karena saat menikah rutinitas yang kita lakukan orientasinya bukan lagi untuk diri sendiri, tapi untuk rumah tangga, apalagi kalau sudah punya anak. Kita lebih punya tujuan untuk apa kesibukan hidup yang tengah kita jalani.

Tapi, apa semua orang di dunia ini menikah? Kenyataannya tidak. Tuhan sudah punya caranya sendiri untuk mengatur hidup ciptaan-Nya. Saking kreatifnya caranya ya beda-beda.

Bagiku hidup itu buat soal menikah atau tidak menikah, tapi apakah kamu punya relationship yang baik atau tidak dengan orang lain. Hidup bukan buat diri sendiri, tapi juga orang lain. Banyak orang akhirnya tidak menikah karena mengurusi orang tuanya yang renta atau sakit. Banyak orang akhirnya tidak menikah karena menjadi tulang punggung keluarga yang kondisi ekonominya pas-pasan. Banyak orang tidak menikah tapi aktif dalam kegiatan sosial atau berkarya, menginspirasi orang. Jadi bukan soal menikahnya, tapi relationshipnya. Ada gunanya atau tidak hidup kita selain buat diri kita sendiri. Nah menikah menjadi salah satu caranya. Jadi,  bangunlah relationship yang baik dengan orang sekitar.

Oke sekarang aku sudah punya target ini dan itu supaya bisa naik level. Namun, sepertinya ada yang aku lupa. Hidup bukan cuma soal mengejar target ini dan itu, tetapi menerima. Aku boleh berusaha untuk meningkatkan kualitas diri, tapi harus tetap menerima setiap keadaan, termasuk menerima kesalahan-kesalahan dan kehilangan-kehilangan yang sama sekali tak bisa aku tolak. Menerima semuanya.

Terlepas dari apa yang telah aku targetkan, aku hanya ingin terus menerima dan belajar dari apa yang tengah aku jalani. Bekerja pada akhirnya ternyata memang bukan cuma perihal cari nafkah, tapi mengumpulkan bekal untuk menaikkan level hidup: belajar lebih peka, merasakan, lebih kritis, lebih toleran, lebih memahami diri sendiri dan orang lain, belajar untuk tidak egois, belajar mencintai. Mungkin klise, tapi semua itu benar.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s