Exploring Kyoto Day One: Dari Gion Hingga Kiyomizudera

Kyoto adalah sebuah kota yang aku dambakan sejak aku merencanakan traveling ke Jepang. Alasannya karena Kyoto menghadirkan nuansa Jepang yang kental. Bangunan-bangunan tradisional Jepang berjajar di sini, ada banyak kuil, bangunan bersejarah, dan para geisha yang kalau beruntung bisa temui di jalan.

Hari ini aku tidak sendirian. Ditemani oleh Rebecca dan Lucky, aku menjelajah Kyoto. Kami naik Hankyu Line dari Hotarugaike Station menuju ke Umeda Station, lalu transit menuju JR Osaka Station dan JR Line menuju Kyoto Station.

kyoto station
Ketemu orang Malaysia yang inisiatif mau fotoin kita, hihi

Saat tiba di Kyoto Station kami membeli Kyoto Bus One Day Pass seharga 500 yen untuk keliling Kyoto seharian. Memang lebih murah jadinya. Harusnya sih memang lebih murah kalau kita touring di Kyoto seharian menggunakan bus. Namun, aku salah perhitungan. Ternyata rute yang aku tempuh lebih banyak jalan kakinya daripada naik bus. Jadi, tiket bus itu cuma aku pakai sekali aja, Hmm malah jadi mahal.

Bus kami mengarah ke Gion Shijo Station. Dari situlah penjelajahan dengan berjalan kaki pun di mulai. Mula-mula kami melewati jembatan yang di bawahnya mengalir Kano River, lalu menyusuri Gion Shirakawa, mampir ke Yasaka Jinja Shrine, Maruyama Park, Yasaka Pagoda, hingga Kiyomizudera.

Bagi kalian yang mau mengikuti ruteku, baiknya tidak naik bus, tetapi langsung saja naik kereta, turun di Kawamarachi Station atau Gion Shijo Station. Selain menghemat biaya juga bisa menghemat waktu.

kyoto day 1 route

Gion Shirakawa

Gion adalah destinasi yang kental dengan suasana tradisional Jepang. Melewati Gion Shirakawa aku disuguhi pemandangan yang menenangkan: deretan rumah-rumah khas Jepang, pepohonan yang khas, perempuan dengan balutan kimono, serta jinrikisha (semacam becak khas Jepang) yang berlalu lalang (yang penariknya selalu ganteng heuheu).

Gion District
Jalan yang  begitu lengang
bu-selvi
Gion Shirakawa yang sepi

Dari Gion kami jalan kaki entah ke mana. Perut kami mulai lapar. Becca dan Lucky sih bisa tahan lapar, sementara aku enggak. Aku akhirnya beli gorengan di pinggir jalan, fried mashed potato cheese dan fried shrimp cheese. Rasanya enak banget.

Kami masih jalan terus hingga terlihatlah Lawson di seberang jalan sana. Rebecca dan Lucky membeli makan di sana. Melihat mereka makan aku jadi mau makan lagi. Akhirnya, aku beli onigiri dan orange yogurt drink di sana 😀

Di seberang Lawson ada Yasaka Jinja Shrine. Kami memutuskan untuk mampir ke sana.

Yasaka Jinja Shrine dan Maruyama Park

yasaka-jinja

Dari pintu masuk kami menyusuri jalan yang luas dan memanjang untuk sampai ke kuilnya. Di jalanan itu aku menjumpai pemain hand pan, sebuah alat musik yang aku idolakan. Biasanya cuma lihat di youtube atau instagram. Sekarang lihat langsung orang ngamen pakai hand pan. Sayang sekali foto dan video rekamannya ada di handphone aku yang hilang, sekarang kenangannya hanya bisa kusimpan di dalam hati saja~ hiks

Setelah mampir melihat kuil, kami meneruskan perjalanan melewati Maruyama Park, sebuah taman yang terdapat sebuah danau kecil di tengah-tengahnya. Pemandangannya indah dan menenangkan.

 

yasaka shrine

Kami berjalan lagi melintasi sebuah jembatan di danau itu. Entahlah tiba-tiba angin jadi lebih kencang dan dingin. Kulihat ada toko es krim. Kami masuk ke dalam. Aku dan Becca membeli matcha ice cream.

Orang jepang gemar makan es krim saat musim dingin. Kami mencobanya. Ternyata makan es krim di suhu 8 derajat itu bukan ide yang baik bagi orang yang baru pertama kali merasakan musim dingin. Enak sih. Tapi es krimnya seolah nggak habis-habis. Sambil jalan ke tempat selanjutnya aku makan terus es krimnya, tapi karena sudah gak tahan dingin akhirnya belum habis es krimnya aku buang hahaha.

kyoto
Menikmati matcha ice cream

Hari sudah masuk waktu zuhur. Aku dan Lucky mencari tempat sepi untuk salat. Karena nggak nemu pojokan yang sepi akhirnya kami salat di dekat parkiran mobil out door. Di situ ada lonceng besar, kami salat di belakang lonceng itu.

