Exploring Kyoto Day 2 (Arashiyama)

Kali ini agenda jalan-jalan kami adalah menuju ke Arashiyama, sebuah daerah di barat Kyoto yang kenampakan alamnya memiliki daya tarik tersendiri. Lanskap Arashiyama berbentuk perbukitan yang dilalui oleh Katsura River. Selain perbukitan dan Katsura River, daya tarik lain yang dimiliki Arashiyama adalah Arashiyama Bamboo Forest yang cantik serta Iwatayama Monkey Park yang terletak di atas bukit. Selain itu, ada juga beberapa temple dan shrine yang menarik untuk dikunjungi, seperti Tenryuji Temple, Nonnomiya Shrine, dan banyak lagi. Terakhir, jangan sampai melewatkan kesempatan untuk menaiki kereta cantik Sagano Scenic Railway. Saya akan menjelaskan satu-satu beberapa tempat tersebut.

Rute Menjelajah Arashiyama

Rute yang bisa aku rekomendasikan untuk menjelajah Arashiyama adalah dimulai dari menyebrangi Togetsukyo Bridge, menyusuri tepi Katsura River hingga sampai di Arashiyama Park, menuju Arashiyama Bamboo Forest, jalan terus hingga Nonomiya Shrine, melewati Arashiyama Music Box Museum, terakhir sampai di Saga Arashiyama Station untuk naik Sagano Scenic Railway. Ini dia kira-kira rutenya. Sayang sekali aku lupa memakai GPS Tracker. Padahal kalau pakai itu bisa disimpan rutenya.

rute arashiyama

Rute itu aku tempuh full dengan jalan kaki. Kelihatannya jauh ya, tapi ketika dicoba gak terasa jauh kok karena menikmati. Gak terasa capek juga ketika jalan. Capeknya pas udah sampai di apartemen, baru deh selonjoran kaki, tidur pules. Hahaha.

Untuk menuju ke Arashiyama Station, aku bersama Becca dan Lucky naik kereta Hankyu Line dari Hotarugaike Station, transit di Juso Station untuk naik kereta yang ke arah Arashiyama. Yang perlu diingat adalah Arashiyama Station itu ada dua. Yang pertama letaknya tak jauh dari Togetsukyo Bridge. Yang kedua di dekat area bamboo forest. Aku turun di stasiun Arashiyama yang pertama karena rute perjalanan kami akan dimulai dengan menyebrangi Togetsukyo Bridge.

Dari Togetsukyo Bridge Hingga Saga Arashiyama

Sesampainya di Arashiyama Station kami berjalan kaki mengarah ke Togetsukyo Bridge, sebuah jembatan yang menjadi landmark Arashiyama. Dari situlah kita bisa melihat Katsura River. Area di sekitar Togetsukyo Bridge membuat aku nyaman karena suasananya yang tenang. Kami berlama-lama di sekitar Togetsukyo Bridge.

togetsukyo-bridge

img-20170111-wa0054

Setelah menyebrangi Togetsukyo Bridge perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri tepi sungai Katsura hingga sampai di Arashiyama Park. Di sini pemandangannya indah dan tenang. Sebetulnya waktu paling pas untuk mengunjungi Arashiyama adalah saat musim gugur karena daun-daun sedang cantik-cantiknya menguning kemerahan, tapi bersiaplah menjumpai penuh sesak manusia yang seperti mengantre membeli cabe murah di pasar 😀

arashiyama-park

Sampailah kami di Arashiyama Bamboo Forest, sebuah hutan bambu yang ngehits di Arashiyama. Hutan bambu itu tak seindah ekspektasi saya. Indah sih memang, tapi karena ramainya orang yang berkunjung jadi keindahannya berkurang. Malah justru lebih indah di sekitaran Togetsukyo Bridge dan Arashiyama Park tadi suasananya. Tapi it’s okay lah. Masa iya ini orang-orang mau diusirin cuma gara-gara Trio Kwek Kwek (baca: Selvi, Becca, Lucky) mau datang, lol :p

img-20170111-wa0036
Ada penampakan Sadako di samping saya, pfftt -.-

Tak terasa matahari semakin meninggi, tapi suhu udara tetap sama dinginnya. Kyoto itu lebih dingin sedikit dari Osaka. Tapi aku merasa lebih dingin mungkin juga karena coat yang aku pakai tidak aku kancing, ya memang ga bisa dikancing. Aku menggendut :p

