Random Trip: Lampung

Jalan-jalan kali ini aku sendirian saja. Tapi nggak apa-apa sih, tetap enjoy dan seru juga. Meski memang lebih enak berdua sih sebetulnya kalau boleh jujur. Ya tapi karena lagi random dan nggak ada ide mau ngajak siapa, alhasil sendirianlah.

Waktu itu lagi libur awal puasa, tapi aku lagi nggak puasa karena datangnya tamu bulanan. Ya sudahlah untuk mengobati ke-random-an ini aku jalan-jalan aja.

Setelah mempertimbangkan beberapa tempat, akhirnya aku memilih Lampung-Palembang sebagai destinasinya. Hari pertama dan kedua aku habiskan di Lampung. Hari ketiganya iseng aja mau coba naik kereta bablas ke Palembang.

Awalnya destinasi yang ingin aku tuju di Lampung itu adalah Pulau Balak sebetulnya. Pulau itu aku temukan pas iseng mainan maps cari-cari pulau kecil di Lampung. Terus aku googling. Pulau Balak adalah pulau tak berpenghuni dengan beberapa spot snorkeling dan diving. Wah kayaknya seru juga nih, pikirku begitu.

Namun, mengingat harus sewa kapal yang lumayan dan agak sulit kalau sendirian, alhasil aku harus ganti tempat. Dua hari sebelum perjalanan ke Lampung aku menemukan tempat yang namanya Pulau Mengkudu dari Google Maps. Langsunglah aku banyak browsing untuk tahu lebih banyak informasi tentang tempat itu.

Pulau Mengkudu adalah pulau tak berpenghuni yang dapat dicapai dengan menyeberang dari pesisir Desa Batu Balak, Kalianda, Lampung Selatan. Aku memilih menyeberang dari Pantai Kahai. Sebetulnya kita bisa menyeberang dari beberapa pantai di sana tapi aku lupa nama pantainya apa saja. Di pantai-pantai itu ada perahu yang disewakan khusus untuk menyeberang. Tarifnya sendiri beragam. Kalau di Pantai Kahai tarifnya Rp25.000 per orang.

Inilah kenapa akhirnya aku pilih Pulau Mengkudu karena hitungan sewa kapalnya bisa per orang. Murahlah jadinya. Aku pun berpikir nantinya aku bisa gabung sama orang lain di kapal.

Dari Pelabuhan Bakauheni aku naik ojek seharga 60 ribu. Kalau kamu pikir itu mahal, kamu salah karena jarak yang ditempuh itu hampir 30km. Jadi wajar segitu kalau naik ojek. Selain ojek gak ada lagi kendaraan umum untuk menuju ke sana. Kalau mau sih ya sewa mobil kalau rame-rame.

Jalan Lintas Sumatra masih terlihat sepi dan gelap. Maklumlah namanya juga masih jam setengah 6 pagi. Setelah kurang lebih setengah jam melintasi Jalan Lintas Sumatra si abang ojek membelokkan motornya menuju jalan kecil yang akhirnya tembus ke jalan sebuah desa. Jalanannya naik turun. Kanan kiri bisa terlihat rumah penduduk dan daerah persawahan yang masih tertutup kabut. Keren kelihatannya. Kemudian, Gunung Rajabasa di sebelah kanan jalan mulai tampak, meski tak begitu jelas.

Setelah 50 menit naik motor, sampailah aku di Pantai Kahai, sebuah pantai yang terletak di Desa Balak, Kalianda, tempat aku nanti akan menyeberang ke Pulau Mengkudu. Waktu menunjukkan pukul 06.20 pagi. Masih tidak ada orang di sini, kecuali seorang laki-laki paruh baya yang menanyakan aku hendak ke mana. Kubilang aku akan menyeberang ke Pulau Mengkudu. Kata si bapak kalau mau nunggu penumpang lain kira-kira pukul 09.00 atau 10.00. Aku pun mengiyakan.

Sambil menunggu waktu yang lumayan panjang aku duduk-duduk menikmati pemandangan Pantai Kahai, sembari duduk di perahu nelayan yang sudah karam, seperti foto di atas. Sepi, tak ada satu orang pun kecuali aku. Langit masih menyisakan warna jingga yang tertutup mendung.

Bosan duduk-duduk, aku pun mencoba masuk ke area resort di Pantai Kahai dengan memanjat dari dermaga dan melintasi pagar besi. Sebetulnya itu bukan jalan yang benar. Yang benar itu ya lewat pintu depan. Tapi muternya jauh dan nanjak. Jadi, ya aku males deh, haha.