Tips buat yang muslim kalau sedang jalan-jalan di Jepang, pandai-pandailah mencari tempat sepi untuk salat. Selalu bawa sajadah atau alas yang bisa digunakan untuk salat. Sebetulnya nggak susah sih asal niat.

Yasaka Pagoda

Selain ada Yasaka Shrine, ada juga Yasaka Pagoda yang perjalanannya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari Yasaka Shrine kira-kira sepuluh sampai lima belas menit.

Saat menuju Yasaka Pagoda, ada deretan rumah khas Jepang, baik itu penginapan, restoran, atau entahlah fungsinya. Kami istirahat sejenak dan foto-foto dulu sebelum meninggalkan Yasaka Pagoda.

Yasaka Pagoda  yasaka pagoda

Kiyomizudera

Dari Yasaka Pagoda kemudian kami mengarah ke Kiyomizu Dera, kuil terbesar di Kyoto. Jalanan menuju Kiyomizu Dera padat dan ramai oleh kendaraan roda empat. Sebagian besar memilih untuk berjalan kaki. Di sepanjang jalan yang menanjak menuju Kiyomizu Dera ada banyak toko yang menjual berbagai makanan dan souvenir. Sesampainya di Kiyomizudera ternyata memang banyak orang berkunjung ke sana.

kiyomizudera1
Sebelum masuk kuil jangan lupa memberikan salam dengan membungkukkan badan. Itu sih yang aku lihat dari beberapa orang yang memasuki kuil. Sisanya tidak ada yang memberi salam. Mungkin mereka turis. Aku sih cuma ingin menghormati budayanya aja.

Di Kiyomizudera aku mencuci tangan dengan “holy water” (kayak wudhu gitu mungkin ya buat orang sana). Aku mendekati tempat orang-orang memanjatkan doa dan membunyikan lonceng, lalu berkeliling dan berfoto.

Kiyomizudera adalah tempat yang bagus untuk sunset. Sayangnya kami tak menunggu hingga matahari terbenam. Sebelum matahari terbenam, aku dan teman-teman pun memutuskan meninggalkan Kiyomizudera.

Perut kami lapar. Sebelum kembali ke Osaka, kami pun jajan di area jalan masuk menuju Kiyomizudera. Ada banyak toko yang menjual aneka makanan serta souvernir yang membuatku tergoda untuk membelinyaaa!

kiyomizudera
Jalan menuju Kiyomizudera yang ramai oleh pengunjung dengan jajaran toko kuliner dan souvenir yang menggoda
1483913943993
(Hampir) sunset di Kiyomizudera

Kembali ke Osaka: Dotonburi

Setelah dari Kiyomizu Dera, kami pulang ke Osaka naik kereta menuju Namba. Kami berencana menghabiskan malam natal di Dotonburi. Jadi, sebetulnya niat awal ke mana-mana naik bus keliling Kyoto itu jadi gak guna sih jatuhnya karena kami kebanyakan jalan kaki.

Sesampai di Dotonburi kulihat tempat ikonik di Osaka itu jauh lebih ramai malam ini. Kemarin aku ke Dotonburi tidak seramai ini. Dan, ada sampah, sedikit sih. Mungkin karena malam natal.

Aku mampir ke H&M membeli syal dan sweater yang sebetulnya nggak penting-penting amat untuk dibeli, tapi karena kemakan harga diskon, pfftt kebiasaan. Tapi berguna juga sih untuk dibeli. Secara aku belum punya persediaan syal cukup tebal untuk di Nagano nanti.

Keluar dari H&M kulihat segerombolan laki-laki yang mengenakan kostum-kostum lucu. Ada yang mengenakan kostum santa, dll. Kuhampiri mereka, lalu minta foto bareng. Mereka pun mengiyakan dengan semangat^^ Setelah seru-seruan foto-foto, aku iseng tanya apa yang ada di kantung besar santa? Apakah itu hadiah? Lalu, si santa mengeluarkan isi kantungnya. Ternyata benar, isinya snack buat hadiah. Kami pun dikasih snack-snack itu sama santa.

2016-12-24     dotonburi

Tak terasa sudah jam setengah sembilan malam. Udara malam semakin dingin, kami sudah nggak tahan. Kami pun segera menghangatkan tubuh di sebuah tempat makan, sembari menyantap makan makan malam. Seusai makan kami barulah kami pulang. Esok harinya kami akan menjelajah Kyoto! Simak ceritaku selanjutnya ya ^^

Advertisements

2 thoughts on “Exploring Kyoto Day One: Dari Gion Hingga Kiyomizudera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s