Setelah melewati Arashiyama Bamboo Forest, kami terus berjalan. Sejenak kami mampir di Nonomiya Shrine, menengok sejenak di dalamnya. Di sana aku juga ikutan berdoa. Cuci tangan pakai air suci, seperti berwudhu gitu, ke depan tempat doa, melempar koin, berdoa, terus membunyikan lonceng. Kira-kira seperti itu ritualnya.

nonomiya-shrine

Rute selanjutnya aku melewati jalan yang kanan kiri ada cafe modern dan tradisional. Kami istirahat sejenak di depan Arashiyama Music Box Museum, tapi tidak masuk ke dalam, cuma ingin duduk saja. Selanjutnya, tak jauh dari situ ada Saga Arashiyama Station, tujuan kami selanjutnya untuk naik Sagano Scenic Railway.

Sagano Scenic Railway

Sagano Scenic Railway, atau dikenal juga dengan sebutan Sagano Romantic Train adalah sebuah kereta yang melintas di sepanjang jalur tepi sungai Katsura dari Arashiyama sampai di Kameoka. Selama naik kereta tersebut kita dapat menikmati pemandangan sungai dan perbukitan yang cantik.

Untuk menaiki Sagano Scenic Railway, kita harus menuju ke Torokko Saga Station yang letaknya tepat di samping Saga Arashiyama Station. Kayaknya satu bangunan juga deh. Lihat aja peta rute aku di atas untuk lebih jelas. Di stasiun itu kita harus membeli tiketnya. Ada dua tipe tiket, yaitu one way dan round trip.

Petugas tiket menawarkan mau membeli yang one way atau round trip. Kami memilih tiket one way yang berarti kita turun di stasiun terakhir, yaitu Torokko Kameoka Station, gak balik lagi naik Sagano Scenic Train ke Saga Arashiyama, melainkan harus naik JR train dari sana. Harga tiket one way kalau tidak salah 620 yen.

Kami memilih jadwalnya keberangkatan yang pukul setengah dua siang. Kami masih punya waktu kurang lebih sejam untuk makan siang dan duduk-duduk. Sebelum kereta berangkat kami makan udon dulu di stasiun. Rebecca kelabakan karena gak biasa makan pakai sumpit, apalagi mienya kok gede amat dan licin, katanya. Aku mah ngetawain aja, lol 😀

Kereta pun berangkat. Kami pun ketinggalan kereta karena masih makan udon. Ga deng. Hahahaha. Kereta masih bisa kami kejar meski waktunya mepet. Kami sudah di dalam kereta menempati kursi yang telah ditentukan. Dan…. Ini dia keretanya…

sagano-scenic-railway
Photo from http://www.japan-guide.com. Sorry I didn’t take the photo in departure because I was hurried.

Di sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan Katsura River serta perbukitan di kanan kirinya yang cantik 🙂 Maaf foto-foto di sepanjang jalan belum aku back up dari hp aku yang hilang jadi gak bisa ditampilkan di sini… 😦

Setelah kurang lebih setengah jam kereta melaju sampailah kami di stasiun terakhir, yaitu Torokko Kameoka Station.

torokko kameoka station

Untuk naik JR dari sini kami harus jalan kaki kira-kira 10 menit menuju ke JR Umahori Station. Di dalam stasiun kami sebetulnya sudah celingukan melempar pandangan ke luar, kita sama-sama terperangah “Gila ini kita di mana, bener-bener rural area banget. Sawah bukit semua isinya. Pocket WiFi aja ga ada sinyalnya”. Menaiki Sagano Scenic Railway, kami memang dibawa ke sisi ujuuuuung barat Kyoto. Ujung banget pokoknya. Tapi seru juga sih

Sampai di luar stasiun, kami melihat sehamparan sawah yang sudah mengering. Ini kayak di mana ya? Hmmm…  Ah ya, Cianjur! Lol. Wkwkekekekek.

img-20170111-wa0084
Naik kereta dari Kyoto nembus Cianjur! Kereta Jumper!

Di jalan kami ketawa mulu, dari mulai bikin boomerang sampai video yang ga jelas. Setelah 10 menit berjalan sampailah kami di stasiun JR. Stasiunnya sepi. Desa banget. Kusukaaaa.

