Kabur Sejenak ke Lampung

Lumayan aku dapat libur 4 hari dari tanggal 25-28 Juni sebagai libur awal puasa. Kebetulan tanggal itu adalah jadwal aku haid sehingga aku berhalangan puasa. Jadi, aku bisa manfaatkan untuk jalan-jalan.

Jalan-jalan kali ini aku lakukan sendirian. Tapi gak apa-apa sih, tetap enjoy dan seru juga. Meski memang lebih enak berdua sih sebetulnya kalau boleh jujur. Ya tapi karena udah kepingin dan ga tau ngajak siapa, alhasil sendirianlah.

Setelah mempertimbangkan beberapa tempat, akhirnya aku memilih Lampung-Palembang sebagai destinasinya. Hari pertama dan kedua aku habiskan di Lampung. Hari ketiganya iseng aja mau coba naik kereta bablas ke Palembang.

Makin ke sini aku makin hobi liatin maps, terus di zoom-in cari pulau-pulau kecil, tempat-tempat yang kayaknya gak biasa, aku zoom terus sampai kelihatan namanya, terus baru deh googling tentang tempat itu.

Awalnya destinasi yang ingin aku tuju di Lampung itu adalah Pulau Balak sebetulnya. Pulau itu aku temukan pas iseng mainan maps cari-cari pulau kecil di Lampung. Terus aku googling. Pulau Balak adalah pulau tak berpenghuni dengan beberapa spot snorkeling dan diving. Wah kayaknya seru juga nih, pikirku begitu.

Namun, mengingat harus sewa kapal yang lumayan dan agak sulit kalau sendirian, alhasil aku harus ganti tempat. Sempat searching tempat di awal-awal perencanaan trip, tapi terus males, pencarian gak diteruskan. Eh tau-tau di sat dua hari sebelum perjalanan ke Lampung aku nemu tempat yang namanya Pulau Mengkudu. Langsunglah aku googling tempat itu.

Pulau Mengkudu adalah pulau tak berpenghuni yang dapat dicapai dengan menyeberang dari pesisir Desa Balak, Kalianda, Lampung Selatan. Saya memilih menyeberang dari Pantai Kahai. Sebetulnya kita bisa menyeberang dari beberapa pantai di sana tapi aku lupa nama pantainya apa saja. Di pantai-pantai itu ada perahu yang disewakan khusus untuk menyeberang. Tarifnya sendiri beragam. Kalau di Pantai Kahai tarifnya Rp25.000 per orang.
Inilah kenapa akhirnya aku pilih Pulau Mengkudu karena hitungan sewa kapalnya bisa per orang. Murahlah jadinya. Aku pun berpikir nantinya aku bisa gabung sama orang lain di kapal. Kalau di Pulau Balak kan kita harus sewa kapalnya gak bisa per orang, tapi ya satu kapal itu.

Dari Pelabuhan Bakauheni aku naik ojek seharga 60 ribu. Kalau kamu pikir itu mahal, kamu salah karena jarak yang ditempuh itu hampir 30km. Jadi wajar segitu kalau naik ojek. Selain ojek gak ada lagi kendaraan umum untuk menuju ke Desa Balak. Kalau mau sih ya sewa mobil kalau rame-rame.

Jalan lintas sumatra masih terlihat sepi dan gelap. Maklumlah namanya juga masih jam setengah 6 pagi. Setelah kurang lebih setengah jam melintasi jalan lintas sumatra si abang gojek membelokkan motornya menuju jalan kecil yang akhirnya tembus ke jalan sebuah desa. Jalanannya naik turun. Kanan kiri bisa terlihat rumah penduduk dan daerah persawahan yang masih tertutup kabut. Keren kelihatannya. Kemudian, Gunung Rajabasa di sebelah kanan jalan mulai tampak, meski tak begitu jelas.

Setelah 50 menit naik motor, sampailah aku di Pantai Kahai, sebuah pantai yang terletak di Desa Balak, Kalianda, tempat aku nanti akan menyeberang ke Pulau Mengkudu. Waktu menunjukkan pukul 06.20 pagi. Masih tidak ada orang di sini, kecuali seorang bapak-bapak paruh baya yang menanyakan aku hendak ke mana. Kubilang aku akan menyeberang ke Pulau Mengkudu. Kata si bapak kalau mau nunggu penumpang lain kira-kira pukul 09.00 atau 10.00. Aku mengiyakan.