Di area resort itu ada arena bermain anak dan beberapa saung yang bisa aku gunakan untuk… Tidur. Yak, tidur! Karena aku ngantuk. Maklum semalam hanya tidurnya di bus dan kapal. Nggak nyenyak pula tidurnya.

Setelah mengelilingi area resort sebentar, aku segera menuju ke salah satu saung yang menghadap ke laut. Terlihat ada kawanan anak pramuka hilir mudik yang sepertinya sedang mengadakan acara di resort itu. Di saung aku segera mengatur posisi paling enak untuk tidur.

Tak terasa satu jam aku tidur. Waktu menunjukkan pukul 09.00. Si bapak yang tadi aku temui di pantai menghampiriku, menanyakan aku jadi nyebrang atau enggak. Dia bilang sampai sekarang tidak ada orang. Akhirnya kita ngobrol-ngobrol sejenak.

Si bapak yang aku lupa namanya lalu bilang kalau aku mau nyeberang bisa saja sendiri, tak perlu menunggu orang lain karena takut kesiangan. Tapi aku harus bayar kapalnya seharga 50 ribu. Aku pikir sih nggak masalah. Masih murah juga kalau dihitung-hitung. Bayangkan 50 ribu untuk pulang pergi dari Pantai Kahai, ke Batu Lapis, ke Pulau Mengkudu, lalu ke Pantai Kahai.

Kita pun bebas mau berapa lama di Pulau Mengkudu, asal jangan kesorean karena ombaknya meninggi. Maklum perahu yang dipakai betul-betul perahu yang kecil, cuma muat 4 orang. Bisa kebayang kan betapa menyeramkannya perahu sekecil itu kalau harus menerjang ombak.

Setelah minum susu dan makan pop mie di warung yang penjualnya adalah istri si bapak sendiri, aku siap-siap untuk naik kapal. Sudah banyak mas-mas nelayan waktu itu. Mereka tak henti-henti bertanya “Neng sendirian? Kok gak ajak teman? Berani sendirian?” Dan aku harus berulang kali jawab pertanyaan itu -.-.

And finally perahuku jalan! Nggak butuh waktu lama untuk aku bisa menepi ke Batu Lapis, cuma 10-15 menit kira-kira. Perahunya menepi di batu itu dibantu dengan seorang laki-laki yang menjaga dan merapatkan perahu ke batu. Hati-hati ya kalau mau naik atau turun perahu di Batu Lapis karena memang batu itu curam. Kalau kita kecebur, langsung ke laut dalam.

Pemandangan yang cukup unik di Batu Lapis. Tak disangka ada seorang anak kecil yang muncul! Entah dari mana! Ajaib! Enggak deng, ternyata itu anaknya si bapak yang jaga Batu Lapis. Anak itu namanya Lisa. Langsung akrab sama aku dan senang banget difoto, hahaha.

Kira-kira satu jam aku leha-leha di Batu Lapis bareng si Lisa. Kemudian aku melanjutkan perjalanan ke Pulau Mengkudu yang hanya berjarak 5-10 menit naik perahu dari Batu Lapis.

Dari kejauhan kulihat ada kapal. Kupikir itu kapal pengunjung lain. Ternyata setelah sampai di pulau, itu cuma kapal karam.

Di pulau itu ada penjaganya, yaitu seorang ibu yang mempunyai warung kecil di pulau. Ada juga seorang mas-mas yang kabarnya juga menyewakan alat snorkeling. Selebihnya, no one here. Cuma kami bertiga.

Aku dipanggil oleh si ibu, disuruh duduk di bale. Kami pun mengobrol. Aku mendengarkan cerita ibu tentang pulauini.

Konon pada tahun 1980-an pulau ini ada banyak pohon mengkudunya. Itulah mengapa dinamakan Pulau Mengkudu. Tapi sekarang udah nggak ada. Kebanyakan pohon bakau. Dulu pun tak ada warung di sini. Karena akhir-akhir ini Pulau Mengkudu mulai dikenal masyarakat sehingga pengunjung berdatangan, barulah si ibu buka warung kecil. Kalau sudah sore, ibu pun pulang.