Fushimi Inari Taisha, Pilar Orange Ikonik

Setelah menempuh sekitar  puluhan menit perjalanan, akhirnya kami sampai lagi di Kyoto Station. Kali ini kami akan mengunjungi Fushimi Inari yang sempat skip dari agenda jalan-jalan kemarin. Dari Kyoto Station kami naik kereta ke stasiun terdekat di Fushimi Inari, lupa nama stasiunnya. Kami sampai di Fushimi Inari sudah sore. Hampir jam setelah 5.

img-20170111-wa0090
Bareng mbak-mbak cantik turis lokal Jepang

Setelah masuk ke dalam aku cari pojokan buat tempat salat dulu. Mojok di belakang kuil salatnya. Becca sama Lucky lagi duduk. Ya beginilah menjadi minoritas. Aku senang sih bisa jalan-jalan ke Jepang karena bisa belajar bagaimana menjadi minoritas, supaya bisa belajar lebih menghargai kaum minoritas dan bagaimana berlaku baik sebagai minoritas.

Setelah itu barulah kami menyusuri lorong yang terdiri dari ratusan pilar-pilar orange ikonik yang ada di film “Memoirs of Geisha”, dalam bahasa Jepang disebutnya torii. Nah, di setiap torii pasti ada tulisan huruf kanji yang aku tak mengerti artinya apa. Tapi menurut sumber yang aku baca sih itu adalah tulisan keterangan nama-nama pemberi donatur dan kapan pilar itu dibangun. Membangun satu pilar aja katanya mahal lho, bisa sampai sejuta yen. Nah berapa coba kalau dirupiahkan, hitung sendiri, kalau ga ada kerjaan :p

fushimi inari

Kami gak banyak dapat foto-foto bagus di lorong itu karena hari mulai gelap. Pengunjung masih aja ada yang berkunjung, meski tidak sepadat siang hari. Enaknya kalau sore itu tidak terlalu ramai di sini. Kami tak sampai ujung menyusuri lorong. Malas juga karena sudah semakin gelap. Akhirnya kami pulang.

Oh iya Becca tadi sempat beli bento di Kyoto Station karena masih lapar. Secara makan udonnya gak kelar. Setelah keluar dari Fushimi Inari Becca cari tempat buat makan bento. Aku yang juga mulai lapar ikut bantuin makan. Tapi ternyata bentonya dingin, kayak baru dikeluarin dari kulkas 😦 Kami kecewa.

Untung di perjalanan dari Fushimi banyak tukang jualan makanan. Jadilah kita jajan, yeay! Dari mulai takoyaki, mochi, hingga kue ikan dibeli. Kenyang? Belum. Di perjalanan pulang menuju stasiun terdekat kami mampir dulu untuk makan.  Kami beli semacam nasi goreng gitu. Nasi goreng yang kurang memuaskan. Tapi ya sudahlah yang penting kenyang aja. Lagi pula di luar dingin banget. Kami gak tahan dan butuh menghangatkan badan di rumah makan ini.

Sebelum pulang ke Osaka Lucky mau mampir beli Pablo, cheese cake yang kayaknya ngehits banget buat orang Indo yang berkunjung ke Jepang. Tapi pas sampai apartement dicicipi rasanya biasa saja. Pfftt.

Sebelum sampai apartement Lucky mengajak aku dan Becca mampir dulu ke supermarket paling dekat dari apartemennya. Udara semakin dingin. Pinginnya cepat sampai apartment tapi kudu mampir ke supermarket dulu buat beli ayam dan bahan makanan lain karena besok pagi kita mau masak opor ayam pakai bumbu indofood yang langsung kubawa dari Indonesia, titipannya Lucky. Nitipnya 15 bungkus ga tanggung-tanggung.

1488598653585
Inilah supermarket penuh kenangan itu, kami kalau belanja ke sini. Ngabisin waktu lama cuma buat beli beberapa bahan makanan karena kami bingung tulisannya bahasa Jepang semua. Dikit-dikit nanya sama petugas toko yang tak jarang penjelasannya tidak menyelesaikan masalah karena dia tak mengerti bahasa Inggris dan kami tak mengerti penjelasan dia yang pakai bahasa Jepang, hahah.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s