Sambil menunggu waktu yang lumayan panjang aku duduk-duduk menikmati keindahan pemandangan Pantai Kahai yang gak indah-indah banget sih sebetulnya. Cuma suka aja sama suasananya yang sepi bersama langit yang masih menyisakan jingga matahari yang belum lama muncul.

Kemudian aku coba masuk ke area resort di Pantai Kahai dengan memanjat dari dermaga, melintasi pagar besi. Soalnya kalau muter lewat depan jauh dan nanjak. Haha. Di sana ada arena bermain anak dan beberapa saung yang bisa aku gunakan untuk… Tidur. Karena aku ngantuk. Maklum semalam tidurnya di bus dan kapal. Kepotong-potong pula tidurnya.

Aku mengelilingi area resort sebentar, lalu segera menuju ke salah satu saung yang menghadap ke laut. Terlihat ada kawanan anak pramuka hilir mudik yang sepertinya sedang mengadakan acara di resort itu. Di saung aku segera mengatur posisi paling enak untuk tidur.

Tak terasa satu jam aku tidur. Waktu menunjukkan pukul 09.00. Si bapak yang tadi aku temui di pantai menghampiriku, menanyakan aku jadi nyebrang atau enggak. Dia bilang sampai sekarang gak ada orang. Akhirnya kita ngobrol-ngobrol sejenak.

Si bapak yang aku lupa namanya lalu bilang kalau aku mau nyeberang bisa aja sendiri gak usah nunggu orang karena takutnya kesiangan. Tapi aku harus bayar kapalnya seharga 50 ribu. Aku pikir sih gak apa-apa. Masih murah juga itungannya karena kapal akan mengantar aku menepi ke Batu Lapis, ke Pulau Mengkudu, lalu jemput aku lagi untuk kembali ke Pantai Kahai. Bebas jam berapa aja asal jangan kesorean takut ombaknya meninggi. Maklum perahu yang dipakai betul-betul perahu yang kecil, cuma muat 4 orang. Jadi serem juga kalau ombaknya besar.

Setelah minum susu dan makan pop mie di warung yang penjualnya adalah istri si bapak sendiri, aku siap-siap untuk naik kapal. Sudah banyak mas-mas nelayan waktu itu. Mereka tak henti-henti bertanya “Neng sendirian? Kok gak ajak teman? Berani sendirian?” Dan aku harus berulang kali jawab pertanyaan itu -.-.

And finally perahuku jalan! Gak butuh waktu lama untuk aku bisa menepi ke Batu Lapis, cuma 10-15 menit kira-kira. Perahunya ditubrukin ke batu itu dibantu dengan seorang laki-laki yang menjaga di Batu Lapis yang memang tugasnya untuk bantu merapatkan perahu ke batu dan bantu awak perahu turun. Hati-hati ya kalau mau naik atau turun perahu di Batu Lapis karena memang itu batu yang curam dan langsung laut dalam. Kalau kecebur berabe.

Pemandangan yang cukup unik di Batu Lapis. Tak disangka ada seorang anak kecil yang muncul! Entah dari mana! Ajaib! Enggak deng, ternyata itu anaknya si bapak yang jaga Batu Lapis. Anak itu namanya Lisa. Langsung akrab sama aku dan senang banget difoto, hahaha.

Kira-kira satu jam aku leha-leha di Batu Lapis bareng si Lisa. Kemudian aku melanjutkan perjalanan ke Pulau Mengkudu yang hanya berjarak 5-10 menit naik perahu dari Batu Lapis.

Dari kejauhan kulihat ada kapal. Oh ternyata ada pengunjung lain toh, pikirku begitu. Tapi ternyata setelah sampai di pulau, itu cuma kapal karam.

Ternyata aku gak sendirian-sendirian banget sih. Ada penjaga pantai di sini, seorang ibu yang sekalian buka warung kecil dan seorang mas-mas yang kabarnya juga menyewakan alat snorkeling. Selebihnya, no one here. Cuma kami bertiga. Aku sempat diajak ngobrol sama si ibu, disuruh duduk di bale.

Konon pada tahun 1980-an pulau ini ada banyak pohon mengkudunya. Itulah mengapa dinamakan Pulau Mengkudu. Tapi sekarang udah gak ada sih. Kebanyakan pohon bakau. Mungkin ada tapi aku sendiri gak tau pohon mengkudu itu kayak apa :p

Pulau mengkudu ini juga punya pasir timbul sebagai penghubung dengan Pulau Sumatra. Kalau lagi pasang tapi gak kelihatan pasir timbulnya. Jadi, sebetulnya untuk menuju Pulau Mengkudu ini bisa aja dari jalur darat, cuma kabarnya jalurnya agak sulit.