Pulau Mengkudu ini juga punya pasir timbul sebagai penghubung dengan Pulau Sumatra. Kalau lagi pasang tapi gak kelihatan pasir timbulnya. Jadi, sebetulnya untuk menuju Pulau Mengkudu ini bisa aja dari jalur darat, cuma kabarnya jalurnya agak sulit.

Hari semakin siang. Tak lama kemudian ada sekawanan keluarga kira-kira jumlahnya 7-8 orang sama anak-anak mereka datang ke Pulau Mengkudu. Waduh kesunyianku terusik nih, aku pikir begitu. Tapi ternyata, keluarga itu malah mengajakku untuk makan siang bareng. Mulai deh aku ditanya-tanya dari mana, sama siapa, kok sendirian aja, blablabla. Terlepas dari pertanyaan itu mereka semua baik banget. Aku diajak ngobrol, makan siang bareng. Mereka welcome banget pokoknya.

Kami menikmati makan malam dengan sajian ikan bakar beserta lalap dan sambal khas Lampung (rasanya asam pedas, aku lupa namanya). Rasanya nikmat sekali!

Setelah makan siang aku memutuskan untuk sewa alat snorkeling. Ya lumayan itung-itung pemanasan sebelum ke Wakatobi hahaha. Sebetulnya ada banyak karang dan ikan di sini. Tapi entah ya menurut aku kok airnya kurang jernih. Lagipula di salah satu sisi pantainya ada banyak sampah 😦 Kabarnya itu sampah bawaan dari laut. Jadi, kalau mau snorkeling pilihlah sisi pulau yang nggak ada sampahnya, tapi hati-hati dengan arus ya.

Ikan dan karangnya nggak bagus sih sebetulnya, tapi ya lumayan kalau buat kecipak-kecipak. Sayang aku nggak punya kamera underwater jadi nggak kefoto deh bawah lautnya. Pun kalau difoto juga kurang bagus sih.

Lalu saat aku lagi asyik snorkeling, aku agak menjauh dari si mas pemandu. Asyik aja sendiri sampai tiba-tiba aku lihat terumbu karang langsung menjorok ke dalam. Lautnya kayak langsung dalam gitu. Aku agak panik, hahaha. Untung gak tenggelam atau air lautnya kesedot karena biasanya kalau panik begitu. Secara ini juga gak pakai life jacket. Aku langsung putar balik badan menuju ke bibir pantai. Entahlah itu beneran lautnya dalam atau cuma ilusi semata -.-‘

Kira-kira jam 2 siang aku meninggalkan Pulau Mengkudu, mengucapkan selamat tinggal kepada keluaga yang baik hati itu. Aku kembali ke Pantai Kahai lalu bilasan dan ganti baju. Setelah itu, aku mau melanjutkan perjalanan ke Bandar Lampung.

Karena nggak ada angkutan umum, si bapak yang mengemudikan perahu tadi menawarkan untuk mengantarkan aku naik motor ke Kalianda. Dari Kalianda aku harus naik bus untuk sampai ke Bandar Lampung.

Perjalanan naik motor dari Desa Balak ke Kalianda ternyata jauh juga. Makanya kukasih bapaknya 50rb. Jaraknya hampir sama kayak dari Bakauheni ke Desa Batu Balak. Tapi pemandangannya lebih asyik. Ada saat di mana aku lihat di sebelah kanan ada hamparan sawah luas dengan sapi dan kerbau bertebaran, dengan Gunung Rajabasa yang terlihat dari kejauhan, lalu sebelah kirinya pantai. Indah sekali.

Sampai di Kalianda aku menunggu bus yang tak kunjung datang. Akhirnya aku naik travel yang isinya om-om semua -.- Agak deg-degan juga sih. Tapi mau gimana lagi.

Aku memasuki kota Bandar Lampung ketika azan magrib berkumandang. Sampai di penginapan kira-kira hampir isya. Aku menginap di dekat Terminal Rajabasa. Aku segera mandi, bersih-bersih, aku istirahat.

Hari kedua di Lampung, sebetulnya masih bingung mau ke mana. Rencana mau ke Way Kambas dan beberapa tempat pun akhirnya batal karena aku mager di penginapan, wkwkwkwk. Aku aru check out jam 12 siang. Alhasil cuma keliling kota Bandar Lampung, kulineran, dan numpang mandi (alias body spa) di salon setelah agak dekil main di Pulau Mengkudu. Malam harinya aku siap-siap naik kereta ke Palembang deh. Yeay! Kutaksabar makan pempek! Baca cerita aku selama one day trip di Palembang ya, klik di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s