Eksplorasi aku di pulau mengkudu gak terlalu sampai ke pelosok banget soalnya takut sendirian. Ntar kalau kenapa-kenapa gak ada yang nolongin. Sementara si bapak sewa kapal tadi udah balik ke Pantai Kahai. Pengen sebetulnya masuk ke dalam rerimbun Pulau Mengkudu paling dalam, hingga naik ke puncak di Pulau Sumatra untuk lihat pemandangan pulau mengkudu dari atas. Tapi sekali lagi aku memikirkan keselamatan dan keamanan sih karena sendirian dan gak tahu medannya. Ya beginilah gak enaknya kalau sendirian.

Tak lama kemudian ada sekawanan keluarga kira-kira jumlahnya 7-8 orang sama anak-anak mereka datang ke Pulau Mengkudu. Waduh kesunyianku terusik nih, aku pikir begitu. Tapi ternyata, keluarga itu malah manggil aku untuj makan siang bareng. Mulai deh aku ditanya-tanya dari mana, sama siapa, kok sendirian aja, blablabla. Terlepas dari pertanyaan itu mereka semua baik banget. Aku diajak ngobrol, makan siang bareng. Lumayan gak ngeluarin duit untuk beli pop mie hehehe.

Setelah makan siang aku memutuskan untuk sewa alat snorkeling. Ya lumayan itung-itung pemanasan sebelum ke Wakatobi hahaha. Sebetulnya ada banyak karang dan ikan di sini. Tapi entah ya menurut aku kok airnya kurang jernih.

Aku mencoba melepas life jacket dan meminjamkannya ke si mbak (lupa namanya) di keluarga itu. Aku biasa berenang di kedalaman 2-3 meter. Tapi entah ya rasanya beda gitu kalau dalamnya kolam sama laut. Aku lebih agak deg-degan kalau di laut. Padahal ya gak dalam-dalam amatlah. Ya memang butuh pembiasaan sih.

Lalu saat aku lagi asyik snorkeling, aku agak menjauh dari si mas pemandu. Asyik aja sendiri sampai tiba-tiba aku lihat terumbu karang langsung menjorok ke dalam. Lautnya kayak langaung dalam gitu. Aku agak panik, hahaha. Untung gak tenggelam atau air lautnya kesedot karena biasanya kalau panik begitu. Secara ini juga gak pakai life jacket. Aku langsung putar balik badan menuju ke bibir pantai. Entahlah itu beneran lautnya dalam atau cuma ilusi, hahaha.

Kira-kira jam 2 siang aku meninggalkan Pulau Mengkudu, say good bye sama keluaga itu, dan kembali ke Pantai Kahai untuk bilasan dan ganti baju, lalu lanjut ke Bandar Lampung.

Karena nggak ada angkutan umum, si bapak yang mengemudikan perahu tadi menawarkan untuk mengantarkan aku naik motor ke Kalianda. Dari Kalianda aku harus naik bus untuk sampai ke Bandar Lampung.

Perjalanan naik motor dari Desa Balak ke Kalianda ternyata jauh juga sob. Makanya kukasih bapaknya 50rb. Jaraknya hampir sama kayak dari Bakauheni ke Desa Balak kira-kira. Tapi pemandangannya lebih asyik. Ada saat di mana aku lihat di sebelah kanan ada hamparan sawah luas dengan sapi dan kerbau bertebaran, dengan Gunung Rajabasa yang terlihat dari kejauhan, lalu sebelah kirinya pantai. Indahnyaa.

Sampai di Kalianda aku nunggu bus kok ya gak kunjung datang. Akhirnya aku naik travel yang isinya om-om semua -.- Agak deg-degan juga sih. Tapi mau gimana lagi.

Aku memasuki kota Bandar Lampung pas ketika azan magrib berkumandang. Sampai di penginapan kira-kira hampir isya. Aku nginap di dekat Terminal Rajabasa. Penginapannya biasa aja sih.

Habis mandi, bersih-bersih, aku istirahat. Besok paginya rencana pengen ke Way Kambas. Tapi kok ya ternyata aku mager. Baru check out jam 12 siang hahaha. Alhasil cuma keliling kota, kulineran, dan numpang mandi (alias body spa) di salon. Malam hatinya aku siap-siap naik kereta ke Palembang deh. Yeay! Kutaksabar makan pempek!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s